Seperti
biasa, pagi ini Sally berangkat bekerja ke Jakarta Hospital. Pasien-pasiennya
pasti sudah menunggu. Saly terpikir akan satu hal, “apakah Revan juga seperti
itu?” Sally sudah tak peduli, yang terpenting sekarang hubunganya dengan Revan
sudah membaik dari yang ia kira sebelumnya.
Setelah
berpakaian rapi, Sally bergegas ke meja makan untuk menyantap sarapannya, lalu
berjalan ke halte bus.
“Bu,
besok buat bakwan jagung, yah!” ujar Sally sambil menyantap nasi goreng buatan
ibu.
“Lho,
tumben sekali kamu request ke ibu.”
“Iya,
bu. Aku lagi ngidam bakwan jagung, nih.”
“Iya,
anak ibu yang aneh. Ini bekal kamu.” Ibu mengiyakan pintaku dan memberikan
bekal seperti biasanya.
Sally pamit dengan ibunya dan berjalan menuju
pagar rumah. Senyuman paginya telah terpecahkan ketika dikejutkan
penampakan Revan yang berada di depan
pagar.
“Astaga!”
Sally mengurangi langkahnya ke belakang.
“Kenapa,
kaget, ya? Hahaha.”
“Ya
iyalah, kamu itu ya...Huh, aku kira kamu itu penculik.” Napas Sally terengah –
engah.
“Kamu
tahu kenapa aku di sini?” Revan membuat Sally merasakan teka-tekinya.
“Aku
tahu, kamu ingin mem-bully aku lagi,
kan?” Sally sudah berasumsi sendiri.
“Salah.....”
“Lalu,
apa?” Sally penasaran.
“Ingin
berangkat kerja sama kamu.” Pungkas Revan dengan singkat.
“Apa?
Hahaha. Jangan modus-in aku lagi, deh!” Sally tersenyum ringan.
“Memangnya
aku pernah modusi-in kamu, ya?” Revan
menunjukkan wajah yang menggemaskan.
“Eh?
Sudah,ah. Ayo berangkat!” Sally mengalihkan pembicaraan.
Ini adalah pertama kalinya Sally berangkat bekerja tidak naik bus umum.
Sepertinya, teman-teman Sally di lab juga tak pernah menyangka kalau ia akan
diantar oleh seorang laki-laki yang cukup tampan seperti Revan.
Sebenarnya,
Sally tidak tahu Revan bekerja dimana, yang pasti, dia tidak mungkin bekerja di
perkantoran, karena ia tahu, itu bukan tipe Revan.
“Van,
kamu sebenarnya kerja dimana?” Tanpa
ragu, Sally menanyakannya.
“Aku
bergabung di tim kreatif di salah satu acara di TOP TV.”
“Berarti,
kamu cukup kreatif,ya.” Sally menyimpulkan sendiri dan menganggukkan kepala.
“Haha..kalau
kamu, kok bisa kerja di rumah sakit? Jadi analis pula.”
Sally
mengernyitkan dahi, sepertinya Revan masih menganggap Sally sebagai orang
bodoh. “Maksudmu apa bilang begitu?” Ketus Sally.
“Tidak
ada maksud apa-apa. Hanya heran saja, bagaimana bisa, dulu kamu tidak pernah
masuk 15 besar selama di SMA.”
Kali
ini perkataan Revan benar-benar menusuk, kalau tidak sedang di motor Revan,
Sally akan menamparnya lalu, pergi naik bus. Keadaan menjadi hening, setelah
Sally memilih mengakhiri pembicaraan.
Teman
Sally yang kebetulan sedang melewati taman rumah sakit, melihat Sally turun
dari motor Revan. Tentu saja mereka sudah berasumsi kalau orang yang memboncengi
Sally adalah pacarnya. Sebenarnya,
asumsi mereka hampir benar, lebih tepatnya, Revan adalah pacar Sally yang
tertunda.
“Ciee, sekarang Sally sudah tidak jomblo lagi.” Mbak Ratna menggoda Sally.
Revan menunjukkan wajahnya yang sepertinya tidak terima dengan perkataan senior
Sally itu. Padahal, ia berharap seperti di FTV, Revan akan berkata ‘Benar, dia
adalah pacarku’. “Ya Tuhan, aku sedang berpikir apa.” Sally mengelus dadanya.
“Mbak....”
Pembicaraanku dipotong oleh Mbak Ratna.
“Aku
masuk duluan, ya. Nanti, ganggu kamu yang mau pamit sama pacarnya.” Mbak Ratna
tetawa dan pergi meninggalkan Sally dan Revan.
“Ya
sudah, sana kerja yang benar. Kalau mengambil darah jangan tegang, nanti
pasiennya kesakitan.” Mendengar perkataan Revan, Sally teringat pada peristiwa
ketika Revan menjadi pasiennya. Sepertinya Revan baru saja mengungkapkan
kesakitannya secara tidak langsung
ketika diambil darah oleh Sally.
Sally
hanya membalas dengan menepuk punggung Revan sambil tertawa. Lalu, Revan pergi
secepat kilat.
Sally masuk ke dalam rumah sakit dan menuju
ruang laboratorium. Seperti biasa, Sally selalu menyapa rekan-rekannya meskipun
belum semuanya datang. Tapi, ada sesuatu yang aneh pagi ini, di sana terlihat
seorang laki-laki yang berdiri membelakangi Sally dan Sally merasa tidak asing dengan orang
itu. Ia kembali mengingat-ingat siapa orang itu, setelah berkutat mencari data
identitas orang itu di otaknya, akhirnya ia menemukannya. Dia Dio, senior Sally
sewaktu ia kuliah. Dulu, Sally sempat menyukainya karena Dio cukup populer dan
pintar. Tapi, sekarang Sally tak lebih menganggapnya sebagai kakak saja.
“Oh iya, saya belum memperkenalkan karyawan
baru ini di sini. Namanya Dio, Dio ini seniornya Sally di kampus. Benar, kan,
Sal?” KoorLab Sally Pak Agus memperkenalkan Dio.
“Benar
sekali, Pak. Selamat bergabung dengan kami, ya, Kak.”
Setelah
Pak Agus memperkenalkan Dio, rekan-rekan Sally yang lain berjabat tangan dengan
Dio sebagai simbol perkenalan .
Dio
bukan hanya tampan, ia juga ramah terhadap semua orang. Tak heran bila ia mudah
sekali akrab dengan orang yang baru
dikenalnya.
“Sudah
lama tidak bertemu ya, Kak. tak disangka bisa kerja bersama kakak sekarang.” Sally
tersenyum sumringah dan menyeruput teh buatan seorang OB.
“Iya,
Sal. Jujur, aku kaget lho kamu bisa duluan masuk di sini. Aku sudah lama ingin
kerja di sini.”
“Berarti
impian kakak sekarang sudah terwujud.” Sally memberi Dio tepuk tangan sebagai
tanda penghargaan untuknya,.
Sally dan Dio mengerjakan pekerjaan masing-masing
walau terkadang Dio memberi Sally senyuman semangat. Dio begitu baik pada Sally,
sampai dulu Sally sempat diberi harapan olehnya.
“Fighting, Sal!” Dio menghampiri Sally
dan membisikan kata-kata biusannya.
“Siap,
Kakak!”
Jam sudah menunjukan pukul 2
siang, kini waktunya Sally untuk pulang dan beristirahat. Sally bergegas
merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
“Aku pulang duluan, ya, Kak.” Sally pamit
kepada Dio yang hendak pulang.
“Ayo pulang bersama.” Dio
mengajak pulang Sally yang kesepian. Mereka melalui beberapa lantai hingga
akhirnya sampai di pintu keluar rumah sakit.
“Lho, Van. Kamu sedang apa di
sini?” Sally binggung dengan keberadaan Revan dan motornya yang terpampang
nyata di halaman rumah sakit. Wajah Dio sepertinya juga bingung dengan orang
yang baru dilihatnya itu.
Revan agak terkejut melihat Sally
bersama seorang laki-laki yang sepertinya dikenal baik oleh Sally. Sungguh
berat untuk Revan mengatakan bahwa sebenarnya kedatangannya ke rumah sakit ini
adalah hanya untuk makan siang dengan Sally.
“Mamaku sedang periksa di dalam.”
Revan terpaksa beralasan lain karena gengsi dengan Dio.
Sally yang berpikiran akan Revan
datang untuk menjemputnya, benar-benar memutuskan untuk pulang bersama Dio. “Kalau
begitu, kamu tunggu di dalam saja.”
“Tidak, mamaku sebentar lagi akan
keluar.”
“Baiklah, aku pulang dulu.” Sally
meninggalkan Revan sendiri dan berjalan beriringan bersama Dio.
Sepanjang perjalanan menuju halte
yang sudah tak jauh lagi, Sally hanya
tertunduk memikirkan sesuatu “Revan, padahal aku sangat berharap kamu datang
menjemputku. Hei, Sally, dia bukan ‘siapa-siapamu.’”
“Sal, kamu suka orang tadi?” Dio
memecah lamunan Sally. “Eh? Ti..tidak, kak.” Sally menjawab agak gagap.
“Kak, bus ku sudah datang. Aku
pulang dulu, ya.” Beruntung bus sudah datang, sehingga Sally bisa melarikan
diri dari pertanyaan selanjutnya dari Dio.
“Kak, naik bus ini juga?” Sally kembali
bertemu dengan Dio yang sempat terpisah di dekat halte.
“Tadi baru saja aku ingin bilang
kalau aku pulang satu arah denganmu, kamu sudah pergi saja.” Dio duduk di
sebelah Sally yang duduk di samping jendela.
“Dia menunggumu, dia tidak sedang
menunggu mamanya. Lihatlah di samping jendela, kamu akan melihat sesuatu.” Dio
kembali membicarakan Revan.
Sally terus melihat ke arah
jendela, menanti sesuatu yang dimaksud Dio. Dan ‘Degg’ jantung Sally seketika
berdegup cepat. “mungkinkan ini yang dimaksud ‘sesuatu’ oleh Kak Dio?”
Revan melintas di samping bus
yang Sally naiki. Sally terus melihat Revan yang tak biasanya mengendarai motor
dengan kecepatan sedang, sementara Dio memperhatikan tatapan Sally yang
menurutnya orang yang sedang Sally perhatikan adalah orang yang special di
hatinya.
Sama seperti Sally yang sedang
berasumsi tentang Revan, Revan pun begitu, berasumsi bahwa Sally benar-benar
akan segera menghilang darinya dan sudah memilih orang lain yang jelas juga
memilihnya. “Mengapa sekarang jadi aku yang bersedih untuknya” Revan berkutat
dengan kata hatinya.
Bus Sally dan motor Revan melaju
bersamaan dan pada akhirnya akan
berpisah ke arah yang berbeda.
***
Semenjak
kejadian itu, Revan tak berani menemui Sally yang ia pikir sudah memiliki
kekasih. Sebenarnya, itu benar-benar membuatnya menjadi tak nyaman. Begitu pun
Sally, tidak mendapat kabar dari Revan, hatinya sudah tak tenang meskipun
sekarang ada Dio yang sangat perhatian dengannya layaknya seorang kekasih.Tapi,
itu semua benar-benar berbeda, Sally hanya tertuju pada Revan.
Setiap
hari sepulang bekerja, Revan selalu melihat keadaan Sally dari kejauhan, Sally
juga tak pernah absen pulang bersama Dio kalau sedang dalam shift yang sama. Ingin
sekali Revan menarik Sally dan mengajaknya pulang bersamanya, tapi apadaya,
Sally terlihat bahagia di sana tanpanya.
Cling, “Sal, besok free, kan?”
Terdengar suara SMS masuk di handphone Sally, Sally membuka SMS yang
ternyata itu dari Revan.
“Kak, Revan SMS aku.” Suara Sally
terdengar girang.
“Sudah aku bilang, dia sayang
sama kamu.” Dio tetap bersikap baik walaupun hatinya sebaliknya.
“Kak, kalau dia sayang sama aku,
kenapa tidak sejak dulu dia mengatakannya? Bahkan sampai sekarang tidak ada
konfirmasi darinya.” Sally menjawab lesu.
Aku besok free, Van. Memangnya ada apa?
Sally membalas SMS Revan
tersenyum-senyum sendiri.
Bagaimana kalau besok kita ke taman hiburan? Aku
tunggu di sana, ya.
“Apa? Revan mengajak aku ke taman
hiburan? Apakah ini semacam kencan di hari minggu?” Hati Sally bagaikan
meluncur di pelangi.
Dio membuyarkan pikiran Sally
yang sedang melayang-layang karena halte tujuan Sally telah sampai.
***
Kencan di hari
minggu sebentar lagi akan terjadi, Sally mengenakan dress pink polkadot dengan
bandana yang menghiasi uraian rambut panjangnya.
“Sal, ayo cepat! Kamu sudah di
tunggu.” Ibu Sally memanggil Sally dengan ramah.
Sally berlari dari kamarnya ke
ruang tamu, tak disangka Revan berani menghadapkan wajahnya di depan Ibunya.
“Hei, Van!” Wajah Sally tak
sumringah lagi, rupanya bukan Revan. Tapi, Dio.
“Tadi dia bilang namanya Dio,
Sal.” Ibu kembali menyadarkan Sally.
“Hehe, maaf, kak. Aku kira…”
Sally salah tingkah.
“Revan?” Kali ini Dio tidak bisa
menyembunyikan kekecewaanya.
“Ayo, Kak, kita berangkat
sekarang!” Sally menarik tangan Dio karena merasa tidak enak Dio sudah
terlanjur berada di rumahnya.
“Bu, aku pergi dulu, ya.” Sally
berpamitan dengan ibunya yang terlihat curiga.
Sally
dan Dio berjalan menuju halte bus untuk pergi ke taman hiburan. Ia pikir tak
ada salahnya mengajak Dio untuk bergabung dalam acara yang diadakan Revan,
barangkali Revan bisa berteman baik dengan Dio.
“Sal, kamu ada acara hari ini,
ya, sama Revan?” Dio melayangkan pertanyaannya yang sedari tadi hanya berkutat
di dalam pikiran saja.
“Hm..iya, Kak. Tapi, akan semakin
seru kalau mengajak kakak.” Sally menghibur Dio yang ia yakini sangat kecewa
dengannya.
“Maaf, Sal, kalau aku mengganggu,
aku bisa pulang sekarang.”
“Eh..jangan. Aku akan mengenalkan
kakak dengan Revan.” Sally semakin merasa bersalah.
“Baiklah, sepertinya ia bisa
berteman baik denganku.”
***
Sesampainya
di taman hiburan, Sally mengajak Dio untuk duduk di bangku taman yang pernah ia
duduki bersama Revan. Kali ini Revan datang telat lagi.
“Sal, aku beli ice cream dulu di
sana, ya.”
“Iya, Kak.” Sally tersenyum tipis
kepada Dio
Sudah 10 menit Dio belum kembali,
Sally duduk sambil melihat handphone-nya
yang sepi tanpa ada yang mengirimkannya SMS. Tiba-tiba Revan datang memegang
lengan kiri Sally dari belakang. Sally cukup terkejut dengan sentuhan itu.
“Ini pasti Revan.” Sally bisa
menebak keberadaan Revan tanpa harus memutar kepalanya ke belakang.
“Kali ini kamu pintar.” Revan
mengacak-acak rambut Sally yang sudah tertata rapi.
“Hei!” Sally membalas dengan
pukulan ke Revan.
Dio yang baru saja ingin kembali
dari membeli ice cream, melihat kebersamaan Sally bersama Revan yang tampak
serasi. Ice cream yang ingin ia berikan kepada Sally seakan menjadi saksi
kecemburuannya. Melangkahkan kaki kepada Sally atau pergi meninggalkannya,
kedua kakinya masih belum bergerak. Ia masih kaku menatap Sally.
“Kak
Dio, ini Revan.” Sally berteriak memanggil Dio sambil menunjukan jari
telunjuknya ke Revan.
“Oh, iya, Sal.” Dio menghampiri
Sally dengan langkah yang ragu.
“Kak, ini Revan. Orang paling
menyebalkan sejagad raya.” Sally mengenalkan Dio pada Revan. Dio dan Revan
berjabat tangan tanda perkenalan, walau sebenarnya Revan masih tak terima ada
orang yang mengganggu rencananya untuk berkencan berdua saja bersama Sally.
“Hei, ayo kita ke sana!” Sally
mengajak Revan dan Dio untuk bermain suatu permainan.
“Van, ayo kita bertarung siapa
yang paling banyak meletuskan balon dengan anak panah ini.” Dio mengajak Revan
bertarung.
“Oke!” Revan siap dengan
pertarungannya dan mengambil anak panah, lalu, menancapkannya pada sasaran.
“Ayo semangat! Kak Dio ayo lawan
Revan, Revan ayo lawan Kak Dio!” Sally member semangat yang adil untuk kedua
laki-laki yang ia kenal baik.
Skor Dio dan Revan hanya berbeda
tipis, Dio unggul 2 poin dari Revan. Revan semakin ketar-ketir takut kalah dan
Sally menjadi lebih bangga kepada Dio ketimbang dirinya.
Duarr
Letusan balon dari lemparan anak
panah miliik Dio berbunyi dan tepat dengan waktu yang telah berakhir. Dio
memenangkan pertarungan dan segera mengambil hadiahnya, yaitu sebuah kalung
permata. Sesuai dengan tujuan awalnya, Dio ingin memberikan kalung itu untuk
Sally. Revan hanya memasang wajah kesal karena acaranya benar-benar rusak.
“Hahaha..Revan, kamu kalah.”
Sally menertawakan Revan yang tampak sebal dengan Dio.
“Maaf, ya, Van. Masih ada
pertarungan di lain waktu. Hehe.” Dio menambahkan kata-kata yang menyindir
Revan.
“Hei, lihat saja nanti. Akan aku
balas.” Revan memberikan tawa paksanya.
Kali ini Revan yang cemburu
melihat Dio memakaikan kalung di leher Sally, wajahnya seperti harimau yang
ingin memakan rusa.
Di ujung sana Revan melihat teman
SMA-nya yang juga mengenal Sally, Ia berjalan diam-diam menghampiri Rama dan
Dessy tanpa sepengetahuan Sally dan Dio yang sedang asyik berdua.
“Ram, Des, apakabar? Sudah lama
tidak bertemu.” Revan menyapa Rama dan Dessy yang tampak bahagia.
“Van! Tidak disangka bisa bertemu
di sini. Kabar kita baik, Van.” Rama membalas dengan semangat.
Sally menyadari Revan menghilang
entah kemana, ia pergi mencari Revan yang diikuti oleh Dio di belakangnya. Ternyata
mudah mencari Revan yang berada di kerumunan, orang, Sally melihat Revan
bersama dengan teman lamanya Rama dan Dessy. “Mengapa Revan pergi diam-diam dan
tidak mengajak aku? Bukankah mereka adalah temanku juga?” Pikir Sally.
“Van, pergi ke sini sendirian?” Tanya
Dessy kepada Revan.
“Iya, mau ketemuan sama seseorang
di sini.” Jawab Revan.
Sally menghentikan langkahnya
yang hampir sampai menuju Revan karena mendengar kebohongan dari mulut Revan. “Sal,
ini sudah tak baik. Ayo pulang sekarang.” Dio mengajak Sally pergi karena tak
tega melihat wajah Sally yang memancarkan kekecewaannya pada Revan. “Aku mau
mendengarnya, kak.” Sally menolak walau matanya sudah tak berbinar lagi.
“Jangan bilang orangnya itu
Sally?” Rama melemparkan pertanyaan yang menbuat jantung Revan berdetak.
“Ram, Sally itu siapa? Yang aku
tahu, dia itu orang paling bodoh dan membuat aku ilfeel.” Wajah Revan memerah seketika ketika kebohongan keluar dari
mullutnya.
“Tapi, kamu sempat suka sama dia.”
Ujar Dessy
“Sally Si Otak Kecil” Rama
menambahkan dan tertawa terbahak-bahak.
“Haha, dia tidak lebih dari bahan
olok-olokanku saja.” Revan berkata sambil membuang muka.
Dilihatnya Sally yang sedang
terpaku melihatnya, air matanya mengalir, telinganya ditutup oleh Dio berharap
Sally tak mendengar kata-kata pedas dari Revan. “Sally..” nama itu keluar dari
mulut Revan yang telah berdosa. Rama dan Dessy menyadari keberadaan Sally
setelah melihat mata Revan yang tertuju ke Sally.
“Terimakasih, Van. Aku akan pergi.”
Sally melepaskan tangan Dio yang menutupi telinganya, lalu, pergi meninggalkan
tempat yang menjadi saksi tragedi patah hatinnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar