Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[2]Teka - Teki dari Tuhan: Kejutan dari Tuhan

Matahari kembali menyambut pagi, tentu saja pagi ini sangat cerah. Burung-burung di pohon di depan halaman rumah Revan juga kian berkicau, sama seperti mama Revan yang selalu berkicau untuk membangunkannya. Sejak dulu hingga sekarang Revan memang sulit sekali untuk bangun pagi meskipun alarm handphone-nya terus berdering.
“Revan, ayo bangun! Sudah besar masih saja bangun siang.” Mama Revan membuka pintu dan jendela kamar Revan.
“Hmmm..masih ngantuk.” Revan memberi jawaban dengan suara yang terdengar masih mengantuk.
 “Ma, justru aku sudah besar, biarkan aku bebas sedikit. Please...” Revan terbangun karena ia rasa sudah tak seharusnya mama bersikap seperti ini kepadanya yang bukan anak kecil lagi.
Rencana Revan di hari ini adalah pergi ke rumah sakit untuk medical check up. Revan selalu melakukannya setiap 6 bulan sekali. Sebenarnya, ia takut dengan jarum suntik. Tapi apa daya, Revan adalah seorang laki-laki, mustahil umtuknya menunjukkan ketakutannya pada orang lain.
Sementara Sally, merasa hari berjalan begitu cepat. Serasa baru saja sekejab memejamkan mata di malam hari, tiba-tiba harus membuka mata kembali karena pagi pasti datang dan Sally terus berkutat dengan aktivitas yang kini rutin dijalaninya.
“Selamat pagi, semuanya! Apakah kalian merasa senang hari ini?” Sally yang mencoba meniadakan sisa kesedihannya semalam dengan menyapa rekan-rekan kerjanya di laboratorium.
“Tentu, kami sangat senang hari ini. Memangnya kamu..” Canda salah seorang rekan kerja Sally.
“Hei, aku selalu bahagia setiap hari.” Bela Sally.
“Aku tidak yakin, karena mata kamu besar sekali hari ini, kamu pasti habis menangis galau semalam. Hahaha...”
“Semalam paket internetku habis. Jadi, aku galau karena tidak bisa download lagu.” Sally beralasan tak akurat, membuat rekan-rekan Sally tertawa dengan tingkah lucu yang dilakukan seorang gadis yang baru satu bulan menjadi laboran di Jakarta Hospital ini.
Sally bersiap memakai jas lab yang merupakan bagian dari pekerjaannya, lalu menanti pasien untuk dilakukannya sampling pengambilan darah.
Pagi ini pasien sudah sangat banyak, belum lagi nanti siang, ditambah lagi Sally harus bekerja lembur sampai nanti malam. Rutinitas ini kadang terasa membosankan, dan ia harus membuat hari-harinya terasa menyenangkan.
            14 pasien telah dilakukan sampling pengambilan darah oleh Sally. Namun, ada yang berbeda dengan pasien yang ke-15 ini.
“Revan Aditya...” Sally memanggil nama pasien dengan refleks.
 Sally terpaku seketika, wajahnya memucat, tubuhnya agak gemetar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Semua rasa menjadi satu dalam hatinya, bahagia sekaligus takut. Bahagia karena orang yang tak ia jumpai selama 6 tahun kini sudah ada di depan matanya. Tapi, ia takut karena tak yakin orang itu masih mengingatnya atau bahkan melupakannya.
Hal itu tak menjadikan Sally untuk berlari untuk menghindari orang itu, ia harus bekerja secara profesional meskipun pasiennya justru membuatnya menjadi tak tenang.
“Aku sungguh tak menyangka, dia berada disini. Tak pernah terlintas di pikiranku, Sally menjadi seorang laboran di rumah sakit ini. Ternyata, anggapanku selama ini salah. Sally yang aku kenal sebagai orang terbodoh sehingga membuatku merasa jijik untuk berteman dengannya. Sekarang ia sudah berubah pesat, bahkan pekerjaannya sebagai laboran sudah terdengar sangat mewah untuk seorang Sally Si Gadis Bodoh.” Gumam Revan menghampiri Sally yang sedang berputar di kepalanya.
Sally memberikan salam kepada Revan sebagaimana ia lakukan kepada pasien-pasien lain sebagai tanda formalitas dan memberikan pelayanan yang baik. Revan hanya menjawab dengan singkat dan wajahnya datar-datar saja. Sally merasa bahwa Revan juga menyadari kecanggungannya yang tak dapat ia sembunyikan lagi.
“Revan, apakah kamu benar-benar sengaja tak mengenalku?” Gumamnya di dalam hati sambil menusukkan jarum suntik setelah  Sally menemukan dimana letak vena Revan.
Sally melihat wajah Revan yang menunjukan rasa sakitnya akibat sensasi dari tusukan jarum suntik. Sebenarnya, Sally tak tega, karena ia tahu bahwa Revan sangat takut dengan jarum suntik.
Tidak ada kata lain selain “Terimakasih” yang Sally ucapkan setelah proses sampling dilakukan dan Revan pergi tanpa kata-kata. Keduanya seakan menunjukkan rasa rindu yang tak tersampaikan.
“Dia telah pergi tanpa sesuatu yang membuatku yakin kalau aku tak terlupakan, dan aku merasa bahwa ia benar-benar tak mengenalku lagi. Dimana candamu? Dimana tawamu? Dimana tingkah lakumu yang dulu? Aku merindukannya,Van.” Sally terdiam lesu dan hanya hatinya yang berkata-kata.
Meskipun begitu, sekarang Sally merasa lebih baik karena bisa melihat Revan dengan jelas walau ia kehilangan siapa Revan yang dulu ia kenal. Revan, cinta yang tak tersadari.
***
Pasien demi pasien telah tertangani, kini waktunya Sally pulang dari pekerjaannya yang berakhir sampai larut malam. Sepertinya keadaan Sally sedang tak begitu baik, tentu saja karena Revan. Revan yang kembali berkutat di pikirannya.
Langkah kaki Sally tak tertuju langsung ke rumah. Seperti biasa, ketika hatinya terasa buruk, ia menikmati udara malam di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja.
Ia duduk termenung di taman sendirian, merelaksasikan pikirannya yang rumit. Berharap akan merasa lebih baik setelah dari tempat itu. Merelaksasikan pikiran sambil mendengarkan musik di tengah kesunyian mampu membuat Sally tertidur. Tertidur pulas tanpa ada seorang pun yang berada di dekatnya.
Sementara Revan yang masih sulit memejamkan mata dan otaknya, belum bisa beristirahat karena pikirannya masih tertuju pada kejadian mengejutkan tadi pagi. Masa lalunya bersama Sally mulai hadir di dalam alam sadarnya. Selama ini Revan dapat mengalihkan perasaannya kepada gadis lain. Tapi, saat ini ia tak bisa melakukannya lagi. Sally, keinginannya yang tak tersampaikan.
Terbesit di pikiran Revan untuk melangkahkan kaki ke sebuah tempat yang tentu saja mengingatkannya pada Sally. Sebenarnya, ia malas untuk beranjak, tapi hatinya yang menuntunnya pergi ke tempat itu. Tempat dimana Sally sedang terlelap malam ini. Mungkinkah Tuhan mulai memberikan petunjuk dari teka-tekinya?
Revan memakai jaket Chelsea FC dan segera mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja kamarnya. Seperti biasa, ia selalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tanpa ada rasa takut.
Revan tiba di taman dengan memasukan kedua tangannya di kantung jaket karena dinginnya malam yang begitu menusuk. Selintas, taman terlihat sangat sepi dan tak berpenghuni. Ternyata, ada seorang gadis yang duduk tertunduk di bangku taman dengan wajah yang tertutupi oleh rambut panjangnya. Revan mulai merasa tidak nyaman, rasanya ia ingin segera kembali pulang. Tapi, kali ini ia sangat penasaran dengan makhluk yang dilihatnya sekarang.
Revan meyakinkan langkahnya untuk mulai mendekat pada gadis itu, tangannya menyentuh rambut si gadis untuk melihat wajahnya. Ia menjadi semakin penasaran.
“Haaaa...!” Sontak Revan terkejut dan memundurkan kakinya karena si gadis terbangun sehingga wajahnya pun kini terlihat.
Revan  merasakan shock therapy malam ini. “Sally...”
“Kamu mirip Revan. Wajahnya, tubuhnya, gaya berpakaiannya, dan suaranya.” Sally yang masih setengah sadar dari tidurnya.
“Si bodoh ini lagi? Baru kali ini aku merasakan kalau dunia itu sempit.” Gumam Revan dengan tampang sinisnya.
“Bodoh, bisakah kamu tidur di rumahmu? Apa sekarang kamu dipecat, lalu menjadi gelandangan?” Revan membalas dengan kata-kata pedas karena kepanikannya.
Sally yang telah sadar dari tidurnya, mulai menyadari bahwa laki-laki di hadapannya itu  adalah Si Hulk Revan. Awalnya ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengan Revan , Salli merasa Tuhan telah merencanakan sesuatu.
“Revan, bagaimana bisa kamu berada di sini?” Kata Sally dengan wajah tak percayanya.
“Aku tidak mengenalmu.” Revan berpura-pura tak mengenal Sally dan membalikkan badannya, lalu melangkah pergi.
“Revan, apakabar?” Sally berbicara dengan penuh rasa rindu. Tapi, Revan tetap tak menghentikan langkahnya.
.............
“Tapi, aku sangat mengenalmu, van. Mungkin kamu menganggapku sebagai mantan teman, tapi, aku tidak pernah sekali pun menganggapmu seperti itu.”
“Revan...!”
Kalimat terakhir yang diucapkan Sally berhasil membuat Revan berbalik badan dan menghampiri Sally.
“Memangnya siapa aku?” Revan mulai tercairkan hatinya.
“Kamu itu Revan. Orang paling jahil, pelit, hobinya marah-marah, dan suka merampas makananku.” Sally membalas sambil tertawa kecil.
“Apa kamu punya beberapa makanan untuk aku rampas?” Revan meledek Sally dan menariknya untuk duduk di bangku taman.
Lalu Sally mengeluarkan satu bungkus kue coklat yang selalu ia makan setiap hari. Kue kenangan mereka.
Revan cukup terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh Sally. Untuk kesekian kalinya Sally membuatnya menyesal karena terus-menerus bungkam dengan perasaannya.
Mereka yang tak pernah sadar dengan perasaannya di masa lalu, sehingga Tuhan menguji mereka dengan perpisahan, lalu Tuhan mempertemukan mereka kembali untuk meyakinkan bahwa cinta telah hadir sejak dulu hingga sekarang.
“Kamu sedang apa malam-malam tidur sendirian disini?” Revan menepuk lengan kiri Sally seperti halnya ia lakukan di masa lalu.
“Tidak mungkin aku memberitahu alasanku bisa berada disini, karena alasannya adalah dia. Dia yang membuatku terasa rumit hari ini.” Sally bergumam dengan hatinya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya amnesia dengan rumahku sendiri.” Sally salah tingkah dan menggaruk rambutnya.
“Amnesia? Bahkan untuk beralasan saja kamu masih terlihat bodoh. Hahaha...”
“Apa kamu penasaran? Nah! Kamu juga sedang apa di sini? Kamu sedang berburu hantu? Hahaha...” Sally tertawa ternahak-bahak.
“Iya, kamu hantunya. Aku sering kesini kalau sedang bosan di rumah.” Revan memukul kepala Sally.
“Kok aku tak pernah lihatmu?”
“Mungkin itu masalah waktu.” Revan mengakhiri candaan Sally.
Pertemuan singkat dan tak terduga ini pun diakhiri karena dinginnya malam yang begitu mencekam. Sebenarnya, tak ada satu pun diantara mereka yang ingin mengakhiri perbincangan. Revan yang selalu menunda untuk berbicara serius dengan Sally. Kali ini ia tak bisa terus-menerus mengurungkan niatnya.
“Bodoh, kamu terlihat seram malam ini. Ayo, aku antar pulang!”
“Antar aku? Hahaha..” Sally yang sebenarnya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Aku hanya khawatir, nanti orang-orang akan lari ketakutan karena melihat makhluk astral sepertimu berjalan sendirian.” Revan menjawab dengan alibinya.
“Malam ini sungguh indah, kejadian yang ku alami saat ini sangat menakjubkan. Bukankah Tuhan telah menjawab doaku? Sekarang aku berada di motor Revan dan diantarnya pulang. Sebelumnya, ia tak pernah melakukan hal ini kepada ku. Apakah dia tidak sedang menipuku seperti harapan palsu yang dulu ia berikan? Aku harap ini adalah ketulusanya.” Sally bergeming dalam hatinya.
“Bodoh, jangan tidur! Jangan sampai kamu jatuh dan aku menjadi tersangka atas kematianmu!”
“Lalu, aku harus bagaimana?” Jawab Sally tak mengerti kode yang diberikan Revan.
“Oke, kali ini aku memberimu kesempatan untuk memegangku selama di motor.” Untuk kesekian kalinya Revan beralibi.
Sally memegang baju Revan dengan erat, tenyata Revan belum berubah, ia tetap munafik. Tapi, Sally tidak peduli, karena ia  mengerti maksudnya.
“Hei bodoh!” Revan memanggil Sally. Ia merebahkan kepalanya di punggung Revan. Revan merasakan sensasi Sally yang sedang tertidur sekarang. Kadang Revan merasa kasihan dengan Sally, karena ia selalu memanggil Sally dengan sebutan “bodoh”, tapi, Sally tak pernah marah ia panggil seperti itu.
Si bodoh Sally berhasil menciptakan indahnya kembang api di hati Revan, dan dia pintar dalam aspek mencuri hati orang, karena Revan adalah korbannya.
Sally terbangun ketika hampir sampai di rumahnya. Ia meminta Revan untuk menghentikan laju  motornya dan turun di tempat itu. Karena ia tahu, ibunya selalu berpikiran negatif  bila ia diantar pulang oleh teman laki-laki.
“Aku turun disini, ya. Tak enak kalau ibu tahu. Makasih, ya.” Sally membuka helm yang dikenakannya.
“Baiklah, itu bagus kalau kamu cepat turun.”
Baru saja 5 langkah Sally melangkahkan kakinya menuju pagar rumah, Revan  berteriak memanggilnya. “Bodoh! Besok jam 11 pagi, ya, di taman.” Revan  memberikan kodenya.
“Mau apa, Van?” Sally bertanya tak mengerti.
“Lihat aja nanti. Jangan telat!” Revan  segera melajukan  motornya.
“Akhirnya aku  sampai di rumah dengan bahagia. Percaya tidak percaya, malam ini adalah malam paling menyenangkan. Aku kira ini adalah  mimpi, tenyata ini benar-benar kenyataan. Tentu saja tidurku  malam ini sangat nyenyak.” Sally berceloteh sendiri seperti orang gila di kamarnya.

***

Kejutan apalagi yang akan Tuhan berikan kepada Sally?
Tetap setia pada silmyhwang.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar