Matahari kembali menyambut pagi, tentu saja
pagi ini sangat cerah. Burung-burung di pohon di depan halaman rumah Revan juga
kian berkicau, sama seperti mama Revan yang selalu berkicau untuk membangunkannya.
Sejak dulu hingga sekarang Revan memang sulit sekali untuk bangun pagi meskipun
alarm handphone-nya terus berdering.
“Revan,
ayo bangun! Sudah besar masih saja bangun siang.” Mama Revan membuka pintu dan
jendela kamar Revan.
“Hmmm..masih
ngantuk.” Revan memberi jawaban dengan suara yang terdengar masih mengantuk.
“Ma, justru aku sudah besar, biarkan aku bebas
sedikit. Please...” Revan terbangun
karena ia rasa sudah tak seharusnya mama bersikap seperti ini kepadanya yang
bukan anak kecil lagi.
Rencana Revan di hari ini adalah pergi ke
rumah sakit untuk medical check up. Revan selalu melakukannya setiap 6 bulan
sekali. Sebenarnya, ia takut dengan jarum suntik. Tapi apa daya, Revan adalah seorang
laki-laki, mustahil umtuknya menunjukkan ketakutannya pada orang lain.
Sementara Sally, merasa hari berjalan begitu
cepat. Serasa baru saja sekejab memejamkan mata di malam hari, tiba-tiba harus
membuka mata kembali karena pagi pasti datang dan Sally terus berkutat dengan
aktivitas yang kini rutin dijalaninya.
“Selamat pagi, semuanya! Apakah kalian merasa
senang hari ini?” Sally yang mencoba meniadakan sisa kesedihannya semalam
dengan menyapa rekan-rekan kerjanya di laboratorium.
“Tentu,
kami sangat senang hari ini. Memangnya kamu..” Canda salah seorang rekan kerja
Sally.
“Hei,
aku selalu bahagia setiap hari.” Bela Sally.
“Aku
tidak yakin, karena mata kamu besar sekali hari ini, kamu pasti habis menangis
galau semalam. Hahaha...”
“Semalam
paket internetku habis. Jadi, aku galau karena tidak bisa download lagu.” Sally beralasan tak akurat, membuat rekan-rekan
Sally tertawa dengan tingkah lucu yang dilakukan seorang gadis yang baru satu
bulan menjadi laboran di Jakarta Hospital ini.
Sally bersiap memakai jas lab yang merupakan
bagian dari pekerjaannya, lalu menanti pasien untuk dilakukannya sampling pengambilan darah.
Pagi
ini pasien sudah sangat banyak, belum lagi nanti siang, ditambah lagi Sally
harus bekerja lembur sampai nanti malam. Rutinitas ini kadang terasa
membosankan, dan ia harus membuat hari-harinya terasa menyenangkan.
14 pasien telah dilakukan sampling pengambilan darah oleh Sally.
Namun, ada yang berbeda dengan pasien yang ke-15 ini.
“Revan Aditya...”
Sally memanggil nama pasien dengan refleks.
Sally terpaku seketika, wajahnya memucat,
tubuhnya agak gemetar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Semua
rasa menjadi satu dalam hatinya, bahagia sekaligus takut. Bahagia karena orang
yang tak ia jumpai selama 6 tahun kini sudah ada di depan matanya. Tapi, ia
takut karena tak yakin orang itu masih mengingatnya atau bahkan melupakannya.
Hal
itu tak menjadikan Sally untuk berlari untuk menghindari orang itu, ia harus
bekerja secara profesional meskipun pasiennya justru membuatnya menjadi tak
tenang.
“Aku sungguh tak menyangka, dia berada
disini. Tak pernah terlintas di pikiranku, Sally menjadi seorang laboran di
rumah sakit ini. Ternyata, anggapanku selama ini salah. Sally yang aku kenal
sebagai orang terbodoh sehingga membuatku merasa jijik untuk berteman
dengannya. Sekarang ia sudah berubah pesat, bahkan pekerjaannya sebagai laboran
sudah terdengar sangat mewah untuk seorang Sally Si Gadis Bodoh.” Gumam Revan
menghampiri Sally yang sedang berputar di kepalanya.
Sally memberikan salam kepada Revan
sebagaimana ia lakukan kepada pasien-pasien lain sebagai tanda formalitas dan
memberikan pelayanan yang baik. Revan hanya menjawab dengan singkat dan
wajahnya datar-datar saja. Sally merasa bahwa Revan juga menyadari kecanggungannya
yang tak dapat ia sembunyikan lagi.
“Revan,
apakah kamu benar-benar sengaja tak mengenalku?” Gumamnya di dalam hati sambil
menusukkan jarum suntik setelah Sally
menemukan dimana letak vena Revan.
Sally
melihat wajah Revan yang menunjukan rasa sakitnya akibat sensasi dari tusukan
jarum suntik. Sebenarnya, Sally tak tega, karena ia tahu bahwa Revan sangat
takut dengan jarum suntik.
Tidak ada kata lain selain “Terimakasih” yang
Sally ucapkan setelah proses sampling
dilakukan dan Revan pergi tanpa kata-kata. Keduanya seakan menunjukkan rasa
rindu yang tak tersampaikan.
“Dia telah pergi tanpa sesuatu yang membuatku
yakin kalau aku tak terlupakan, dan aku merasa bahwa ia benar-benar tak
mengenalku lagi. Dimana candamu? Dimana tawamu? Dimana tingkah lakumu yang
dulu? Aku merindukannya,Van.” Sally terdiam lesu dan hanya hatinya yang
berkata-kata.
Meskipun
begitu, sekarang Sally merasa lebih baik karena bisa melihat Revan dengan jelas
walau ia kehilangan siapa Revan yang dulu ia kenal. Revan, cinta yang tak tersadari.
***
Pasien demi pasien telah tertangani, kini waktunya
Sally pulang dari pekerjaannya yang berakhir sampai larut malam. Sepertinya
keadaan Sally sedang tak begitu baik, tentu saja karena Revan. Revan yang
kembali berkutat di pikirannya.
Langkah kaki Sally tak tertuju langsung ke
rumah. Seperti biasa, ketika hatinya terasa buruk, ia menikmati udara malam di
taman yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja.
Ia
duduk termenung di taman sendirian, merelaksasikan pikirannya yang rumit.
Berharap akan merasa lebih baik setelah dari tempat itu. Merelaksasikan pikiran
sambil mendengarkan musik di tengah kesunyian mampu membuat Sally tertidur.
Tertidur pulas tanpa ada seorang pun yang berada di dekatnya.
Sementara
Revan yang masih sulit memejamkan mata dan otaknya, belum bisa beristirahat
karena pikirannya masih tertuju pada kejadian mengejutkan tadi pagi. Masa
lalunya bersama Sally mulai hadir di dalam alam sadarnya. Selama ini Revan
dapat mengalihkan perasaannya kepada gadis lain. Tapi, saat ini ia tak bisa
melakukannya lagi. Sally, keinginannya yang tak tersampaikan.
Terbesit di pikiran Revan untuk melangkahkan
kaki ke sebuah tempat yang tentu saja mengingatkannya pada Sally. Sebenarnya,
ia malas untuk beranjak, tapi hatinya yang menuntunnya pergi ke tempat itu.
Tempat dimana Sally sedang terlelap malam ini. Mungkinkah Tuhan mulai
memberikan petunjuk dari teka-tekinya?
Revan memakai jaket Chelsea FC dan segera
mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja kamarnya. Seperti biasa, ia
selalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tanpa ada rasa takut.
Revan
tiba di taman dengan memasukan kedua tangannya di kantung jaket karena
dinginnya malam yang begitu menusuk. Selintas, taman terlihat sangat sepi dan
tak berpenghuni. Ternyata, ada seorang gadis yang duduk tertunduk di bangku
taman dengan wajah yang tertutupi oleh rambut panjangnya. Revan mulai merasa
tidak nyaman, rasanya ia ingin segera kembali pulang. Tapi, kali ini ia sangat
penasaran dengan makhluk yang dilihatnya sekarang.
Revan
meyakinkan langkahnya untuk mulai mendekat pada gadis itu, tangannya menyentuh
rambut si gadis untuk melihat wajahnya. Ia menjadi semakin penasaran.
“Haaaa...!”
Sontak Revan terkejut dan memundurkan kakinya karena si gadis terbangun
sehingga wajahnya pun kini terlihat.
Revan merasakan shock
therapy malam ini. “Sally...”
“Kamu
mirip Revan. Wajahnya, tubuhnya, gaya berpakaiannya, dan suaranya.” Sally yang
masih setengah sadar dari tidurnya.
“Si
bodoh ini lagi? Baru kali ini aku merasakan kalau dunia itu sempit.” Gumam Revan
dengan tampang sinisnya.
“Bodoh,
bisakah kamu tidur di rumahmu? Apa sekarang kamu dipecat, lalu menjadi
gelandangan?” Revan membalas dengan kata-kata pedas karena kepanikannya.
Sally yang telah sadar dari tidurnya, mulai
menyadari bahwa laki-laki di hadapannya itu
adalah Si Hulk Revan. Awalnya ia tak menyangka dapat bertemu kembali
dengan Revan , Salli merasa Tuhan telah merencanakan sesuatu.
“Revan,
bagaimana bisa kamu berada di sini?” Kata Sally dengan wajah tak percayanya.
“Aku
tidak mengenalmu.” Revan berpura-pura tak mengenal Sally dan membalikkan
badannya, lalu melangkah pergi.
“Revan,
apakabar?” Sally berbicara dengan penuh rasa rindu. Tapi, Revan tetap tak
menghentikan langkahnya.
.............
“Tapi,
aku sangat mengenalmu, van. Mungkin kamu menganggapku sebagai mantan teman,
tapi, aku tidak pernah sekali pun menganggapmu seperti itu.”
“Revan...!”
Kalimat
terakhir yang diucapkan Sally berhasil membuat Revan berbalik badan dan
menghampiri Sally.
“Memangnya
siapa aku?” Revan mulai tercairkan hatinya.
“Kamu
itu Revan. Orang paling jahil, pelit, hobinya marah-marah, dan suka merampas
makananku.” Sally membalas sambil tertawa kecil.
“Apa
kamu punya beberapa makanan untuk aku rampas?” Revan meledek Sally dan
menariknya untuk duduk di bangku taman.
Lalu
Sally mengeluarkan satu bungkus kue coklat yang selalu ia makan setiap hari.
Kue kenangan mereka.
Revan
cukup terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh Sally. Untuk kesekian kalinya
Sally membuatnya menyesal karena terus-menerus bungkam dengan perasaannya.
Mereka
yang tak pernah sadar dengan perasaannya di masa lalu, sehingga Tuhan menguji
mereka dengan perpisahan, lalu Tuhan mempertemukan mereka kembali untuk
meyakinkan bahwa cinta telah hadir sejak dulu hingga sekarang.
“Kamu
sedang apa malam-malam tidur sendirian disini?” Revan menepuk lengan kiri Sally
seperti halnya ia lakukan di masa lalu.
“Tidak
mungkin aku memberitahu alasanku bisa berada disini, karena alasannya adalah
dia. Dia yang membuatku terasa rumit hari ini.” Sally bergumam dengan hatinya.
“Tidak
ada apa-apa, aku hanya amnesia dengan rumahku sendiri.” Sally salah tingkah dan
menggaruk rambutnya.
“Amnesia?
Bahkan untuk beralasan saja kamu masih terlihat bodoh. Hahaha...”
“Apa
kamu penasaran? Nah! Kamu juga sedang apa di sini? Kamu sedang berburu hantu?
Hahaha...” Sally tertawa ternahak-bahak.
“Iya,
kamu hantunya. Aku sering kesini kalau sedang bosan di rumah.” Revan memukul
kepala Sally.
“Kok
aku tak pernah lihatmu?”
“Mungkin
itu masalah waktu.” Revan mengakhiri candaan Sally.
Pertemuan singkat dan tak terduga ini pun
diakhiri karena dinginnya malam yang begitu mencekam. Sebenarnya, tak ada satu
pun diantara mereka yang ingin mengakhiri perbincangan. Revan yang selalu
menunda untuk berbicara serius dengan Sally. Kali ini ia tak bisa terus-menerus
mengurungkan niatnya.
“Bodoh, kamu terlihat seram malam ini. Ayo, aku
antar pulang!”
“Antar
aku? Hahaha..” Sally yang sebenarnya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Aku
hanya khawatir, nanti orang-orang akan lari ketakutan karena melihat makhluk
astral sepertimu berjalan sendirian.” Revan menjawab dengan alibinya.
“Malam ini sungguh indah, kejadian yang ku
alami saat ini sangat menakjubkan. Bukankah Tuhan telah menjawab doaku?
Sekarang aku berada di motor Revan dan diantarnya pulang. Sebelumnya, ia tak
pernah melakukan hal ini kepada ku. Apakah dia tidak sedang menipuku seperti
harapan palsu yang dulu ia berikan? Aku harap ini adalah ketulusanya.” Sally
bergeming dalam hatinya.
“Bodoh, jangan tidur! Jangan sampai kamu
jatuh dan aku menjadi tersangka atas kematianmu!”
“Lalu,
aku harus bagaimana?” Jawab Sally tak mengerti kode yang diberikan Revan.
“Oke,
kali ini aku memberimu kesempatan untuk memegangku selama di motor.” Untuk
kesekian kalinya Revan beralibi.
Sally
memegang baju Revan dengan erat, tenyata Revan belum berubah, ia tetap munafik.
Tapi, Sally tidak peduli, karena ia
mengerti maksudnya.
“Hei
bodoh!” Revan memanggil Sally. Ia merebahkan kepalanya di punggung Revan. Revan
merasakan sensasi Sally yang sedang tertidur sekarang. Kadang Revan merasa
kasihan dengan Sally, karena ia selalu memanggil Sally dengan sebutan “bodoh”,
tapi, Sally tak pernah marah ia panggil seperti itu.
Si
bodoh Sally berhasil menciptakan indahnya kembang api di hati Revan, dan dia
pintar dalam aspek mencuri hati orang, karena Revan adalah korbannya.
Sally terbangun ketika hampir sampai di
rumahnya. Ia meminta Revan untuk menghentikan laju motornya dan turun di tempat itu. Karena ia
tahu, ibunya selalu berpikiran negatif
bila ia diantar pulang oleh teman laki-laki.
“Aku
turun disini, ya. Tak enak kalau ibu tahu. Makasih, ya.” Sally membuka helm
yang dikenakannya.
“Baiklah,
itu bagus kalau kamu cepat turun.”
Baru
saja 5 langkah Sally melangkahkan kakinya menuju pagar rumah, Revan berteriak memanggilnya. “Bodoh! Besok jam 11
pagi, ya, di taman.” Revan memberikan
kodenya.
“Mau
apa, Van?” Sally bertanya tak mengerti.
“Lihat
aja nanti. Jangan telat!” Revan segera
melajukan motornya.
“Akhirnya aku
sampai di rumah dengan bahagia. Percaya tidak percaya, malam ini adalah
malam paling menyenangkan. Aku kira ini adalah
mimpi, tenyata ini benar-benar kenyataan. Tentu saja tidurku malam ini sangat nyenyak.” Sally berceloteh
sendiri seperti orang gila di kamarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar