Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[7]Teka - Teki dari Tuhan: Adakah setitik pencerahan?

Shift sore telah berakhir,Sally segera melepas jas labnya lalu berlari menuju kamar Revan. Baru saja sampai di depan pintu lab, Dio memanggil Sally karena ia lupa membawa tasnya.
“Sal, tas kamu!” Panggil dio.
Sally menghela napas, lalu berbalik menuju Dio. “Terimakasih,kak.” Ia mengambil tasnya dengan cepat dan berlari lagi.
Dio semakin down melihat orang yang dicintainya sama sekali tidak melihatnya.


            Air mata yang sedari tadi Sally tahan, akhirnya jatuh juga tepat di hadapan Revan yang tengah tertidur. Ia merasa bersalah karena kedepannya ia harus menjaga jarak dengan Revan.
“Van, tadi aku habis dimarahin lho sama bos aku. Dia bilang aku suka mampir ke ruangan kamu, itu artinya aku akan jarang ketemu kamu karena aku lagi diawasi. Padahal aku pengen menghabiskan waktu luang aku sama kamu, melihat perkembangan kamu dan yang lebih lagi aku pengen kamu kasih senyuman pertama kamu buat aku. Tapi, sepertinya udah nggak mungkin lagi.Mungkin kamu akan lebih sering bersama keluarga kamu dan Anna.” Sally curhat sambil menangis.
Sally pergi meninggalkan Revan walaupun itu sangat berat.

“Sally, kamu sudah selesai? kok cuma sebentar?” Anna mengangetkan Sally yang baru saja keluar dari kamar Revan, ekspresi wajahnya seakan sedang meledek Sally.
“Ya.” Sally menjawab dengan singkat, lalu ia berjalan kembali.
Tak lama, ia merubah keputusannya dan menghentikan langkahnya. “Anna, bisa kita bicara sebentar?”

            Di kantin rumah sakit yang mulai menyepi, Sally menyampaikan hal yang berhasil membekukan perasaannya. Ia sadar, peringatan dari Manager personalia untuknya menjadi suatu pertanda bahwa tak seharusnya ia menghancurkan hubungan Revan dan Anna yang sudah terlanjur mereka jalani. Sally akan mundur, meski itu bukan kemauannya.
“Kamu mau bicara apa?” Tanya Anna.
“Bisakah kamu lebih sering menjaga Revan? Aku nggak bisa datang melihatnya seperti sebelumnya. Aku mohon sama kamu, Anna.” Sally memegang tangan Anna sebagai tanda kalau ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Maksudnya, kamu akan benar-benar pergi dari Revan?” Anna tersenyum tipis.
“Iya. Buat Revan memberikan respon pertamanya untuk kamu.”
Sally meninggalkan Anna, ia pulang dan segera melupakan semuanya tentang Revan.
***
Tok tok tok...
Sally mengetuk pintu, tidak biasanya ibu mengunci pintu kalau ia pulang malam.
“Ibu, buka pintunya. Ini Sally.” Sally memanggil-manggil sambil mengetuk pintu dengan suara yang agak keras.
Berkali-kali ia memanggil, ibunya tak kunjung membukakan pintu. Sally mulai lelah, ia duduk di depan pintu sampai akhirnya ia terlelap hingga pagi.

            Sinar matahari pagi menyilaukan mata Sally, membangunkannya dari tidurnya yang tetap lelap meski di depan rumah. Ia mengumpulkan nyawanya dan baru sadar kalau ibu masih belum membukakan pintu.
‘Hmm, aku masih diluar? Kayanya ibu marah,tapi karena apa?’ Sally ngedumel sendiri.
Tak lama ibu membuka pintu, badan yang Sally sandarkan di pintu terdorong ke dalam. Dan Byurrr......Ibu menyiram Sally dengan segayung air. Sally terkejut kenapa ibu melakukan itu.
“Ibu, kenapa ibu menyiram aku? Aku bukan tanaman.” Sally reflek membentak ibunya.
“Jam berapa kamu selesai shift sore?” Ibu mengernyitkan dahi.
“J..jam setengah sepuluh,bu.” Jawab Sally sambil tertunduk.
“Lalu, jam berapa kamu sampai rumah?”
“Jam setengah satu,bu.”
“Tapi aku janji ini yang terakhir kali,bu. Tolong maafkan aku.” Sambung Sally untuk meyakinkan ibunya.
“Kamu sudah berkali-kali pulang telat dan waktu yang seharusnya kamu pakai untuk istirahat dirumah, kamu  buang hanya untuk menjaga orang itu saja.” Ibu bicara panjang lebar, ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
Sally meneteskan air matanya, ia cukup tersinggung dengan ucapan ibunya. Sally memilih masuk ke kamarnya daripada harus berdebat dengan ibunya yang tak pernah ada ujungnya.


‘Kenapa semua meyalahkan aku?! Kenapa mereka nggak pernah mengerti aku?! Aku cuma nggak mau menyesal lagi karena pernah menyianyiakan Revan. Aku ingin selalu ada buat dia disaat kami udah sadar dengan perasaan kami. Dan terlebih lagi, sekarang dia sedang berada di masa yang sulit.’
Sally meluapkan perasaannya dan menangis sampai air matanya habis.

***
            Hari ini adalah hari pertama dimana Revan tidak didampingi Sally dan mulai sekarang Anna yang akan lebih sering bersama Revan. Anna mengajak Revan untuk menghirup udara segar di taman rumah sakit, dengan sabar ia mendorong Revan yang duduk di kursi roda dan tak lelah untuk mengajak Revan untuk mengobrol.
“Anna!” Sapa Mama Revan dari kejauhan.
“Tante!” Anna menoleh dan melambaikan tangannya.
Mama Revan memberi aba-aba pada Anna untuk tetap disana karena ia yang akan berjalan ke taman.
“Tante pasti mencari kami,ya?” ledek Anna
“Hahaha, Tante kaget ketika masuk ke kamar, Revan nggak ada. Untung ada suster yang bilang kalau kalian ada disini.”
“Revan nggak akan diculik seperti di sinetron kok, tante. Tante tenang saja, mulai sekarang Anna akan lebih sering menjaga Revan.”
“Bagus, Anna. Ngomong-ngomong, tumben Sally belum muncul.”
“Hmm, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tan.”

            Sedangkan itu, Sally hanya di rumah saja mengurus pekerjaan rumah. Ia mencoba untuk menjaga jarak dengan Revan. Meski begitu, ia sangat gelisah tidak bisa melihat Revan.
“Sal, ibu bukannya melarang kamu peduli sama orang lain. Ibu cuma merasa kalau orang itu bukan lelaki yang tepat buat kamu.” Ibu datang menghampiri Sally yang sedang mengelap meja ruang tamu.
“Ya, aku mengerti maksud ibu.”Jawab Sally.
“Untuk hidup bersama pendamping, kamu nggak perlu mencari orang yang kamu cintai, yang kamu butuhkan hanya orang yang mencintai kamu. Dengan begitu, kamu nggak banyak sakit hati kalau orang yang kamu cintai membuat kamu kecewa.” Ibu menasihati Sally.
“Lalu, apa gunanya aku punya hati?”
“Sally. Jadi, kamu belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada ibu? Ibu begini karena ayah kamu yang begitu ibu cintai sudah mengkhianati ibu. Ibu nggak mau itu terjadi pada kamu juga.”
“Tapi, Revan nggak seperti ayah, bu. Aku tahu banyak tentang dia.” Sally menekankan suaranya.
“Ibu rasa, nasihat ibu nggak ada artinya buat kamu.” Ibu mulai menyerah dan meninggalkan Sally.

Kring...
Ponsel Sally berbunyi, Sally menunda pekerjaannya dan menoleh pada layar ponselnya.
“Ya, kak. Ada apa menelponku?”
“Hari ini kamu libur, tumben sekali kamu nggak menghabiskan waktu sama Revan.”
“Nggak ada alasan lagi untuk melihat dia, kak.”
“Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Aku cuma titip pesan, kalau Revan udah bisa merespon, kakak bisa hubungi aku.”
“Baiklah, aku tahu kamu nggak mau cerita. Aku akan hubungi kamu kalau ada perkembangan tentang Revan. Kakak tutup telponnya, ya, Sal”
***
“Revan, ayo semangat!” Anna menyemangati Revan yang mau menjalani terapi, Anna memberikan sentuhan di pipi Revan dan senyuman hangat.
Perlahan Revan melakukan terapi untuk berjalan, memang hasilnya belum begitu bagus, ia berkali-kali gagal untuk bisa melanjutkan langkahnya. Tetapi, Anna tetap setia menyemangati Revan.


“Permisi...”
Suara itu membuat Anna terdiam dan menoleh ke arah pintu, wajahnya terlihat bingung dengan seseorang yang baru saja masuk.
“Permisi, kamu Anna, kan?” Dio menebak-nebak.
“Iya, kamu siapa, ya?” tanya Anna.
“Aku Dio, teman kerja Sally. Bagaimana Revan?”
“Ini terapi pertamanya, dia masih kesulitan. Untuk kedepannya, pasti ada kemajuan.”
“Kelihatannya, kamu dekat sama Revan.”
“Aku pacarnya.” Anna menegaskan.
“Sulit dipercaya, aku kira Revan masih single. Aku sering sama Sally, tidak jarang aku lihat dia selalu nunggu Sally tiap pulang kerja.
“Apa?! maksud kamu Revan selingkuh?” Anna terkejut, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Mungkin maksudnya bukan selingkuh, tapi, Revan baru saja menemukan lagi cintanya di masa SMA yang hilang. Sally dan Revan sebenarnya saling cinta, tapi nggak ada salah satu dari mereka yang berani bilang.”
Raut wajah Anna berubah menjadi sangat marah, ia tidak terima pacarnya direbut orang.
“Aku permisi, ya.” Dio pergi dari ruang terapi, dan Anna tak menanggapi.

‘Tidak, semua ini tidak benar. Aku tahu persis Revan itu sangat mencintai aku, kami ini pasangan yang sudah dewasa, tidak seperti Sally, Revan suka dia cuma sebatas cinta monyet saja.’ Anna meyakinkan hatinya.

            Hari terus berganti, Sally tetap pada rutinitasnya tanpa melihat bagaimana kabar Revan. Ia selalu menghindar setiap  tak sengaja bertemu Revan, ia tidak mau menambah beban di hatinya.
Hingga pada akhirnya, Revan ada kemajuan, ia bisa berjalan walaupun belum sempurna.


“Sal, kamu nggak bisa nolak lagi, shift pagi sudah habis dan kamu harus ikut aku.” Dio menarik tangan Sally.
“Kakak mau ajak aku kemana? Aku mau pulang.” Sally menolak meski wajah Dio terlihat kesal.
Dio menghela napas, dia langsung menarik tangan Sally tanpa berkata lagi.
Sally melihat Dio menekan tombol 3 pada lift, firasatnya sudah tidak baik, ia yakin sekali bahwa Dio akan membawanya pada Revan. Tapi, Sally tak protes apapun karena ada banyak orang di dalam lift.

‘Kak Dio menarik tanganku dan memaksa untuk mengikutinya. Tapi, mengapa ia menghentikan langkahnya di depan ruang terapi. Dan firasatku benar, Kak Dio ingin aku untuk melihat Revan. Revan ada disana, di ruang terapi. Aku tak bisa menggerakkan kakiku, aku ingin melarikan diri tetapi sangat sulit, mataku tetap tertuju pada Revan. Ada perasaan bahagia ketika melihat Revan bisa berjalan, tapi, aku sedih kenapa bukan aku yang menemaninya. Aku pikir, biarkanlah air mata ini menjadi saksi dari perasaanku yang sebenarnya.’ Gumam hati Sally, ia masih berdiri di depan pintu ruang terapi.

            Hati Revan tak bisa bohong dan seakan tetap normal tak ada yang berubah, ia menyadari ada orang yang ia cintai berdiri mengamatinya. Kaki Revan perlahan melangkah menuju Sally, Sally mencoba pergi, tetapi, ada tangan Dio yang memegangnya erat.
“Kak, tolong lepaskan tanganku. Usahaku sia-sia kalau pada akhirnya aku melihatnya.” pinta Sally.
“Dan usahaku untuk mempersatukan kalian juga sia-sia kalau pada akhirnya aku melepaskan tanganmu.” Dio menggenggam tangan Sally lebih erat.
Revan semakin dekat, pintu yang menjadi batas mereka telah berhasil ia buka dan kini Sally berada tepat di depannya.
Lagi-lagi Sally tak bisa menahan air matanya, cukup lama mereka bertatapan membuat Anna merasa cemburu dan menghampiri Revan. Anna juga menatap Sally dengan tatapan sinis.
“Re..revan...” Anna memegang badan Revan yang hampir terjatuh. Sally melepas genggaman Dio dan pergi.

            Dio berlari sampai ngos-ngosan mengejar Sally, Akhirnya ia menemukan Sally sedang duduk di bangku taman rumah sakit.
“Kenapa kamu lari? Tadi, Revan mau jatuh.”
“Dia nggak butuh aku, udah ada Anna yang selalu stand by.” jawab Sally dengan ekspresi datar.
“Kata kamu, kamu nggak mau menyesal lagi karena pernah menyia-nyiakan Revan. Tapi, sekarang kamu membiarkan dia setelah hatinya sadar kalau pemiliknya datang. Kamu adalah orang terlabil dari semua yang aku kenal.” Dio sedikit melawak pada nasihatnya.
Sally terdiam sejenak, menyerap kembali apa yang dikatakan Dio. Ia merasa kalau yang dikatakan Dio ada benarnya juga.
“Maksudnya dari ‘hatinya sadar kalau pemiliknya datang’ itu apa?”
“Coba kamu ingat-ingat, meskipun mulutnya belum bisa bicara, tapi, hatinya bisa melakukannya. Hatinya menuntun langkahnya untuk menuju kamu. Masih belum mengerti juga?”
“Wah! Kakak benar-benar jenius,kata- kata kakak bisa menyihir aku.” Sally menepuk punggung Dio, kini pikirannya telah terbuka.
“Jadi?”
“Jadi, aku sebagai pemilik hatinya akan datang untuk menjemputnya. Yeah! Dan aku akan lebih hati-hati kalau melihat Revan, supaya nggak ada yang ngelaporin aku lagi. Hahaha..”

Dio senang melihat Sally menemukan kembali tawanya yang sempat hilang, walaupun bukan ia alasan Sally tertawa lagi. Sedangkan Sally berlari menuju ruang terapi, ia tak ragu untuk melihat perkembangan Revan dari dekat.

Sally telah yakin pada keputusannya untuk tak menyerah dengan Revan? Tapi, bagaimana dengan Anna?

[6]Teka- Teki dari Tuhan: Diterpa kegalauan

Malam telah sirna dihapuskan oleh pagi. Meski begitu, Sally belum bisa merubah kebiasaannya untuk bangun pagi saat dia tidak dapat shift pagi. Ia masih tertidur pulas di ranjang mungilnya.
Ibu masuk ke kamar Sally dengan membawa segayung air. Ini sudah menjadi kebiasaan ibunya ketika Sally bangun kesiangan.
“Ah! Gentingnya bocor!” Sally berbicara setengah sadar setelah mendapatkan cipratan air dari ibunya.
“Diluar banjir, Sal. Sedikit lagi airnya mau masuk ke rumah!” Ibu berbicara berlaga histeris.
Sally segera lompat dari kasurnya dan melihat ke jendela untuk memastikan kalau ucapan ibunya benar.
“Ah! Ibu bohong, dimana ada air?langitnya cerah begini.” Sally menekuk wajahnya dan beranjak ke ranjangnya lagi.
“No no no, jangan tidur lagi, kecuali kamu dapat shift malam. Mandi dan segera turun, ibu punya pudding cokelat.”

Sally pergi ke dapur dan segera menyerbu pudding kesukaannya “Whooaa! Pudding cokelat!”
“Enak kan, baru bangun sudah ada yang segar-segar?” sindir ibu sambil senyum-senyum.

“Oh ya, bu, aku pergi ke rumah sakit sekarang, ya.” Sally mengambil tasnya yang sudah tergeletak di ruang tamu.
“Ya baiklah, tidak ada yang bisa mencegah kamu mengenai teman spesial kamu itu.”

            Walaupun ia tahu Revan belum sadar, ia tetap tidak mau melewatkan waktunya bersama Revan, sekalipun hanya bisa melihat saja. Ia berharap orang pertama yang Revan lihat saat membuka mata adalah dirinya.

“Revan!” Sally membuka pintu kamar rawat Revan.Tubuhnya kaku seakan tak bisa digerakan lagi, matanya berbinar, dan senyum mengembang di bibirnya.
‘Tapi. siapa perempuan yang sedang duduk sambil memegang tangan Revan itu?
Dan yang aku lihat, kenapa dia sebahagia aku?’ Kata hati Sally yang berasumsi sendiri.
“Sal, Revan belum bisa mendengar suara keras. Jadi, tante mohon, kamu tenang, ya.” Pinta Mama Revan.
Sally melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Revan yang masih terbaring.
“Hey, kok sombong banget sih? nggak menyapa aku.” Canda Sally.
‘Revan menatapku dengan pandangan yang berbeda, pandangannya kosong seperti tak mengenal aku. Apa yang terjadi pada Revan? Apa dia hanya lupa pada aku saja?’ Gumam hati Sally.
“Oh iya, tante sampai lupa. Sal, ini Anna. Anna, ini Sally.” Mama Revan mengenalkan keduanya yang masih canggung.
Anna dan Sally berjabat tangan, menyebutkan nama mereka satu sama lain meskipun di dalam hati mereka banyak sekali pertanyaan.
Mama Revan pergi sebentar ke apotek, ini waktu yang tepat untuk Sally bertanya pada Anna tentang apa yang ada di pikirannya.
“Kamu sepertinya orang terdekat Revan, ya?” Tanya Sally dengan hati-hati.
Anna tertunduk dan tersenyum malu “Iya, Revan masih pacarku.”
Sally tercengang sejenak, mencerna kembali apa yang dikatakan Anna. Lalu, Anna kembali menyambung perkataannya yang belum tuntas.
“Lebih tepatnya, aku meminta untuk  break karena aku dapat pekerjaan di Semarang dan aku nggak bisa LDR. Aku terbiasa bersama Revan sewaktu kita masih satu kampus.”
‘Apa ini? Ia tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang hubungannya dengan Revan. Baru mendengar bahwa mereka berpacaran saja, aku sudah muak, apalagi....ah sudahlah!’ dalam hati Sally.
Sally melemparkan sedikit senyumnya pada Anna untuk memastikan kalau ia baik-baik saja. “Ah! Begitu. Kalau begitu kalian bisa bersenang-senang sekarang, karena kalian sudah nggak terpisah lagi.”
“Hmm, kamu sahabatnya Revan?”
“Bukan, aku cuma teman SMAnya yang kebetulan bekerja disini.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika mama Revan masuk, ia tampak senang melihat anaknya sudah sadar meskipun Revan belum ada reflek apapun.
“Tante kira banyak yang menebus obat, ternyata sedikit. Jadi, tante bisa cepat kesini.”
“Revan beruntung,dia punya banyak orang yang khawatir sama dia. Semoga Revan cepat pulih, ya, tan.” Kata Sally dengan ekspresi datar.
“Iya, tante juga banyak terimakasih sama kamu, Sal. Setiap hari kamu merelakan waktu luang  kamu di rumah untuk menjaga Revan.”
“Sama-sama tante” Balas Sally.
“Sal, tante pulang duluan, ya. Nanti sore tante kesini lagi.”
“Aku juga, aku ingin pulang sekarang.” susul Anna, wajahnya cemberut menandakan bahwa ia merasa tidak dibutuhkan lagi untuk Revan.

            Sekarang Sally hanya berdua dengan Revan, ia menatap Revan, menampar pipinya sendiri untuk memastikan kalau yang dilihatnya itu benar-benar mimpi yang telah menjadi kenyataan.
‘Aku senang melihat kamu sudah sadar. Tapi, kamu harus berjuang satu kali lagi untuk memulihkan kondisi kamu. Aku bosan kalau ngomong sendirian kaya gini, kamunya belum bisa merespon. Kamu cepat pulih, ya, Van.’ Sally mengungkapkan isi hatinya. 
            Tiba-tiba dokter dan perawat datang untuk mengecek seberapa besar perkembangan Revan, Sally bangun dari tempat duduknya.
“Selamat siang, dok.” Sally memberi salam.
“Ya, siang. Lho, pasien ini keluarga kamu?” Tanya dokter.
“Bukan, dok. Ini teman SMA saya dan saya dipercaya ibunya untuk menjaga Revan.”
“Oh begitu.” Kemudian dokter memeriksa Revan, Sally hanya melihat saja berharap Revan bisa cepat pulih.
“Bagaimana, dok?” tanya Sally tak sabaran.
“Kondisinya membaik, tapi, respon otaknya butuh waktu yang cukup lama. Kamu sabar saja dan jangan lelah untuk mengajaknya berkomunikasi.” Kata dokter.
Pembicaraan singkat itu berakhir, dokter dan perawat itu keluar meninggalkan ruangan. Sally melihat jam tangannya menunjukkan pukul 13.15, ia panik seketika karena waktu berjalan begitu cepat. Ia harus meninggalkan Revan untuk dinas sore jam 14.00.
“Van, aku dinas dulu, ya. Aku janji, kalau ada waktu luang aku bakal liat kamu. Kamu baik-baik,ya.” Sally membaringkan badan Revan, lalu ia segera pergi dengan menyisakan senyumnya.
***
            Sally masuk ke ruang laboratorium, ada Dio yang masih mengerjakan sampel. Sally tak menyapanya seperti hari kemarin, mereka tampak canggung satu sama lain. Hanya sekilas tatapan saja yang mereka saling berikan.
“Wak Kak Dio strong ya! Dinas pagi sore tapi tetep semangat.” Ucap Dina, salah satu partner
“Kita pulang duluan, ya!” Tambah Fanny.
“Iya, hati-hati dijalan.” Sahut Dio yang kemudian fokus dengan pekerjaanya.

            Sally tambah canggung satu shift dengan Dio, mereka masih tak saling bicara.
Suasana makin hening di lab, akhirnya Dio membuka suara lebih dulu.
“Bagaimana kondisi Revan?” Kata Dio mencairkan suasana.
“Dia sudah sadar, tapi masih seperti orang mati.” Jawab Sally tanpa melihat wajah Dio.
“Dia akan kembali normal, kamu bersabar saja.” Dio menenangkan.
            Pasien demi pasien, sampel demi sampel telah terselesaikan. Hingga akhirnya pasien yang tadinya cukup banyak, sekarang sudah mulai sedikit.
Cling “Sal, tante minta maaf, ya. Tante nggak bisa nemenin Revan makan malam, kamu ada waktu sebentar, kan?” Sally membaca SMS dari mama Revan, kemudian melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.30. Sally segera ke kamar rawat Revan untuk menyuapi makanan.

            Sally membuka pintu kamar rawat Revan, ternyata makan malam untuk Revan sudah tersedia. Dan Revan...masih kosong pandangan matanya.
“Hey, ini waktunya makan malam.” Sally membangunkan badan Revan dan memberikan senyumannya.
‘Revan, makan yang banyak, ya. Aku ingin kamu sehat seperti dulu. Dulu kamu cuma nggak masuk 1x dalam 2 semester, kamu hebat banget.’ Kata hati Sally. Ia menyuapi Revan dengan sabar.

            Tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam kamar, ia memberi tahu bahwa Sally dipanggil oleh bagian personalia. Sally yang sedang menyuapi Revan terpaksa meninggalkannya dan menitipkannya pada perawat itu.
“Revan, aku pergi sebentar, ya. Perawat ini juga sama baiknya kok dengan aku, kamu jangan khawatir.” Sally pergi dengan berat hati.
           
Tok tok tok..
Sally mengetuk pintu ruang personalia, lalu ia masuk dengan rasa penasaran mengapa ia dipanggil.
“Permisi, pak. Kalau boleh tahu, ada apa bapak memanggil saya?” Tanya Sally.
“Ada laporan, kalau kamu sering meninggalkan pekerjaan hanya untuk melihat pasien yang bernama Revan. Apa itu benar?” Manager personalia menginvestigasi dengan wajahnya yang cukup menyeramkan.
“Maaf,Pak Andre. Memang benar seperti itu, tapi, saya tidak lama meninggalkan pekerjaan saya. Itupun ketika pasien di lab sedikit.”

            Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, dan manager mengizinkannya masuk. Sally curiga kepada seorang perawat senior yang sekarang berada di satu ruangan denganya itu.
“Kamu tahu beliau adalah perawat senior disini?” Pak Andre melirik ke arah perawat senior itu.
“Iya, pak saya tahu.” Jawab Sally singkat.
“Ibu Sulis, bisa ibu jelaskan sekali lagi apa yang tadi ibu laporkan kepada saya?”
“Bisa, pak. Saya memperhatikan analis lab ini sering mencuri waktu kerjanya untuk menemani pasien itu. Ia juga sering mengambil kesempatan ketika mengambil sampel ke ruangan, ia mampir dulu ke ruangan pasien yang bernama Revan itu. Meskipun cuma sebentar, tetap saja itu dianggap tidak profesional.” Perawat itu menjelaskan dengan sinis.
‘Ya Tuhan, penjelasan apa yang bisa membuat mereka mengerti? Aku melakukan ini karena aku khawatir dengan orang yang aku sayang. Baiklah, ada baiknya aku tidak memperpanjang masalah ini’ Gumam Sally.
“Untuk kamu Sally, kalau kamu mengulangi kesalahan lagi, saya bisa memecat kamu. Mengerti?” Pak Andre memberi peringatan yang membuat Sally agak shock.
“Saya minta maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Sally menundukan kepalanya.
Pak Andre mempersilakan Sally untuk meninggalkan ruangannya. Sally kembali ke lab untuk melanjutkan pekerjaannya.

***

Akankah tekanan dari pihak rumah sakit membuat Sally menyerah dengan Revan?

[5]Teka - Teki dari Tuhan: Menjaganya sampai kapanpun

Revan berdiri di depan pagar rumah Sally, berharap Sally masih bersedia untuk menemuinya, sedangkan Sally menangis tersedu-sedu mengingat kejadian tadi, seolah tega melihat Revan yang belum beranjak dari tempat ia berpijak sekarang.
Dua minggu setelah kejadian pahit itu, Sally tak pernah mau menemui Revan yang setiap hari menunggunya pulang kerja di rumah sakit, ia lebih memilih pulang bersama Dio yang beberapa hari yang lalu menyatakan cinta padanya. Revan selalu pulang dengan sia-sia dan penyesalannya.
Bagaikan menghilang dari peradaban, Revan absen menunggu Sally seperti apa yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya. Sally merasa kesepian dan tak tahu harus berbuat apa terhadap orang yang tak menganggapnya itu.
            Baru saja ingin melepaskan jas labnya, karena jam kerja sudah habis, tiba-tiba sesuatu yang telah menggemparkan terjadi. Beberapa perawat membawa seorang pasien gawat darurat dan berlumuran darah.
“Sal, ada pasien gawat darurat. Saya mohon bantuanmu, perawat lain sedang sibuk menangani pasien kecelakaan beruntun yang sangat banyak.“ Ucap salah seorang perawat yang sedang panik menghampiri Sally di ruang laboratorium.
“Baiklah, aku segera ke sana.” Sally memakai jas labnya kembali dan berlari menuju pasien gawat darurat.
Kakinya kaku tak bisa digerakan, wajahnya sudah tak bisa didefinisikan, air mata mengalir di pipinya setelah melihat siapa pasien yang sedang terbaring lemah.
“Revan…” Nama itu keluar dari mulut Sally.
“Cepat lakukan sesuatu!” Seorang dokter memerintah dengan suara yang kencang memecahkan pandangan Sally yang tak kuat melihat Revan.
Dengan bercucuran air mata, Sally membersihkan darah Revan yang banyak keluar, pasien gawat darurat karena kecelakaan beruntun yang sangat parah. Tubuhnya bergetar setelah melakukan tugasnya dan lebih memilih menunggu di luar ruangan karena ia sudah tak tak sanggup. Rupanya, keluarga Revan sudah menunggu dengan wajah yang sedih sama sepertinya.
“Bagaimana keadaan Revan, Mbak?”  Ucap seorang ibu sambil menangisi keadaan Revan.
“Dokter sedang menanganinya, bu. Semoga Revan baik-baik saja.” Sally menjawab lesu seperti kehilangan gairah hidup.
“Mbak, kenapa menanggis?” Timpal Mama Revan.
Sally sudah tak kuat menahan tubuhnya yang lemas, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Ibu Revan sambil menangis tak berdaya. Ibu Revan tak mengerti apa yang terjadi dengan Sally mengapa ia bisa menangisi anaknya, ia hanya bisa menenangkan Sally sekarang.
“Benar ini keluarga Revan Aditya?” Seorang dokter yang menangani Revan dari ruang UGD.
“Benar, Saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya, dok?”
“Anak  ibu selamat, tapi….”
“Revan kenapa, dokter?”  Sally menginterupsi pembicaraan dokter.
“Revan mengalami koma.” Dokter menjawab.
Sally dan keluarga Revan menangis tersedu-sedu melihat orang tersayang mereka terbaring tak tahu sampai kapan.
“Sal, jangan menangis seperti itu. Ini sudah waktunya pulang, kamu harus istirahat.” Dio menghampiri Sally.
“Mana mungkin aku bisa pulang sementara Revan…”
“Biar tante yang menjaga Revan, ya. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini.”
***
“Permisi, Tante.” Sally mengetuk pintu kamar inap Revan.
“Iya, silakan masuk.” Mama dan adik Revan menyambut Sally.
“Maaf, Tante, semalam saya tidak sempat memperkenalkan diri. Nama saya Sally, saya teman SMA Revan yang kebetulan bekerja di sini.”
“Ah iya, sepertinya kamu kenal baik anak saya, ya?”
“I..Iya, Tante.” Sally menjawab gugup.
“Oh iya, sepertinya dulu Kak Revan pernah menceritakan Kak Sally ke aku.” Sahut Alya, adik Revan.
“Cerita tentang kakak?” Sally tak percaya.
“Waktu itu Kak Revan jadi berubah total, playlist di handphone-nya lagu korea semua, padahal aku tahu, dia tidak suka itu. Secara tidak  sengaja, dia bilang alasannya karena Kak Sally. Kak Sally juga menyukai lagu korea, kan?”
“Iya, aku suka sekali. Revan juga sering cerita tentang kamu yang suka menonton konser penyanyi korea. “
“Revan juga bilang, kalau tante harus buat bakwan jagung yang enak seperti buatan ibumu, Sal.” Mama Revan menambahkan.
Sally tak kuasa menahan air mata ketika mendengar cerita dari mama dan adiknya Revan. Sementara Revan, masih terbaring koma dan mungkin arwahnya melihat betapa sedihnya Sally saat ini.
“Tante, saya melanjutkan pekerjaan dulu, ya.  Van, jangan koma terlalu lama, kami semua merindukan tawamu. Alya, kakak ke luar duluan,ya.” Sally berpamitan.
***
Setiap hari teman-teman Revan menjenguk Revan yang tak kunjung sadar, Sally hanya bisa melihat diam-diam dari kaca pada pintu kamar, tak ada keberanian di jiwanya untuk menyapa teman-teman SMA-nya yang meremehkannya semasa sekolah.
Sally berjalan melewati beberapa lorong untuk sampai ke pintu keluar rumah sakit, berharap tak ada teman SMA-nya yang melihat keberadaannya.
“Sal, mau pulang?” Mama Revan memanggil Sally.
“Iya, tante.”
“Kok tidak ikut gabung bersama teman-teman Revan di dalam? itu kan juga teman-temanmu.”
“Bisa kita bicara di luar saja, Tan?”
“Baiklah, kebetulan Tante juga ingin pulang.” Mama Revan mengikuti langkah Sally untuk berbicara di kafe ceria yang tak jauh dari rumah sakit.
Sally membuka pintu kafe dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
“Tante, saya sakit hati sama mereka. Saya tidak akan pernah mau menunjukan wajah saya di hadapan mereka.” Sally berbicara to the point.
Ceritakan saja semua keluh kesahmu kepada tante, Sal.”
“Maaf tante, terlalu kekanakan apabila saya menceritakan bad moment itu.”
“Baiklah, tante tidak akan memaksa. Tapi, maukah kamu ke rumah tante sekarang? Tante ingin menunjukan sesuatu yang penting untukmu.”
“Hm, aku mau,Tan.” Sally tersenyum tipis.
Mama Revan melajukan mobil sedan Camry-nya menuju rumah. Selama di perjalanan, tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Sally. Hanya mendengarkan alunan musik klasik dari flashdisk yang ditancapkan Mama Revan untuk membunuh kesunyian.
“Sal, kita sudah sampai.” Mama Revan membuka safety belt dan membuka pintu mobil yang diikuti dengan Sally.
“Rumah tante bagus sekali.” Sally berdecak kagum.
“Ahaha, iya, Sal. Rumah ini warisan dari almarhum papanya Revan.”
“Ma..maaf, Tante. Akun tidak bermaksud untuk menyinggung tante.”
“Tidak apa-apa, Sal. Ayo, ikut tante ke ruang rahasia Revan.”
Sally mengikuti langkah Mama Revan, ruang demi ruang di jelaskan olehnya hingga pada akhirnya Sally berdiri di depan ruang rahasia milik Revan bersama Mama Revan. Mama Revan membuka pintu sehingga Sally bisa melihat isi dari ruangan itu.
“Tante baru kemarin mengetahui ruang ini adalah ruang pribadi Revan. Dia merahasiakan ini dari tante dan Alya, Sal. Revan memang anak yang sangat tertutup.” Ungkap Mama Revan.
“Kalau boleh aku tahu, mengapa tante menunjukan ruangan ini kepadaku? Apa ini semua ada kaitannya denganku?” Ucap Sally.
“Kamu bisa melihat apapun yang ada di ruangan ini, Sal. Semuanya tentang kamu.”
Sally membuka sebuah surat yang tergeletak di atas meja yang tampak  usang.

Apakabar, Sal? Pasti kamu baik-baik saja seperti yang aku lihat dulu.
Maaf kalau aku pernah membuat kamu bimbang karena perlakuanku terhadapmu.
Ketika aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, aku cenderung memberinya banyak perhatian dan berbicara dengan suara yang lembut. Tapi, itu berbalik fakta ketika aku sadar kalau aku jatuh cinta denganmu.
Aku bingung harus memberi perhatian yang seperti apa untukmu, sementara kamu seperti orang yang tidak peka.
aku hanya bisa menjahilimu, mengambil makananmu, dan membuatmu tertawa setelah jam pelajaran matematika yang sangat kau benci itu berakhir. Dengan cara itu aku bisa mendapatkan perhatianmu.
Sal, kenapa kamu tercipta jadi murid yang bodoh? aku agak risih berada dekat denganmu. Maaf, saat itu aku lebih memilih orang lain.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa aku sempat menyukaimu, karena aku akan melenyapkanmu dari memori otakku. Aku anggap kita tak pernah saling kenal.
Tapi, itu semua sangat sulit. Maka, kusimpan semuanya tentangmu di ruangan ini.
Sally, keinginan yang tak tersampaikan.

            Sally tercengang membaca surat yang ditulis Revan,  kenapa ia harus merasa risih kalau ia benar-benar yakin kepada perassannya? Apakah itu tulus?  Pikir Sally.
“Sal, di rak itu, ada DVD yang berisikan video dari Revan untukmu.” Mama Revan memecah haru Sally.
Sally menyetel DVD dan duduk di sofa yang berada di depan TV, bersiap melihat isi dari DVD tersebut.
“Di sana, di dalam video itu, Revan terhanyut dalam pengakuannya. Menyanyikanku lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ setiap tanggal 11 Januari di setiap tahunnya. Menyiapkan kue, lalu ia makan sendiri, dan matanya seperti mengeluarkan air mata.
Kini aku tahu alasanmu menghindariku ketika aku menyapamu di jejaring sosial, tak menganggapku ada ketika kamu bersama teman-temanmu yang populer. Alasannya, karena kamu gengsi pernah mengenal orang bodoh seperti aku.
Di setiap tahun setelah kita berpisah, aku bangkit, Van. Ketika aku mulai menyerah, namamu muncul. Dan di situlah letak semangatku. Hingga pada akhirnya impianku menjadi kenyataan, bertemu kamu dengan sosok Sally yang sekarang, bukan Sally yang selalu diolok-olok karena tak pernah masuk peringkat 15 besar selama SMA.
Tapi, kenapa kamu belum merubah pandanganmu tentangku? kamu masih belum menganggapku orang berguna.” Kata Sally sambil terisak melihat video dari Revan.
***
Sudah tiga bulan Revan belum melewati masa komanya, ia seperti mayat hidup yang terbaring di atas kasur rumah sakit.
Kali ini Revan diharuskan untuk mejalankan serangkaian pemeriksaan laboratorium, Sally segera mengambil jas lab yang digantung di lemari lalu naik ke kamar inap Revan untuk mengambil sample darahnya.
Sepanjang jalan menuju ruangan, ia tak tahan ketika harus melihat Revan terus-terusan seperti ini.
Tok tok tok...
Sally mengetuk pintu kamar inap Revan, ada beberapa teman SMA yang menjenguk Revan. Dan dalah satunya adalah Rama.
“Bagaimana ini? Mereka pasti melihat namaku di name tag jas lab ini.” Sally pasrah.
“Permisi, Revan diambil darahnya dulu, ya..” Kata sally
“Mbak Fanny, pelan-pelan ya ngambil darahnya. Kasihan Si Revan.”
Sally kaget ketika Rama tidak menyebut namanya, ia bau sadar kalau ia salah ambil jas lab, yang ia ambil adalah jas lab rekannya. Sally lega.
***
“Fanny..Fanny, makasi banyak ya! Berkat jas lab kamu aku selamat.” Sally memeluk Fanny yang sedang meng-input hasil.
“Tenang, Sal. Ceritakan pelan-pelan kepadaku.” Balas Fanny.
“Kamu ingat kan, waktu itu aku pernah cerita kalau aku sebel banget sama temennya Revan yang bernama Rama itu?”
“Ya, aku ingat.”
“Tadi dia ada di kamar Revan. Coba saja kalau dia tahu aku, aku malu banget.”
“Ya bagus dong kalau dia tahu. Jadi dia tidak meremehkan kamu lagi.”
“Bukan begitu, Fan. Bagi mereka, aku ini tidak ada apa-apanya, meskipun aku sudah bekerja.” Tunduk Sally, Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari terasa begitu hambar, benar-benar membosankan.
Setiap hari hanya bekerja, pulang, bekerja lagi, dan begitu seterusnya.
Tapi, semenjak hari itu, entah kenapa aku mendapatkan gairah hidup lagi.
Hari dimana aku bertemu kamu lagi setelah sekian lama.
Tapi,Tuhan..kenapa aku hanya boleh mencicipi sedikit kebahagiaan itu?
Sekarang, penyemangat hidupku sedang terbaring koma.
Bahkan, aku harus mencuri waktu kerjaku untuk melihatnya.
Aku harap dia cepat sadar dan bisa kembali tertawa bersamaku. Amin.

Begitulah curahan hati Sally yang ibunya lihat di secarik kertas yang tergeletak di meja kamar Sally. Ibu Sally mengerutkan dahinya tanda penasaran tentang apa yang sedang dialami anaknya.
“Ibu sedang apa di kamarku?” Sally tiba-tiba masuk ke kamarnya dan mengejutkan ibunya.
“Apa maksud dari suratmu ini,Sal? Siapa yang koma?” Ibu bertanya tak tanggung-tanggung.
“Dia adalah orang kedua yang berharga setelah ibu. Dia penyemangatku.”
“Baiklah, ibu mengerti. Tapi, kamu harus mengerti satu hal bahwa mulut lelaki itu tidak bisa dipercaya.”
“Tapi, bagaimana bisa ibu...”
Ibu memotong pembicaraan Sally, lalu pergi meninggalkan kamar Sally. “Fokus saja pada pekerjaanmu.”
Sally menghela napas, menenangkan diri sejenak sambil merenungkan kembali masalahnya. Ia menyadari betul bahwa ibunya masih belum bisa lepas dari rasa trauma yang disebabkan oleh ayahnya. Tapi, kenapa harus ia yang merasakan dampaknya? ia juga ingin merasakan manisnya mencintai dan dicintai seseorang. Itulah yang ada di benak Sally.
            Siang berganti malam, Sally tetap mengurung diri di kamarnya menikmati musik ballad kesukaannya. Tapi, seakan handphone Sally tak bersahabat dengan hatinya yang sedang galau. Dering tanda SMS masuk berbunyi, Sally tidak membukanya dan tetap melanjutkan mendengarkan lagu. 1,2,3 SMS diabaikan, karena ia merasa terganggu, akhirnya SMS yang keempat membuatnya jengkel dan terpaksa membukanya.
SMS pertama:
Dari Dio
Sal, udah lama aku nggak main ke rumah kamu. Jadi, sekarang aku ada di depan rumah kamu. Aku masuk, ya?
20.00

SMS kedua:
Dari Dio
Kamu kok balesnya lama? Aku nggak boleh masuk ya? Yaudah deh, aku tunggu kamu di luar ya.
20.25

SMS ketiga:
Dari Dio
Sal, kamu keluar dong. Aku pengen ngomong sesuatu.
20.50

SMS keempat:
Dari Dio
Aku tunggu sampai kamu keluar,ya. Karena ini penting banget.
21.00

“Astaga! Kak Dio udah satu jam yang lalu nunggu aku diluar! Bagaimana ini?!”
Sally bangun dari tempat tidurnya dan segera melihat lewat jendela kamarnya.
“Hujan! Diluar hujan! Dan kak Dio masih berdiri disana.”
Sally melihat Dio sedang berdiri di depan pagar rumahnya, ia sangat bersalah kepada Dio. Ia terus melihat dari jendela, ingin turun tetapi apa yang ingin dia katakan kalau Dio bertanya serius. Kejadian ini membuat Sally teringat pada kenangan di masa SMA, betapa menyedihkannya ketika ia menunggu Ray di depan rumahnya dalam keadaan yang sama seperti ini. Akhirnya hati Sally terketuk untuk menemui Dio yang sudah basah kuyup.

            Dio tertunduk lesu dan wajahnya memucat, tetapi semua itu sirna ketika ia menyadari bahwa ia berada dibawah satu payung bersama Sally. Sally menatap Dio dengan tatapan bersalah.
“Sal, kamu datang juga.” Dio tersenyum
“Kak, jangan maafkan aku, karena aku udah membiarkan kakak seperti ini. Tolong, lalukan sesuatu yang membuatku jera dengan perbuatanku ini.” Sally memelas.
“Enggak, Sal. Aku yang ada perlu dengan kamu. Jadi, aku harus menunggu sampai bertemu kamu.”
“Kakak mau ngomong tentang apa?”
Dio mengeluarkan satu kotak kecil berisi sebuah cincin, ia tersenyum pada Sally dan berharap Sally akan menerimanya.
“Apa yang kakak lakukan dengan cincin itu?” Sally tak mengerti.
“Memakaikannya di jari manis kamu supaya semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya. Dio meraih tangan Sally, kemudian Sally menarik tangannya.
“Aku mohon kak, jangan bersikap seperti ini terus. Aku nggak pantes dapat perlakuan kaya ini, karena aku belum bisa terima kakak.” Pinta Sally.
“Aku cuma ingin kamu belajar menerima aku. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa.”
Sally benar-benar belum bisa melakukan apa yang diinginkan Dio, hatinya masih ditawan oleh Revan. Lalu, Sally berlutut memohon dengan sangat pada Dio, berharap Dio bisa menghentikan semua ini.
“Aku mohon kak sekali lagi, hentikan semua ini. Aku nggak mau menyesal untuk kedua kalinya karena nggak peka sama perasaan Revan dan aku juga mau menghilangkan rasa gengsiku ini yang sudah membuatku kehilangan orang yang aku sayang.” Air mata Sally turun membasahi pipinya bersama hujan, ia berharap sekali Dio bisa mengerti.
“Tapi, sampai kapan kamu bertahan sama Revan? Kamu lihat sediri dia masih koma, bahkan, sekalipun ia sudah sadar, ia butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan kondisinya.” Dio meyakinkan hati Sally yang sulit untuk digoyahkan.
“Sudahlah, aku masuk ke dalam dulu. Besok aku dinas pagi.” Dio pergi meninggalkan Sally dengan perasaan kecewa.

***

Akankah Dio bisa mencairkan hati Sally? Mungkinkah nantinya Sally akan berpindah ke lain hati?