Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[7]Teka - Teki dari Tuhan: Adakah setitik pencerahan?

Shift sore telah berakhir,Sally segera melepas jas labnya lalu berlari menuju kamar Revan. Baru saja sampai di depan pintu lab, Dio memanggil Sally karena ia lupa membawa tasnya.
“Sal, tas kamu!” Panggil dio.
Sally menghela napas, lalu berbalik menuju Dio. “Terimakasih,kak.” Ia mengambil tasnya dengan cepat dan berlari lagi.
Dio semakin down melihat orang yang dicintainya sama sekali tidak melihatnya.


            Air mata yang sedari tadi Sally tahan, akhirnya jatuh juga tepat di hadapan Revan yang tengah tertidur. Ia merasa bersalah karena kedepannya ia harus menjaga jarak dengan Revan.
“Van, tadi aku habis dimarahin lho sama bos aku. Dia bilang aku suka mampir ke ruangan kamu, itu artinya aku akan jarang ketemu kamu karena aku lagi diawasi. Padahal aku pengen menghabiskan waktu luang aku sama kamu, melihat perkembangan kamu dan yang lebih lagi aku pengen kamu kasih senyuman pertama kamu buat aku. Tapi, sepertinya udah nggak mungkin lagi.Mungkin kamu akan lebih sering bersama keluarga kamu dan Anna.” Sally curhat sambil menangis.
Sally pergi meninggalkan Revan walaupun itu sangat berat.

“Sally, kamu sudah selesai? kok cuma sebentar?” Anna mengangetkan Sally yang baru saja keluar dari kamar Revan, ekspresi wajahnya seakan sedang meledek Sally.
“Ya.” Sally menjawab dengan singkat, lalu ia berjalan kembali.
Tak lama, ia merubah keputusannya dan menghentikan langkahnya. “Anna, bisa kita bicara sebentar?”

            Di kantin rumah sakit yang mulai menyepi, Sally menyampaikan hal yang berhasil membekukan perasaannya. Ia sadar, peringatan dari Manager personalia untuknya menjadi suatu pertanda bahwa tak seharusnya ia menghancurkan hubungan Revan dan Anna yang sudah terlanjur mereka jalani. Sally akan mundur, meski itu bukan kemauannya.
“Kamu mau bicara apa?” Tanya Anna.
“Bisakah kamu lebih sering menjaga Revan? Aku nggak bisa datang melihatnya seperti sebelumnya. Aku mohon sama kamu, Anna.” Sally memegang tangan Anna sebagai tanda kalau ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Maksudnya, kamu akan benar-benar pergi dari Revan?” Anna tersenyum tipis.
“Iya. Buat Revan memberikan respon pertamanya untuk kamu.”
Sally meninggalkan Anna, ia pulang dan segera melupakan semuanya tentang Revan.
***
Tok tok tok...
Sally mengetuk pintu, tidak biasanya ibu mengunci pintu kalau ia pulang malam.
“Ibu, buka pintunya. Ini Sally.” Sally memanggil-manggil sambil mengetuk pintu dengan suara yang agak keras.
Berkali-kali ia memanggil, ibunya tak kunjung membukakan pintu. Sally mulai lelah, ia duduk di depan pintu sampai akhirnya ia terlelap hingga pagi.

            Sinar matahari pagi menyilaukan mata Sally, membangunkannya dari tidurnya yang tetap lelap meski di depan rumah. Ia mengumpulkan nyawanya dan baru sadar kalau ibu masih belum membukakan pintu.
‘Hmm, aku masih diluar? Kayanya ibu marah,tapi karena apa?’ Sally ngedumel sendiri.
Tak lama ibu membuka pintu, badan yang Sally sandarkan di pintu terdorong ke dalam. Dan Byurrr......Ibu menyiram Sally dengan segayung air. Sally terkejut kenapa ibu melakukan itu.
“Ibu, kenapa ibu menyiram aku? Aku bukan tanaman.” Sally reflek membentak ibunya.
“Jam berapa kamu selesai shift sore?” Ibu mengernyitkan dahi.
“J..jam setengah sepuluh,bu.” Jawab Sally sambil tertunduk.
“Lalu, jam berapa kamu sampai rumah?”
“Jam setengah satu,bu.”
“Tapi aku janji ini yang terakhir kali,bu. Tolong maafkan aku.” Sambung Sally untuk meyakinkan ibunya.
“Kamu sudah berkali-kali pulang telat dan waktu yang seharusnya kamu pakai untuk istirahat dirumah, kamu  buang hanya untuk menjaga orang itu saja.” Ibu bicara panjang lebar, ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
Sally meneteskan air matanya, ia cukup tersinggung dengan ucapan ibunya. Sally memilih masuk ke kamarnya daripada harus berdebat dengan ibunya yang tak pernah ada ujungnya.


‘Kenapa semua meyalahkan aku?! Kenapa mereka nggak pernah mengerti aku?! Aku cuma nggak mau menyesal lagi karena pernah menyianyiakan Revan. Aku ingin selalu ada buat dia disaat kami udah sadar dengan perasaan kami. Dan terlebih lagi, sekarang dia sedang berada di masa yang sulit.’
Sally meluapkan perasaannya dan menangis sampai air matanya habis.

***
            Hari ini adalah hari pertama dimana Revan tidak didampingi Sally dan mulai sekarang Anna yang akan lebih sering bersama Revan. Anna mengajak Revan untuk menghirup udara segar di taman rumah sakit, dengan sabar ia mendorong Revan yang duduk di kursi roda dan tak lelah untuk mengajak Revan untuk mengobrol.
“Anna!” Sapa Mama Revan dari kejauhan.
“Tante!” Anna menoleh dan melambaikan tangannya.
Mama Revan memberi aba-aba pada Anna untuk tetap disana karena ia yang akan berjalan ke taman.
“Tante pasti mencari kami,ya?” ledek Anna
“Hahaha, Tante kaget ketika masuk ke kamar, Revan nggak ada. Untung ada suster yang bilang kalau kalian ada disini.”
“Revan nggak akan diculik seperti di sinetron kok, tante. Tante tenang saja, mulai sekarang Anna akan lebih sering menjaga Revan.”
“Bagus, Anna. Ngomong-ngomong, tumben Sally belum muncul.”
“Hmm, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tan.”

            Sedangkan itu, Sally hanya di rumah saja mengurus pekerjaan rumah. Ia mencoba untuk menjaga jarak dengan Revan. Meski begitu, ia sangat gelisah tidak bisa melihat Revan.
“Sal, ibu bukannya melarang kamu peduli sama orang lain. Ibu cuma merasa kalau orang itu bukan lelaki yang tepat buat kamu.” Ibu datang menghampiri Sally yang sedang mengelap meja ruang tamu.
“Ya, aku mengerti maksud ibu.”Jawab Sally.
“Untuk hidup bersama pendamping, kamu nggak perlu mencari orang yang kamu cintai, yang kamu butuhkan hanya orang yang mencintai kamu. Dengan begitu, kamu nggak banyak sakit hati kalau orang yang kamu cintai membuat kamu kecewa.” Ibu menasihati Sally.
“Lalu, apa gunanya aku punya hati?”
“Sally. Jadi, kamu belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada ibu? Ibu begini karena ayah kamu yang begitu ibu cintai sudah mengkhianati ibu. Ibu nggak mau itu terjadi pada kamu juga.”
“Tapi, Revan nggak seperti ayah, bu. Aku tahu banyak tentang dia.” Sally menekankan suaranya.
“Ibu rasa, nasihat ibu nggak ada artinya buat kamu.” Ibu mulai menyerah dan meninggalkan Sally.

Kring...
Ponsel Sally berbunyi, Sally menunda pekerjaannya dan menoleh pada layar ponselnya.
“Ya, kak. Ada apa menelponku?”
“Hari ini kamu libur, tumben sekali kamu nggak menghabiskan waktu sama Revan.”
“Nggak ada alasan lagi untuk melihat dia, kak.”
“Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Aku cuma titip pesan, kalau Revan udah bisa merespon, kakak bisa hubungi aku.”
“Baiklah, aku tahu kamu nggak mau cerita. Aku akan hubungi kamu kalau ada perkembangan tentang Revan. Kakak tutup telponnya, ya, Sal”
***
“Revan, ayo semangat!” Anna menyemangati Revan yang mau menjalani terapi, Anna memberikan sentuhan di pipi Revan dan senyuman hangat.
Perlahan Revan melakukan terapi untuk berjalan, memang hasilnya belum begitu bagus, ia berkali-kali gagal untuk bisa melanjutkan langkahnya. Tetapi, Anna tetap setia menyemangati Revan.


“Permisi...”
Suara itu membuat Anna terdiam dan menoleh ke arah pintu, wajahnya terlihat bingung dengan seseorang yang baru saja masuk.
“Permisi, kamu Anna, kan?” Dio menebak-nebak.
“Iya, kamu siapa, ya?” tanya Anna.
“Aku Dio, teman kerja Sally. Bagaimana Revan?”
“Ini terapi pertamanya, dia masih kesulitan. Untuk kedepannya, pasti ada kemajuan.”
“Kelihatannya, kamu dekat sama Revan.”
“Aku pacarnya.” Anna menegaskan.
“Sulit dipercaya, aku kira Revan masih single. Aku sering sama Sally, tidak jarang aku lihat dia selalu nunggu Sally tiap pulang kerja.
“Apa?! maksud kamu Revan selingkuh?” Anna terkejut, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Mungkin maksudnya bukan selingkuh, tapi, Revan baru saja menemukan lagi cintanya di masa SMA yang hilang. Sally dan Revan sebenarnya saling cinta, tapi nggak ada salah satu dari mereka yang berani bilang.”
Raut wajah Anna berubah menjadi sangat marah, ia tidak terima pacarnya direbut orang.
“Aku permisi, ya.” Dio pergi dari ruang terapi, dan Anna tak menanggapi.

‘Tidak, semua ini tidak benar. Aku tahu persis Revan itu sangat mencintai aku, kami ini pasangan yang sudah dewasa, tidak seperti Sally, Revan suka dia cuma sebatas cinta monyet saja.’ Anna meyakinkan hatinya.

            Hari terus berganti, Sally tetap pada rutinitasnya tanpa melihat bagaimana kabar Revan. Ia selalu menghindar setiap  tak sengaja bertemu Revan, ia tidak mau menambah beban di hatinya.
Hingga pada akhirnya, Revan ada kemajuan, ia bisa berjalan walaupun belum sempurna.


“Sal, kamu nggak bisa nolak lagi, shift pagi sudah habis dan kamu harus ikut aku.” Dio menarik tangan Sally.
“Kakak mau ajak aku kemana? Aku mau pulang.” Sally menolak meski wajah Dio terlihat kesal.
Dio menghela napas, dia langsung menarik tangan Sally tanpa berkata lagi.
Sally melihat Dio menekan tombol 3 pada lift, firasatnya sudah tidak baik, ia yakin sekali bahwa Dio akan membawanya pada Revan. Tapi, Sally tak protes apapun karena ada banyak orang di dalam lift.

‘Kak Dio menarik tanganku dan memaksa untuk mengikutinya. Tapi, mengapa ia menghentikan langkahnya di depan ruang terapi. Dan firasatku benar, Kak Dio ingin aku untuk melihat Revan. Revan ada disana, di ruang terapi. Aku tak bisa menggerakkan kakiku, aku ingin melarikan diri tetapi sangat sulit, mataku tetap tertuju pada Revan. Ada perasaan bahagia ketika melihat Revan bisa berjalan, tapi, aku sedih kenapa bukan aku yang menemaninya. Aku pikir, biarkanlah air mata ini menjadi saksi dari perasaanku yang sebenarnya.’ Gumam hati Sally, ia masih berdiri di depan pintu ruang terapi.

            Hati Revan tak bisa bohong dan seakan tetap normal tak ada yang berubah, ia menyadari ada orang yang ia cintai berdiri mengamatinya. Kaki Revan perlahan melangkah menuju Sally, Sally mencoba pergi, tetapi, ada tangan Dio yang memegangnya erat.
“Kak, tolong lepaskan tanganku. Usahaku sia-sia kalau pada akhirnya aku melihatnya.” pinta Sally.
“Dan usahaku untuk mempersatukan kalian juga sia-sia kalau pada akhirnya aku melepaskan tanganmu.” Dio menggenggam tangan Sally lebih erat.
Revan semakin dekat, pintu yang menjadi batas mereka telah berhasil ia buka dan kini Sally berada tepat di depannya.
Lagi-lagi Sally tak bisa menahan air matanya, cukup lama mereka bertatapan membuat Anna merasa cemburu dan menghampiri Revan. Anna juga menatap Sally dengan tatapan sinis.
“Re..revan...” Anna memegang badan Revan yang hampir terjatuh. Sally melepas genggaman Dio dan pergi.

            Dio berlari sampai ngos-ngosan mengejar Sally, Akhirnya ia menemukan Sally sedang duduk di bangku taman rumah sakit.
“Kenapa kamu lari? Tadi, Revan mau jatuh.”
“Dia nggak butuh aku, udah ada Anna yang selalu stand by.” jawab Sally dengan ekspresi datar.
“Kata kamu, kamu nggak mau menyesal lagi karena pernah menyia-nyiakan Revan. Tapi, sekarang kamu membiarkan dia setelah hatinya sadar kalau pemiliknya datang. Kamu adalah orang terlabil dari semua yang aku kenal.” Dio sedikit melawak pada nasihatnya.
Sally terdiam sejenak, menyerap kembali apa yang dikatakan Dio. Ia merasa kalau yang dikatakan Dio ada benarnya juga.
“Maksudnya dari ‘hatinya sadar kalau pemiliknya datang’ itu apa?”
“Coba kamu ingat-ingat, meskipun mulutnya belum bisa bicara, tapi, hatinya bisa melakukannya. Hatinya menuntun langkahnya untuk menuju kamu. Masih belum mengerti juga?”
“Wah! Kakak benar-benar jenius,kata- kata kakak bisa menyihir aku.” Sally menepuk punggung Dio, kini pikirannya telah terbuka.
“Jadi?”
“Jadi, aku sebagai pemilik hatinya akan datang untuk menjemputnya. Yeah! Dan aku akan lebih hati-hati kalau melihat Revan, supaya nggak ada yang ngelaporin aku lagi. Hahaha..”

Dio senang melihat Sally menemukan kembali tawanya yang sempat hilang, walaupun bukan ia alasan Sally tertawa lagi. Sedangkan Sally berlari menuju ruang terapi, ia tak ragu untuk melihat perkembangan Revan dari dekat.

Sally telah yakin pada keputusannya untuk tak menyerah dengan Revan? Tapi, bagaimana dengan Anna?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar