Revan berdiri di
depan pagar rumah Sally, berharap Sally masih bersedia untuk menemuinya,
sedangkan Sally menangis tersedu-sedu mengingat kejadian tadi, seolah tega
melihat Revan yang belum beranjak dari tempat ia berpijak sekarang.
Dua minggu
setelah kejadian pahit itu, Sally tak pernah mau menemui Revan yang setiap hari
menunggunya pulang kerja di rumah sakit, ia lebih memilih pulang bersama Dio
yang beberapa hari yang lalu menyatakan cinta padanya. Revan selalu pulang
dengan sia-sia dan penyesalannya.
Bagaikan menghilang dari peradaban,
Revan absen menunggu Sally seperti apa yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya.
Sally merasa kesepian dan tak tahu harus berbuat apa terhadap orang yang tak
menganggapnya itu.
Baru
saja ingin melepaskan jas labnya, karena jam kerja sudah habis, tiba-tiba
sesuatu yang telah menggemparkan terjadi. Beberapa perawat membawa seorang
pasien gawat darurat dan berlumuran darah.
“Sal, ada pasien gawat darurat.
Saya mohon bantuanmu, perawat lain sedang sibuk menangani pasien kecelakaan
beruntun yang sangat banyak.“ Ucap salah seorang perawat yang sedang panik
menghampiri Sally di ruang laboratorium.
“Baiklah, aku segera ke sana.”
Sally memakai jas labnya kembali dan berlari menuju pasien gawat darurat.
Kakinya kaku tak bisa digerakan,
wajahnya sudah tak bisa didefinisikan, air mata mengalir di pipinya setelah
melihat siapa pasien yang sedang terbaring lemah.
“Revan…” Nama itu keluar dari
mulut Sally.
“Cepat lakukan sesuatu!” Seorang
dokter memerintah dengan suara yang kencang memecahkan pandangan Sally yang tak
kuat melihat Revan.
Dengan bercucuran air mata, Sally
membersihkan darah Revan yang banyak keluar, pasien gawat darurat karena
kecelakaan beruntun yang sangat parah. Tubuhnya bergetar setelah melakukan
tugasnya dan lebih memilih menunggu di luar ruangan karena ia sudah tak tak
sanggup. Rupanya, keluarga Revan sudah menunggu dengan wajah yang sedih sama
sepertinya.
“Bagaimana keadaan Revan, Mbak?” Ucap seorang ibu sambil menangisi keadaan
Revan.
“Dokter sedang menanganinya, bu.
Semoga Revan baik-baik saja.” Sally menjawab lesu seperti kehilangan gairah
hidup.
“Mbak, kenapa menanggis?” Timpal
Mama Revan.
Sally sudah tak kuat menahan
tubuhnya yang lemas, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Ibu Revan sambil
menangis tak berdaya. Ibu Revan tak mengerti apa yang terjadi dengan Sally
mengapa ia bisa menangisi anaknya, ia hanya bisa menenangkan Sally sekarang.
“Benar ini keluarga Revan Aditya?”
Seorang dokter yang menangani Revan dari ruang UGD.
“Benar, Saya ibunya. Bagaimana
keadaan anak saya, dok?”
“Anak ibu selamat, tapi….”
“Revan kenapa, dokter?” Sally menginterupsi pembicaraan dokter.
“Revan mengalami koma.” Dokter
menjawab.
Sally dan keluarga Revan menangis
tersedu-sedu melihat orang tersayang mereka terbaring tak tahu sampai kapan.
“Sal, jangan menangis seperti
itu. Ini sudah waktunya pulang, kamu harus istirahat.” Dio menghampiri Sally.
“Mana mungkin aku bisa pulang
sementara Revan…”
“Biar tante yang menjaga Revan,
ya. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini.”
***
“Permisi, Tante.” Sally mengetuk
pintu kamar inap Revan.
“Iya, silakan masuk.” Mama dan
adik Revan menyambut Sally.
“Maaf, Tante, semalam saya tidak
sempat memperkenalkan diri. Nama saya Sally, saya teman SMA Revan yang
kebetulan bekerja di sini.”
“Ah iya, sepertinya kamu kenal
baik anak saya, ya?”
“I..Iya, Tante.” Sally menjawab
gugup.
“Oh iya, sepertinya dulu Kak
Revan pernah menceritakan Kak Sally ke aku.” Sahut Alya, adik Revan.
“Cerita tentang kakak?” Sally tak
percaya.
“Waktu itu Kak Revan jadi berubah
total, playlist di handphone-nya lagu
korea semua, padahal aku tahu, dia tidak suka itu. Secara tidak sengaja, dia bilang alasannya karena Kak
Sally. Kak Sally juga menyukai lagu korea, kan?”
“Iya, aku suka sekali. Revan juga
sering cerita tentang kamu yang suka menonton konser penyanyi korea. “
“Revan juga bilang, kalau tante
harus buat bakwan jagung yang enak seperti buatan ibumu, Sal.” Mama Revan
menambahkan.
Sally tak kuasa menahan air mata
ketika mendengar cerita dari mama dan adiknya Revan. Sementara Revan, masih
terbaring koma dan mungkin arwahnya melihat betapa sedihnya Sally saat ini.
“Tante, saya melanjutkan
pekerjaan dulu, ya. Van, jangan koma
terlalu lama, kami semua merindukan tawamu. Alya, kakak ke luar duluan,ya.”
Sally berpamitan.
***
Setiap hari
teman-teman Revan menjenguk Revan yang tak kunjung sadar, Sally hanya bisa
melihat diam-diam dari kaca pada pintu kamar, tak ada keberanian di jiwanya
untuk menyapa teman-teman SMA-nya yang meremehkannya semasa sekolah.
Sally berjalan
melewati beberapa lorong untuk sampai ke pintu keluar rumah sakit, berharap tak
ada teman SMA-nya yang melihat keberadaannya.
“Sal, mau pulang?” Mama Revan
memanggil Sally.
“Iya, tante.”
“Kok tidak ikut gabung bersama
teman-teman Revan di dalam? itu kan juga teman-temanmu.”
“Bisa kita bicara di luar saja,
Tan?”
“Baiklah, kebetulan Tante juga
ingin pulang.” Mama Revan mengikuti langkah Sally untuk berbicara di kafe ceria
yang tak jauh dari rumah sakit.
Sally membuka pintu kafe dan
memilih tempat duduk di dekat jendela.
“Tante, saya sakit hati sama
mereka. Saya tidak akan pernah mau menunjukan wajah saya di hadapan mereka.”
Sally berbicara to the point.
“Ceritakan saja semua
keluh kesahmu kepada tante, Sal.”
“Maaf tante, terlalu kekanakan
apabila saya menceritakan bad moment
itu.”
“Baiklah, tante tidak akan
memaksa. Tapi, maukah kamu ke rumah tante sekarang? Tante ingin menunjukan
sesuatu yang penting untukmu.”
“Hm, aku mau,Tan.” Sally
tersenyum tipis.
Mama Revan melajukan mobil sedan
Camry-nya menuju rumah. Selama di perjalanan, tak banyak kata-kata yang keluar
dari mulut Sally. Hanya mendengarkan alunan musik klasik dari flashdisk yang ditancapkan Mama Revan
untuk membunuh kesunyian.
“Sal, kita sudah sampai.” Mama
Revan membuka safety belt dan membuka
pintu mobil yang diikuti dengan Sally.
“Rumah tante bagus sekali.” Sally
berdecak kagum.
“Ahaha, iya, Sal. Rumah ini
warisan dari almarhum papanya Revan.”
“Ma..maaf, Tante. Akun tidak
bermaksud untuk menyinggung tante.”
“Tidak apa-apa, Sal. Ayo, ikut
tante ke ruang rahasia Revan.”
Sally mengikuti langkah Mama
Revan, ruang demi ruang di jelaskan olehnya hingga pada akhirnya Sally berdiri
di depan ruang rahasia milik Revan bersama Mama Revan. Mama Revan membuka pintu
sehingga Sally bisa melihat isi dari ruangan itu.
“Tante baru kemarin mengetahui
ruang ini adalah ruang pribadi Revan. Dia merahasiakan ini dari tante dan Alya,
Sal. Revan memang anak yang sangat tertutup.” Ungkap Mama Revan.
“Kalau boleh aku tahu, mengapa
tante menunjukan ruangan ini kepadaku? Apa ini semua ada kaitannya denganku?”
Ucap Sally.
“Kamu bisa melihat apapun yang
ada di ruangan ini, Sal. Semuanya tentang kamu.”
Sally membuka sebuah surat yang
tergeletak di atas meja yang tampak usang.
Apakabar, Sal? Pasti kamu baik-baik saja seperti yang aku lihat dulu.
Maaf kalau aku pernah membuat kamu bimbang karena perlakuanku
terhadapmu.
Ketika aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, aku cenderung
memberinya banyak perhatian dan berbicara dengan suara yang lembut. Tapi, itu
berbalik fakta ketika aku sadar kalau aku jatuh cinta denganmu.
Aku bingung harus memberi perhatian yang seperti apa untukmu, sementara
kamu seperti orang yang tidak peka.
aku hanya bisa menjahilimu, mengambil makananmu, dan membuatmu tertawa
setelah jam pelajaran matematika yang sangat kau benci itu berakhir. Dengan
cara itu aku bisa mendapatkan perhatianmu.
Sal, kenapa kamu tercipta jadi murid yang bodoh? aku agak risih berada
dekat denganmu. Maaf, saat itu aku lebih memilih orang lain.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa aku sempat menyukaimu, karena
aku akan melenyapkanmu dari memori otakku. Aku anggap kita tak pernah saling
kenal.
Tapi, itu semua sangat sulit. Maka, kusimpan semuanya tentangmu di
ruangan ini.
Sally, keinginan yang tak tersampaikan.
Sally
tercengang membaca surat yang ditulis Revan,
kenapa ia harus merasa risih kalau
ia benar-benar yakin kepada perassannya? Apakah itu tulus? Pikir Sally.
“Sal, di rak itu, ada DVD yang berisikan
video dari Revan untukmu.” Mama Revan memecah haru Sally.
Sally
menyetel DVD dan duduk di sofa yang berada di depan TV, bersiap melihat isi
dari DVD tersebut.
“Di
sana, di dalam video itu, Revan terhanyut dalam pengakuannya. Menyanyikanku
lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ setiap tanggal 11 Januari di setiap tahunnya.
Menyiapkan kue, lalu ia makan sendiri, dan matanya seperti mengeluarkan air
mata.
Kini
aku tahu alasanmu menghindariku ketika aku menyapamu di jejaring sosial, tak menganggapku
ada ketika kamu bersama teman-temanmu yang populer. Alasannya, karena kamu
gengsi pernah mengenal orang bodoh seperti aku.
Di
setiap tahun setelah kita berpisah, aku bangkit, Van. Ketika aku mulai
menyerah, namamu muncul. Dan di situlah letak semangatku. Hingga pada akhirnya
impianku menjadi kenyataan, bertemu kamu dengan sosok Sally yang sekarang,
bukan Sally yang selalu diolok-olok karena tak pernah masuk peringkat 15 besar
selama SMA.
Tapi,
kenapa kamu belum merubah pandanganmu tentangku? kamu masih belum menganggapku
orang berguna.” Kata Sally sambil terisak melihat video dari Revan.
***
Sudah tiga bulan Revan belum melewati masa
komanya, ia seperti mayat hidup yang terbaring di atas kasur rumah sakit.
Kali ini Revan diharuskan untuk mejalankan
serangkaian pemeriksaan laboratorium, Sally segera mengambil jas lab yang
digantung di lemari lalu naik ke kamar inap Revan untuk mengambil sample
darahnya.
Sepanjang
jalan menuju ruangan, ia tak tahan ketika harus melihat Revan terus-terusan
seperti ini.
Tok
tok tok...
Sally
mengetuk pintu kamar inap Revan, ada beberapa teman SMA yang menjenguk Revan.
Dan dalah satunya adalah Rama.
“Bagaimana
ini? Mereka pasti melihat namaku di name tag jas lab ini.” Sally pasrah.
“Permisi,
Revan diambil darahnya dulu, ya..” Kata sally
“Mbak
Fanny, pelan-pelan ya ngambil darahnya. Kasihan Si Revan.”
Sally
kaget ketika Rama tidak menyebut namanya, ia bau sadar kalau ia salah ambil jas
lab, yang ia ambil adalah jas lab rekannya. Sally lega.
***
“Fanny..Fanny,
makasi banyak ya! Berkat jas lab kamu aku selamat.” Sally memeluk Fanny yang
sedang meng-input hasil.
“Tenang,
Sal. Ceritakan pelan-pelan kepadaku.” Balas Fanny.
“Kamu
ingat kan, waktu itu aku pernah cerita kalau aku sebel banget sama temennya
Revan yang bernama Rama itu?”
“Ya,
aku ingat.”
“Tadi
dia ada di kamar Revan. Coba saja kalau dia tahu aku, aku malu banget.”
“Ya
bagus dong kalau dia tahu. Jadi dia tidak meremehkan kamu lagi.”
“Bukan
begitu, Fan. Bagi mereka, aku ini tidak ada apa-apanya, meskipun aku sudah
bekerja.” Tunduk Sally, Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari terasa begitu hambar,
benar-benar membosankan.
Setiap hari hanya bekerja,
pulang, bekerja lagi, dan begitu seterusnya.
Tapi, semenjak hari itu,
entah kenapa aku mendapatkan gairah hidup lagi.
Hari dimana aku bertemu kamu
lagi setelah sekian lama.
Tapi,Tuhan..kenapa aku hanya
boleh mencicipi sedikit kebahagiaan itu?
Sekarang, penyemangat
hidupku sedang terbaring koma.
Bahkan, aku harus mencuri
waktu kerjaku untuk melihatnya.
Aku harap dia cepat sadar
dan bisa kembali tertawa bersamaku. Amin.
Begitulah
curahan hati Sally yang ibunya lihat di secarik kertas yang tergeletak di meja
kamar Sally. Ibu Sally mengerutkan dahinya tanda penasaran tentang apa yang
sedang dialami anaknya.
“Ibu
sedang apa di kamarku?” Sally tiba-tiba masuk ke kamarnya dan mengejutkan
ibunya.
“Apa
maksud dari suratmu ini,Sal? Siapa yang koma?” Ibu bertanya tak
tanggung-tanggung.
“Dia
adalah orang kedua yang berharga setelah ibu. Dia penyemangatku.”
“Baiklah,
ibu mengerti. Tapi, kamu harus mengerti satu hal bahwa mulut lelaki itu tidak
bisa dipercaya.”
“Tapi,
bagaimana bisa ibu...”
Ibu
memotong pembicaraan Sally, lalu pergi meninggalkan kamar Sally. “Fokus saja
pada pekerjaanmu.”
Sally
menghela napas, menenangkan diri sejenak sambil merenungkan kembali masalahnya.
Ia menyadari betul bahwa ibunya masih belum bisa lepas dari rasa trauma yang
disebabkan oleh ayahnya. Tapi, kenapa harus ia yang merasakan dampaknya? ia
juga ingin merasakan manisnya mencintai dan dicintai seseorang. Itulah yang ada
di benak Sally.
Siang berganti malam, Sally tetap
mengurung diri di kamarnya menikmati musik ballad kesukaannya. Tapi, seakan handphone Sally tak bersahabat dengan
hatinya yang sedang galau. Dering tanda SMS masuk berbunyi, Sally tidak
membukanya dan tetap melanjutkan mendengarkan lagu. 1,2,3 SMS diabaikan, karena
ia merasa terganggu, akhirnya SMS yang keempat membuatnya jengkel dan terpaksa
membukanya.
SMS
pertama:
Dari
Dio
Sal,
udah lama aku nggak main ke rumah kamu. Jadi, sekarang aku ada di depan rumah
kamu. Aku masuk, ya?
20.00
SMS
kedua:
Dari
Dio
Kamu
kok balesnya lama? Aku nggak boleh masuk ya? Yaudah deh, aku tunggu kamu di
luar ya.
20.25
SMS
ketiga:
Dari
Dio
Sal,
kamu keluar dong. Aku pengen ngomong sesuatu.
20.50
SMS
keempat:
Dari
Dio
Aku
tunggu sampai kamu keluar,ya. Karena ini penting banget.
21.00
“Astaga!
Kak Dio udah satu jam yang lalu nunggu aku diluar! Bagaimana ini?!”
Sally
bangun dari tempat tidurnya dan segera melihat lewat jendela kamarnya.
“Hujan!
Diluar hujan! Dan kak Dio masih berdiri disana.”
Sally
melihat Dio sedang berdiri di depan pagar rumahnya, ia sangat bersalah kepada
Dio. Ia terus melihat dari jendela, ingin turun tetapi apa yang ingin dia
katakan kalau Dio bertanya serius. Kejadian ini membuat Sally teringat pada
kenangan di masa SMA, betapa menyedihkannya ketika ia menunggu Ray di depan
rumahnya dalam keadaan yang sama seperti ini. Akhirnya hati Sally terketuk
untuk menemui Dio yang sudah basah kuyup.
Dio tertunduk lesu dan wajahnya memucat,
tetapi semua itu sirna ketika ia menyadari bahwa ia berada dibawah satu payung
bersama Sally. Sally menatap Dio dengan tatapan bersalah.
“Sal,
kamu datang juga.” Dio tersenyum
“Kak,
jangan maafkan aku, karena aku udah membiarkan kakak seperti ini. Tolong,
lalukan sesuatu yang membuatku jera dengan perbuatanku ini.” Sally memelas.
“Enggak,
Sal. Aku yang ada perlu dengan kamu. Jadi, aku harus menunggu sampai bertemu
kamu.”
“Kakak
mau ngomong tentang apa?”
Dio
mengeluarkan satu kotak kecil berisi sebuah cincin, ia tersenyum pada Sally dan
berharap Sally akan menerimanya.
“Apa
yang kakak lakukan dengan cincin itu?” Sally tak mengerti.
“Memakaikannya
di jari manis kamu supaya semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya.“ Dio
meraih tangan Sally, kemudian Sally menarik tangannya.
“Aku
mohon kak, jangan bersikap seperti ini terus. Aku nggak pantes dapat perlakuan
kaya ini, karena aku belum bisa terima kakak.” Pinta Sally.
“Aku
cuma ingin kamu belajar menerima aku. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti
bisa.”
Sally
benar-benar belum bisa melakukan apa yang diinginkan Dio, hatinya masih ditawan
oleh Revan. Lalu, Sally berlutut memohon dengan sangat pada Dio, berharap Dio
bisa menghentikan semua ini.
“Aku
mohon kak sekali lagi, hentikan semua ini. Aku nggak mau menyesal untuk kedua
kalinya karena nggak peka sama perasaan Revan dan aku juga mau menghilangkan
rasa gengsiku ini yang sudah membuatku kehilangan orang yang aku sayang.” Air
mata Sally turun membasahi pipinya bersama hujan, ia berharap sekali Dio bisa
mengerti.
“Tapi,
sampai kapan kamu bertahan sama Revan? Kamu lihat sediri dia masih koma,
bahkan, sekalipun ia sudah sadar, ia butuh waktu yang tidak sebentar untuk
memulihkan kondisinya.” Dio meyakinkan hati Sally yang sulit untuk digoyahkan.
“Sudahlah,
aku masuk ke dalam dulu. Besok aku dinas pagi.” Dio pergi meninggalkan Sally
dengan perasaan kecewa.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar