Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[4]Teka - Teki dari Tuhan: Berujung kekecewaan

Seperti biasa, pagi ini Sally berangkat bekerja ke Jakarta Hospital. Pasien-pasiennya pasti sudah menunggu. Saly terpikir akan satu hal, “apakah Revan juga seperti itu?” Sally sudah tak peduli, yang terpenting sekarang hubunganya dengan Revan sudah membaik dari yang ia kira sebelumnya.
Setelah berpakaian rapi, Sally bergegas ke meja makan untuk menyantap sarapannya, lalu berjalan ke halte bus.
“Bu, besok buat bakwan jagung, yah!” ujar Sally sambil menyantap nasi goreng buatan ibu.
“Lho, tumben sekali kamu request ke ibu.”
“Iya, bu. Aku lagi ngidam bakwan jagung, nih.”
“Iya, anak ibu yang aneh. Ini bekal kamu.” Ibu mengiyakan pintaku dan memberikan bekal seperti biasanya.
Sally pamit dengan ibunya dan berjalan menuju pagar rumah. Senyuman paginya telah terpecahkan ketika dikejutkan penampakan  Revan yang berada di depan pagar.
“Astaga!” Sally mengurangi langkahnya ke belakang.
“Kenapa, kaget, ya? Hahaha.”
“Ya iyalah, kamu itu ya...Huh, aku kira kamu itu penculik.” Napas Sally terengah – engah.
“Kamu tahu kenapa aku di sini?” Revan membuat Sally merasakan teka-tekinya.
“Aku tahu, kamu ingin mem-bully aku lagi, kan?” Sally sudah berasumsi sendiri.
“Salah.....”
“Lalu, apa?” Sally penasaran.
“Ingin berangkat kerja sama kamu.” Pungkas Revan dengan singkat.
“Apa? Hahaha. Jangan modus-in aku lagi, deh!” Sally tersenyum ringan.
“Memangnya aku pernah modusi-in kamu, ya?” Revan menunjukkan wajah yang menggemaskan.
“Eh? Sudah,ah. Ayo berangkat!” Sally mengalihkan pembicaraan.
Ini adalah pertama kalinya  Sally berangkat bekerja tidak naik bus umum. Sepertinya, teman-teman Sally di lab juga tak pernah menyangka kalau ia akan diantar oleh seorang laki-laki yang cukup tampan seperti Revan.
Sebenarnya, Sally tidak tahu Revan bekerja dimana, yang pasti, dia tidak mungkin bekerja di perkantoran, karena ia tahu, itu bukan tipe Revan.
“Van, kamu sebenarnya kerja dimana?”  Tanpa ragu, Sally menanyakannya.
“Aku bergabung di tim kreatif di salah satu acara di TOP TV.”
“Berarti, kamu cukup kreatif,ya.” Sally menyimpulkan sendiri dan menganggukkan kepala.
“Haha..kalau kamu, kok bisa kerja di rumah sakit? Jadi analis pula.”
Sally mengernyitkan dahi, sepertinya Revan masih menganggap Sally sebagai orang bodoh. “Maksudmu apa bilang begitu?” Ketus Sally.
“Tidak ada maksud apa-apa. Hanya heran saja, bagaimana bisa, dulu kamu tidak pernah masuk 15 besar selama di SMA.”
Kali ini perkataan Revan benar-benar menusuk, kalau tidak sedang di motor Revan, Sally akan menamparnya lalu, pergi naik bus. Keadaan menjadi hening, setelah Sally memilih mengakhiri pembicaraan.
Teman Sally yang kebetulan sedang melewati taman rumah sakit, melihat Sally turun dari motor Revan. Tentu saja mereka sudah berasumsi kalau orang yang memboncengi Sally adalah pacarnya.  Sebenarnya, asumsi mereka hampir benar, lebih tepatnya, Revan adalah pacar Sally yang tertunda.
Ciee, sekarang Sally sudah tidak jomblo lagi.” Mbak Ratna menggoda Sally. Revan menunjukkan wajahnya yang sepertinya tidak terima dengan perkataan senior Sally itu. Padahal, ia berharap seperti di FTV, Revan akan berkata ‘Benar, dia adalah pacarku’. “Ya Tuhan, aku sedang berpikir apa.” Sally mengelus dadanya.
“Mbak....” Pembicaraanku dipotong oleh Mbak Ratna.
“Aku masuk duluan, ya. Nanti, ganggu kamu yang mau pamit sama pacarnya.” Mbak Ratna tetawa dan pergi meninggalkan Sally dan Revan.
“Ya sudah, sana kerja yang benar. Kalau mengambil darah jangan tegang, nanti pasiennya kesakitan.” Mendengar perkataan Revan, Sally teringat pada peristiwa ketika Revan menjadi pasiennya. Sepertinya Revan baru saja mengungkapkan kesakitannya  secara tidak langsung ketika diambil darah oleh  Sally.
Sally hanya membalas dengan menepuk punggung Revan sambil tertawa. Lalu, Revan pergi secepat kilat.
Sally masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruang laboratorium. Seperti biasa, Sally selalu menyapa rekan-rekannya meskipun belum semuanya datang. Tapi, ada sesuatu yang aneh pagi ini, di sana terlihat seorang laki-laki yang berdiri membelakangi Sally  dan Sally merasa tidak asing dengan orang itu. Ia kembali mengingat-ingat siapa orang itu, setelah berkutat mencari data identitas orang itu di otaknya, akhirnya ia menemukannya. Dia Dio, senior Sally sewaktu ia kuliah. Dulu, Sally sempat menyukainya karena Dio cukup populer dan pintar. Tapi, sekarang Sally tak lebih menganggapnya sebagai kakak saja.
“Oh iya, saya belum memperkenalkan karyawan baru ini di sini. Namanya Dio, Dio ini seniornya Sally di kampus. Benar, kan, Sal?” KoorLab Sally Pak Agus memperkenalkan Dio.
“Benar sekali, Pak. Selamat bergabung dengan kami, ya, Kak.”
Setelah Pak Agus memperkenalkan Dio, rekan-rekan Sally yang lain berjabat tangan dengan  Dio sebagai simbol perkenalan .
Dio bukan hanya tampan, ia juga ramah terhadap semua orang. Tak heran bila ia mudah sekali akrab dengan orang yang baru  dikenalnya.
“Sudah lama tidak bertemu ya, Kak. tak disangka bisa kerja bersama kakak sekarang.” Sally tersenyum sumringah dan menyeruput teh buatan seorang OB.
“Iya, Sal. Jujur, aku kaget lho kamu bisa duluan masuk di sini. Aku sudah lama ingin kerja di sini.”
“Berarti impian kakak sekarang sudah terwujud.” Sally memberi Dio tepuk tangan sebagai tanda penghargaan untuknya,.
Sally dan Dio mengerjakan pekerjaan masing-masing walau terkadang Dio memberi Sally senyuman semangat. Dio begitu baik pada Sally, sampai dulu Sally sempat diberi harapan olehnya.
Fighting, Sal!” Dio menghampiri Sally dan membisikan kata-kata biusannya.
“Siap, Kakak!”
Jam sudah menunjukan pukul 2 siang, kini waktunya Sally untuk pulang dan beristirahat. Sally bergegas merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
 “Aku pulang duluan, ya, Kak.” Sally pamit kepada Dio yang hendak pulang.
“Ayo pulang bersama.” Dio mengajak pulang Sally yang kesepian. Mereka melalui beberapa lantai hingga akhirnya sampai di pintu keluar rumah sakit.
“Lho, Van. Kamu sedang apa di sini?” Sally binggung dengan keberadaan Revan dan motornya yang terpampang nyata di halaman rumah sakit. Wajah Dio sepertinya juga bingung dengan orang yang baru dilihatnya itu.
Revan agak terkejut melihat Sally bersama seorang laki-laki yang sepertinya dikenal baik oleh Sally. Sungguh berat untuk Revan mengatakan bahwa sebenarnya kedatangannya ke rumah sakit ini adalah hanya untuk makan siang dengan Sally.
“Mamaku sedang periksa di dalam.” Revan terpaksa beralasan lain karena gengsi dengan Dio.
Sally yang berpikiran akan Revan datang untuk menjemputnya, benar-benar memutuskan untuk pulang bersama Dio. “Kalau begitu, kamu tunggu di dalam saja.”
“Tidak, mamaku sebentar lagi akan keluar.”
“Baiklah, aku pulang dulu.” Sally meninggalkan Revan sendiri dan berjalan beriringan bersama Dio.
Sepanjang perjalanan menuju halte yang sudah  tak jauh lagi, Sally hanya tertunduk memikirkan sesuatu “Revan, padahal aku sangat berharap kamu datang menjemputku. Hei, Sally, dia bukan ‘siapa-siapamu.’”
“Sal, kamu suka orang tadi?” Dio memecah lamunan Sally. “Eh? Ti..tidak, kak.” Sally menjawab agak gagap.
“Kak, bus ku sudah datang. Aku pulang dulu, ya.” Beruntung bus sudah datang, sehingga Sally bisa melarikan diri dari pertanyaan selanjutnya dari Dio.
 “Kak, naik bus ini juga?” Sally kembali bertemu dengan Dio yang sempat terpisah di dekat halte.
“Tadi baru saja aku ingin bilang kalau aku pulang satu arah denganmu, kamu sudah pergi saja.” Dio duduk di sebelah Sally yang duduk di samping jendela.
“Dia menunggumu, dia tidak sedang menunggu mamanya. Lihatlah di samping jendela, kamu akan melihat sesuatu.” Dio kembali membicarakan Revan.
Sally terus melihat ke arah jendela, menanti sesuatu yang dimaksud Dio. Dan ‘Degg’ jantung Sally seketika berdegup cepat. “mungkinkan ini yang dimaksud ‘sesuatu’ oleh Kak Dio?”
Revan melintas di samping bus yang Sally naiki. Sally terus melihat Revan yang tak biasanya mengendarai motor dengan kecepatan sedang, sementara Dio memperhatikan tatapan Sally yang menurutnya orang yang sedang Sally perhatikan adalah orang yang special di hatinya.
Sama seperti Sally yang sedang berasumsi tentang Revan, Revan pun begitu, berasumsi bahwa Sally benar-benar akan segera menghilang darinya dan sudah memilih orang lain yang jelas juga memilihnya. “Mengapa sekarang jadi aku yang bersedih untuknya” Revan berkutat dengan kata hatinya.
Bus Sally dan motor Revan melaju bersamaan dan  pada akhirnya akan berpisah ke arah yang berbeda.
***
            Semenjak kejadian itu, Revan tak berani menemui Sally yang ia pikir sudah memiliki kekasih. Sebenarnya, itu benar-benar membuatnya menjadi tak nyaman. Begitu pun Sally, tidak mendapat kabar dari Revan, hatinya sudah tak tenang meskipun sekarang ada Dio yang sangat perhatian dengannya layaknya seorang kekasih.Tapi, itu semua benar-benar berbeda, Sally hanya tertuju pada Revan.
            Setiap hari sepulang bekerja, Revan selalu melihat keadaan Sally dari kejauhan, Sally juga tak pernah absen pulang bersama Dio kalau sedang dalam shift yang sama. Ingin sekali Revan menarik Sally dan mengajaknya pulang bersamanya, tapi apadaya, Sally terlihat bahagia di sana tanpanya.
Cling, “Sal, besok free, kan?”
Terdengar suara SMS masuk di handphone Sally, Sally membuka SMS yang ternyata itu dari Revan.
“Kak, Revan SMS aku.” Suara Sally terdengar girang.
“Sudah aku bilang, dia sayang sama kamu.” Dio tetap bersikap baik walaupun hatinya sebaliknya.
“Kak, kalau dia sayang sama aku, kenapa tidak sejak dulu dia mengatakannya? Bahkan sampai sekarang tidak ada konfirmasi darinya.” Sally menjawab lesu.
            Aku besok free, Van. Memangnya ada apa?
Sally membalas SMS Revan tersenyum-senyum sendiri.
Bagaimana kalau besok kita ke taman hiburan? Aku tunggu di sana, ya.
“Apa? Revan mengajak aku ke taman hiburan? Apakah ini semacam kencan di hari minggu?” Hati Sally bagaikan meluncur di pelangi.
Dio membuyarkan pikiran Sally yang sedang melayang-layang karena halte tujuan Sally telah sampai.
***
Kencan di hari minggu sebentar lagi akan terjadi, Sally mengenakan dress pink polkadot dengan bandana yang menghiasi uraian rambut panjangnya.
“Sal, ayo cepat! Kamu sudah di tunggu.” Ibu Sally memanggil Sally dengan ramah.
Sally berlari dari kamarnya ke ruang tamu, tak disangka Revan berani menghadapkan wajahnya di depan Ibunya.
“Hei, Van!” Wajah Sally tak sumringah lagi, rupanya bukan Revan. Tapi, Dio.
“Tadi dia bilang namanya Dio, Sal.” Ibu kembali menyadarkan Sally.
“Hehe, maaf, kak. Aku kira…” Sally salah tingkah.
“Revan?” Kali ini Dio tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya.
“Ayo, Kak, kita berangkat sekarang!” Sally menarik tangan Dio karena merasa tidak enak Dio sudah terlanjur berada di rumahnya.
“Bu, aku pergi dulu, ya.” Sally berpamitan dengan ibunya yang terlihat curiga.
            Sally dan Dio berjalan menuju halte bus untuk pergi ke taman hiburan. Ia pikir tak ada salahnya mengajak Dio untuk bergabung dalam acara yang diadakan Revan, barangkali Revan bisa berteman baik dengan Dio.
“Sal, kamu ada acara hari ini, ya, sama Revan?” Dio melayangkan pertanyaannya yang sedari tadi hanya berkutat di dalam pikiran saja.
“Hm..iya, Kak. Tapi, akan semakin seru kalau mengajak kakak.” Sally menghibur Dio yang ia yakini sangat kecewa dengannya.
“Maaf, Sal, kalau aku mengganggu, aku bisa pulang sekarang.”
“Eh..jangan. Aku akan mengenalkan kakak dengan Revan.” Sally semakin merasa bersalah.
“Baiklah, sepertinya ia bisa berteman baik denganku.”
***
            Sesampainya di taman hiburan, Sally mengajak Dio untuk duduk di bangku taman yang pernah ia duduki bersama Revan. Kali ini Revan datang telat lagi.
“Sal, aku beli ice cream dulu di sana, ya.”
“Iya, Kak.” Sally tersenyum tipis kepada Dio
Sudah 10 menit Dio belum kembali, Sally duduk sambil melihat handphone-nya yang sepi tanpa ada yang mengirimkannya SMS. Tiba-tiba Revan datang memegang lengan kiri Sally dari belakang. Sally cukup terkejut dengan sentuhan itu.
“Ini pasti Revan.” Sally bisa menebak keberadaan Revan tanpa harus memutar kepalanya ke belakang.
“Kali ini kamu pintar.” Revan mengacak-acak rambut Sally yang sudah tertata rapi.
“Hei!” Sally membalas dengan pukulan ke Revan.
Dio yang baru saja ingin kembali dari membeli ice cream, melihat kebersamaan Sally bersama Revan yang tampak serasi. Ice cream yang ingin ia berikan kepada Sally seakan menjadi saksi kecemburuannya. Melangkahkan kaki kepada Sally atau pergi meninggalkannya, kedua kakinya masih belum bergerak. Ia masih kaku menatap Sally.
            “Kak Dio, ini Revan.” Sally berteriak memanggil Dio sambil menunjukan jari telunjuknya ke Revan.
“Oh, iya, Sal.” Dio menghampiri Sally dengan langkah yang ragu.
“Kak, ini Revan. Orang paling menyebalkan sejagad raya.” Sally mengenalkan Dio pada Revan. Dio dan Revan berjabat tangan tanda perkenalan, walau sebenarnya Revan masih tak terima ada orang yang mengganggu rencananya untuk berkencan berdua saja bersama Sally.
“Hei, ayo kita ke sana!” Sally mengajak Revan dan Dio untuk bermain suatu permainan.
“Van, ayo kita bertarung siapa yang paling banyak meletuskan balon dengan anak panah ini.” Dio mengajak Revan bertarung.
“Oke!” Revan siap dengan pertarungannya dan mengambil anak panah, lalu, menancapkannya pada sasaran.
“Ayo semangat! Kak Dio ayo lawan Revan, Revan ayo lawan Kak Dio!” Sally member semangat yang adil untuk kedua laki-laki yang ia kenal baik.
Skor Dio dan Revan hanya berbeda tipis, Dio unggul 2 poin dari Revan. Revan semakin ketar-ketir takut kalah dan Sally menjadi lebih bangga kepada Dio ketimbang dirinya.
Duarr
Letusan balon dari lemparan anak panah miliik Dio berbunyi dan tepat dengan waktu yang telah berakhir. Dio memenangkan pertarungan dan segera mengambil hadiahnya, yaitu sebuah kalung permata. Sesuai dengan tujuan awalnya, Dio ingin memberikan kalung itu untuk Sally. Revan hanya memasang wajah kesal karena acaranya benar-benar rusak.
“Hahaha..Revan, kamu kalah.” Sally menertawakan Revan yang tampak sebal dengan Dio.
“Maaf, ya, Van. Masih ada pertarungan di lain waktu. Hehe.” Dio menambahkan kata-kata yang menyindir Revan.
“Hei, lihat saja nanti. Akan aku balas.” Revan memberikan tawa paksanya.
Kali ini Revan yang cemburu melihat Dio memakaikan kalung di leher Sally, wajahnya seperti harimau yang ingin memakan rusa.
Di ujung sana Revan melihat teman SMA-nya yang juga mengenal Sally, Ia berjalan diam-diam menghampiri Rama dan Dessy tanpa sepengetahuan Sally dan Dio yang sedang asyik berdua.
“Ram, Des, apakabar? Sudah lama tidak bertemu.” Revan menyapa Rama dan Dessy yang tampak bahagia.
“Van! Tidak disangka bisa bertemu di sini. Kabar kita baik, Van.” Rama membalas dengan semangat.
Sally menyadari Revan menghilang entah kemana, ia pergi mencari Revan yang diikuti oleh Dio di belakangnya. Ternyata mudah mencari Revan yang berada di kerumunan, orang, Sally melihat Revan bersama dengan teman lamanya Rama dan Dessy. “Mengapa Revan pergi diam-diam dan tidak mengajak aku? Bukankah mereka adalah temanku juga?” Pikir Sally.
“Van, pergi ke sini sendirian?” Tanya Dessy kepada Revan.
“Iya, mau ketemuan sama seseorang di sini.” Jawab Revan.
Sally menghentikan langkahnya yang hampir sampai menuju Revan karena mendengar kebohongan dari mulut Revan. “Sal, ini sudah tak baik. Ayo pulang sekarang.” Dio mengajak Sally pergi karena tak tega melihat wajah Sally yang memancarkan kekecewaannya pada Revan. “Aku mau mendengarnya, kak.” Sally menolak walau matanya sudah tak berbinar lagi.
“Jangan bilang orangnya itu Sally?” Rama melemparkan pertanyaan yang menbuat jantung Revan berdetak.
“Ram, Sally itu siapa? Yang aku tahu, dia itu orang paling bodoh dan membuat aku ilfeel.” Wajah Revan memerah seketika ketika kebohongan keluar dari mullutnya.
“Tapi, kamu sempat suka sama dia.” Ujar Dessy
“Sally Si Otak Kecil” Rama menambahkan dan tertawa terbahak-bahak.
“Haha, dia tidak lebih dari bahan olok-olokanku saja.” Revan berkata sambil membuang muka.
Dilihatnya Sally yang sedang terpaku melihatnya, air matanya mengalir, telinganya ditutup oleh Dio berharap Sally tak mendengar kata-kata pedas dari Revan. “Sally..” nama itu keluar dari mulut Revan yang telah berdosa. Rama dan Dessy menyadari keberadaan Sally setelah melihat mata Revan yang tertuju ke Sally.
“Terimakasih, Van. Aku akan pergi.” Sally melepaskan tangan Dio yang menutupi telinganya, lalu, pergi meninggalkan tempat yang menjadi saksi tragedi patah hatinnya.

***

Sally sudah terlanjur kecewa dengan Revan, apa yang akan dilakukan Revan selanjutnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar