Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[5]Teka - Teki dari Tuhan: Menjaganya sampai kapanpun

Revan berdiri di depan pagar rumah Sally, berharap Sally masih bersedia untuk menemuinya, sedangkan Sally menangis tersedu-sedu mengingat kejadian tadi, seolah tega melihat Revan yang belum beranjak dari tempat ia berpijak sekarang.
Dua minggu setelah kejadian pahit itu, Sally tak pernah mau menemui Revan yang setiap hari menunggunya pulang kerja di rumah sakit, ia lebih memilih pulang bersama Dio yang beberapa hari yang lalu menyatakan cinta padanya. Revan selalu pulang dengan sia-sia dan penyesalannya.
Bagaikan menghilang dari peradaban, Revan absen menunggu Sally seperti apa yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya. Sally merasa kesepian dan tak tahu harus berbuat apa terhadap orang yang tak menganggapnya itu.
            Baru saja ingin melepaskan jas labnya, karena jam kerja sudah habis, tiba-tiba sesuatu yang telah menggemparkan terjadi. Beberapa perawat membawa seorang pasien gawat darurat dan berlumuran darah.
“Sal, ada pasien gawat darurat. Saya mohon bantuanmu, perawat lain sedang sibuk menangani pasien kecelakaan beruntun yang sangat banyak.“ Ucap salah seorang perawat yang sedang panik menghampiri Sally di ruang laboratorium.
“Baiklah, aku segera ke sana.” Sally memakai jas labnya kembali dan berlari menuju pasien gawat darurat.
Kakinya kaku tak bisa digerakan, wajahnya sudah tak bisa didefinisikan, air mata mengalir di pipinya setelah melihat siapa pasien yang sedang terbaring lemah.
“Revan…” Nama itu keluar dari mulut Sally.
“Cepat lakukan sesuatu!” Seorang dokter memerintah dengan suara yang kencang memecahkan pandangan Sally yang tak kuat melihat Revan.
Dengan bercucuran air mata, Sally membersihkan darah Revan yang banyak keluar, pasien gawat darurat karena kecelakaan beruntun yang sangat parah. Tubuhnya bergetar setelah melakukan tugasnya dan lebih memilih menunggu di luar ruangan karena ia sudah tak tak sanggup. Rupanya, keluarga Revan sudah menunggu dengan wajah yang sedih sama sepertinya.
“Bagaimana keadaan Revan, Mbak?”  Ucap seorang ibu sambil menangisi keadaan Revan.
“Dokter sedang menanganinya, bu. Semoga Revan baik-baik saja.” Sally menjawab lesu seperti kehilangan gairah hidup.
“Mbak, kenapa menanggis?” Timpal Mama Revan.
Sally sudah tak kuat menahan tubuhnya yang lemas, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Ibu Revan sambil menangis tak berdaya. Ibu Revan tak mengerti apa yang terjadi dengan Sally mengapa ia bisa menangisi anaknya, ia hanya bisa menenangkan Sally sekarang.
“Benar ini keluarga Revan Aditya?” Seorang dokter yang menangani Revan dari ruang UGD.
“Benar, Saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya, dok?”
“Anak  ibu selamat, tapi….”
“Revan kenapa, dokter?”  Sally menginterupsi pembicaraan dokter.
“Revan mengalami koma.” Dokter menjawab.
Sally dan keluarga Revan menangis tersedu-sedu melihat orang tersayang mereka terbaring tak tahu sampai kapan.
“Sal, jangan menangis seperti itu. Ini sudah waktunya pulang, kamu harus istirahat.” Dio menghampiri Sally.
“Mana mungkin aku bisa pulang sementara Revan…”
“Biar tante yang menjaga Revan, ya. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini.”
***
“Permisi, Tante.” Sally mengetuk pintu kamar inap Revan.
“Iya, silakan masuk.” Mama dan adik Revan menyambut Sally.
“Maaf, Tante, semalam saya tidak sempat memperkenalkan diri. Nama saya Sally, saya teman SMA Revan yang kebetulan bekerja di sini.”
“Ah iya, sepertinya kamu kenal baik anak saya, ya?”
“I..Iya, Tante.” Sally menjawab gugup.
“Oh iya, sepertinya dulu Kak Revan pernah menceritakan Kak Sally ke aku.” Sahut Alya, adik Revan.
“Cerita tentang kakak?” Sally tak percaya.
“Waktu itu Kak Revan jadi berubah total, playlist di handphone-nya lagu korea semua, padahal aku tahu, dia tidak suka itu. Secara tidak  sengaja, dia bilang alasannya karena Kak Sally. Kak Sally juga menyukai lagu korea, kan?”
“Iya, aku suka sekali. Revan juga sering cerita tentang kamu yang suka menonton konser penyanyi korea. “
“Revan juga bilang, kalau tante harus buat bakwan jagung yang enak seperti buatan ibumu, Sal.” Mama Revan menambahkan.
Sally tak kuasa menahan air mata ketika mendengar cerita dari mama dan adiknya Revan. Sementara Revan, masih terbaring koma dan mungkin arwahnya melihat betapa sedihnya Sally saat ini.
“Tante, saya melanjutkan pekerjaan dulu, ya.  Van, jangan koma terlalu lama, kami semua merindukan tawamu. Alya, kakak ke luar duluan,ya.” Sally berpamitan.
***
Setiap hari teman-teman Revan menjenguk Revan yang tak kunjung sadar, Sally hanya bisa melihat diam-diam dari kaca pada pintu kamar, tak ada keberanian di jiwanya untuk menyapa teman-teman SMA-nya yang meremehkannya semasa sekolah.
Sally berjalan melewati beberapa lorong untuk sampai ke pintu keluar rumah sakit, berharap tak ada teman SMA-nya yang melihat keberadaannya.
“Sal, mau pulang?” Mama Revan memanggil Sally.
“Iya, tante.”
“Kok tidak ikut gabung bersama teman-teman Revan di dalam? itu kan juga teman-temanmu.”
“Bisa kita bicara di luar saja, Tan?”
“Baiklah, kebetulan Tante juga ingin pulang.” Mama Revan mengikuti langkah Sally untuk berbicara di kafe ceria yang tak jauh dari rumah sakit.
Sally membuka pintu kafe dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
“Tante, saya sakit hati sama mereka. Saya tidak akan pernah mau menunjukan wajah saya di hadapan mereka.” Sally berbicara to the point.
Ceritakan saja semua keluh kesahmu kepada tante, Sal.”
“Maaf tante, terlalu kekanakan apabila saya menceritakan bad moment itu.”
“Baiklah, tante tidak akan memaksa. Tapi, maukah kamu ke rumah tante sekarang? Tante ingin menunjukan sesuatu yang penting untukmu.”
“Hm, aku mau,Tan.” Sally tersenyum tipis.
Mama Revan melajukan mobil sedan Camry-nya menuju rumah. Selama di perjalanan, tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Sally. Hanya mendengarkan alunan musik klasik dari flashdisk yang ditancapkan Mama Revan untuk membunuh kesunyian.
“Sal, kita sudah sampai.” Mama Revan membuka safety belt dan membuka pintu mobil yang diikuti dengan Sally.
“Rumah tante bagus sekali.” Sally berdecak kagum.
“Ahaha, iya, Sal. Rumah ini warisan dari almarhum papanya Revan.”
“Ma..maaf, Tante. Akun tidak bermaksud untuk menyinggung tante.”
“Tidak apa-apa, Sal. Ayo, ikut tante ke ruang rahasia Revan.”
Sally mengikuti langkah Mama Revan, ruang demi ruang di jelaskan olehnya hingga pada akhirnya Sally berdiri di depan ruang rahasia milik Revan bersama Mama Revan. Mama Revan membuka pintu sehingga Sally bisa melihat isi dari ruangan itu.
“Tante baru kemarin mengetahui ruang ini adalah ruang pribadi Revan. Dia merahasiakan ini dari tante dan Alya, Sal. Revan memang anak yang sangat tertutup.” Ungkap Mama Revan.
“Kalau boleh aku tahu, mengapa tante menunjukan ruangan ini kepadaku? Apa ini semua ada kaitannya denganku?” Ucap Sally.
“Kamu bisa melihat apapun yang ada di ruangan ini, Sal. Semuanya tentang kamu.”
Sally membuka sebuah surat yang tergeletak di atas meja yang tampak  usang.

Apakabar, Sal? Pasti kamu baik-baik saja seperti yang aku lihat dulu.
Maaf kalau aku pernah membuat kamu bimbang karena perlakuanku terhadapmu.
Ketika aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, aku cenderung memberinya banyak perhatian dan berbicara dengan suara yang lembut. Tapi, itu berbalik fakta ketika aku sadar kalau aku jatuh cinta denganmu.
Aku bingung harus memberi perhatian yang seperti apa untukmu, sementara kamu seperti orang yang tidak peka.
aku hanya bisa menjahilimu, mengambil makananmu, dan membuatmu tertawa setelah jam pelajaran matematika yang sangat kau benci itu berakhir. Dengan cara itu aku bisa mendapatkan perhatianmu.
Sal, kenapa kamu tercipta jadi murid yang bodoh? aku agak risih berada dekat denganmu. Maaf, saat itu aku lebih memilih orang lain.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa aku sempat menyukaimu, karena aku akan melenyapkanmu dari memori otakku. Aku anggap kita tak pernah saling kenal.
Tapi, itu semua sangat sulit. Maka, kusimpan semuanya tentangmu di ruangan ini.
Sally, keinginan yang tak tersampaikan.

            Sally tercengang membaca surat yang ditulis Revan,  kenapa ia harus merasa risih kalau ia benar-benar yakin kepada perassannya? Apakah itu tulus?  Pikir Sally.
“Sal, di rak itu, ada DVD yang berisikan video dari Revan untukmu.” Mama Revan memecah haru Sally.
Sally menyetel DVD dan duduk di sofa yang berada di depan TV, bersiap melihat isi dari DVD tersebut.
“Di sana, di dalam video itu, Revan terhanyut dalam pengakuannya. Menyanyikanku lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ setiap tanggal 11 Januari di setiap tahunnya. Menyiapkan kue, lalu ia makan sendiri, dan matanya seperti mengeluarkan air mata.
Kini aku tahu alasanmu menghindariku ketika aku menyapamu di jejaring sosial, tak menganggapku ada ketika kamu bersama teman-temanmu yang populer. Alasannya, karena kamu gengsi pernah mengenal orang bodoh seperti aku.
Di setiap tahun setelah kita berpisah, aku bangkit, Van. Ketika aku mulai menyerah, namamu muncul. Dan di situlah letak semangatku. Hingga pada akhirnya impianku menjadi kenyataan, bertemu kamu dengan sosok Sally yang sekarang, bukan Sally yang selalu diolok-olok karena tak pernah masuk peringkat 15 besar selama SMA.
Tapi, kenapa kamu belum merubah pandanganmu tentangku? kamu masih belum menganggapku orang berguna.” Kata Sally sambil terisak melihat video dari Revan.
***
Sudah tiga bulan Revan belum melewati masa komanya, ia seperti mayat hidup yang terbaring di atas kasur rumah sakit.
Kali ini Revan diharuskan untuk mejalankan serangkaian pemeriksaan laboratorium, Sally segera mengambil jas lab yang digantung di lemari lalu naik ke kamar inap Revan untuk mengambil sample darahnya.
Sepanjang jalan menuju ruangan, ia tak tahan ketika harus melihat Revan terus-terusan seperti ini.
Tok tok tok...
Sally mengetuk pintu kamar inap Revan, ada beberapa teman SMA yang menjenguk Revan. Dan dalah satunya adalah Rama.
“Bagaimana ini? Mereka pasti melihat namaku di name tag jas lab ini.” Sally pasrah.
“Permisi, Revan diambil darahnya dulu, ya..” Kata sally
“Mbak Fanny, pelan-pelan ya ngambil darahnya. Kasihan Si Revan.”
Sally kaget ketika Rama tidak menyebut namanya, ia bau sadar kalau ia salah ambil jas lab, yang ia ambil adalah jas lab rekannya. Sally lega.
***
“Fanny..Fanny, makasi banyak ya! Berkat jas lab kamu aku selamat.” Sally memeluk Fanny yang sedang meng-input hasil.
“Tenang, Sal. Ceritakan pelan-pelan kepadaku.” Balas Fanny.
“Kamu ingat kan, waktu itu aku pernah cerita kalau aku sebel banget sama temennya Revan yang bernama Rama itu?”
“Ya, aku ingat.”
“Tadi dia ada di kamar Revan. Coba saja kalau dia tahu aku, aku malu banget.”
“Ya bagus dong kalau dia tahu. Jadi dia tidak meremehkan kamu lagi.”
“Bukan begitu, Fan. Bagi mereka, aku ini tidak ada apa-apanya, meskipun aku sudah bekerja.” Tunduk Sally, Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari terasa begitu hambar, benar-benar membosankan.
Setiap hari hanya bekerja, pulang, bekerja lagi, dan begitu seterusnya.
Tapi, semenjak hari itu, entah kenapa aku mendapatkan gairah hidup lagi.
Hari dimana aku bertemu kamu lagi setelah sekian lama.
Tapi,Tuhan..kenapa aku hanya boleh mencicipi sedikit kebahagiaan itu?
Sekarang, penyemangat hidupku sedang terbaring koma.
Bahkan, aku harus mencuri waktu kerjaku untuk melihatnya.
Aku harap dia cepat sadar dan bisa kembali tertawa bersamaku. Amin.

Begitulah curahan hati Sally yang ibunya lihat di secarik kertas yang tergeletak di meja kamar Sally. Ibu Sally mengerutkan dahinya tanda penasaran tentang apa yang sedang dialami anaknya.
“Ibu sedang apa di kamarku?” Sally tiba-tiba masuk ke kamarnya dan mengejutkan ibunya.
“Apa maksud dari suratmu ini,Sal? Siapa yang koma?” Ibu bertanya tak tanggung-tanggung.
“Dia adalah orang kedua yang berharga setelah ibu. Dia penyemangatku.”
“Baiklah, ibu mengerti. Tapi, kamu harus mengerti satu hal bahwa mulut lelaki itu tidak bisa dipercaya.”
“Tapi, bagaimana bisa ibu...”
Ibu memotong pembicaraan Sally, lalu pergi meninggalkan kamar Sally. “Fokus saja pada pekerjaanmu.”
Sally menghela napas, menenangkan diri sejenak sambil merenungkan kembali masalahnya. Ia menyadari betul bahwa ibunya masih belum bisa lepas dari rasa trauma yang disebabkan oleh ayahnya. Tapi, kenapa harus ia yang merasakan dampaknya? ia juga ingin merasakan manisnya mencintai dan dicintai seseorang. Itulah yang ada di benak Sally.
            Siang berganti malam, Sally tetap mengurung diri di kamarnya menikmati musik ballad kesukaannya. Tapi, seakan handphone Sally tak bersahabat dengan hatinya yang sedang galau. Dering tanda SMS masuk berbunyi, Sally tidak membukanya dan tetap melanjutkan mendengarkan lagu. 1,2,3 SMS diabaikan, karena ia merasa terganggu, akhirnya SMS yang keempat membuatnya jengkel dan terpaksa membukanya.
SMS pertama:
Dari Dio
Sal, udah lama aku nggak main ke rumah kamu. Jadi, sekarang aku ada di depan rumah kamu. Aku masuk, ya?
20.00

SMS kedua:
Dari Dio
Kamu kok balesnya lama? Aku nggak boleh masuk ya? Yaudah deh, aku tunggu kamu di luar ya.
20.25

SMS ketiga:
Dari Dio
Sal, kamu keluar dong. Aku pengen ngomong sesuatu.
20.50

SMS keempat:
Dari Dio
Aku tunggu sampai kamu keluar,ya. Karena ini penting banget.
21.00

“Astaga! Kak Dio udah satu jam yang lalu nunggu aku diluar! Bagaimana ini?!”
Sally bangun dari tempat tidurnya dan segera melihat lewat jendela kamarnya.
“Hujan! Diluar hujan! Dan kak Dio masih berdiri disana.”
Sally melihat Dio sedang berdiri di depan pagar rumahnya, ia sangat bersalah kepada Dio. Ia terus melihat dari jendela, ingin turun tetapi apa yang ingin dia katakan kalau Dio bertanya serius. Kejadian ini membuat Sally teringat pada kenangan di masa SMA, betapa menyedihkannya ketika ia menunggu Ray di depan rumahnya dalam keadaan yang sama seperti ini. Akhirnya hati Sally terketuk untuk menemui Dio yang sudah basah kuyup.

            Dio tertunduk lesu dan wajahnya memucat, tetapi semua itu sirna ketika ia menyadari bahwa ia berada dibawah satu payung bersama Sally. Sally menatap Dio dengan tatapan bersalah.
“Sal, kamu datang juga.” Dio tersenyum
“Kak, jangan maafkan aku, karena aku udah membiarkan kakak seperti ini. Tolong, lalukan sesuatu yang membuatku jera dengan perbuatanku ini.” Sally memelas.
“Enggak, Sal. Aku yang ada perlu dengan kamu. Jadi, aku harus menunggu sampai bertemu kamu.”
“Kakak mau ngomong tentang apa?”
Dio mengeluarkan satu kotak kecil berisi sebuah cincin, ia tersenyum pada Sally dan berharap Sally akan menerimanya.
“Apa yang kakak lakukan dengan cincin itu?” Sally tak mengerti.
“Memakaikannya di jari manis kamu supaya semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya. Dio meraih tangan Sally, kemudian Sally menarik tangannya.
“Aku mohon kak, jangan bersikap seperti ini terus. Aku nggak pantes dapat perlakuan kaya ini, karena aku belum bisa terima kakak.” Pinta Sally.
“Aku cuma ingin kamu belajar menerima aku. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa.”
Sally benar-benar belum bisa melakukan apa yang diinginkan Dio, hatinya masih ditawan oleh Revan. Lalu, Sally berlutut memohon dengan sangat pada Dio, berharap Dio bisa menghentikan semua ini.
“Aku mohon kak sekali lagi, hentikan semua ini. Aku nggak mau menyesal untuk kedua kalinya karena nggak peka sama perasaan Revan dan aku juga mau menghilangkan rasa gengsiku ini yang sudah membuatku kehilangan orang yang aku sayang.” Air mata Sally turun membasahi pipinya bersama hujan, ia berharap sekali Dio bisa mengerti.
“Tapi, sampai kapan kamu bertahan sama Revan? Kamu lihat sediri dia masih koma, bahkan, sekalipun ia sudah sadar, ia butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan kondisinya.” Dio meyakinkan hati Sally yang sulit untuk digoyahkan.
“Sudahlah, aku masuk ke dalam dulu. Besok aku dinas pagi.” Dio pergi meninggalkan Sally dengan perasaan kecewa.

***

Akankah Dio bisa mencairkan hati Sally? Mungkinkah nantinya Sally akan berpindah ke lain hati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar