Shift
sore telah berakhir,Sally segera melepas jas labnya lalu berlari menuju kamar
Revan. Baru saja sampai di depan pintu lab, Dio memanggil Sally karena ia lupa
membawa tasnya.
“Sal,
tas kamu!” Panggil dio.
Sally
menghela napas, lalu berbalik menuju Dio. “Terimakasih,kak.” Ia mengambil
tasnya dengan cepat dan berlari lagi.
Dio
semakin down melihat orang yang
dicintainya sama sekali tidak melihatnya.
Air mata yang sedari tadi Sally
tahan, akhirnya jatuh juga tepat di hadapan Revan yang tengah tertidur. Ia
merasa bersalah karena kedepannya ia harus menjaga jarak dengan Revan.
“Van,
tadi aku habis dimarahin lho sama bos aku. Dia bilang aku suka mampir ke
ruangan kamu, itu artinya aku akan jarang ketemu kamu karena aku lagi diawasi.
Padahal aku pengen menghabiskan waktu luang aku sama kamu, melihat perkembangan
kamu dan yang lebih lagi aku pengen kamu kasih senyuman pertama kamu buat aku.
Tapi, sepertinya udah nggak mungkin lagi.Mungkin kamu akan lebih sering bersama
keluarga kamu dan Anna.” Sally curhat sambil menangis.
Sally
pergi meninggalkan Revan walaupun itu sangat berat.
“Sally,
kamu sudah selesai? kok cuma sebentar?” Anna mengangetkan Sally yang baru saja
keluar dari kamar Revan, ekspresi wajahnya seakan sedang meledek Sally.
“Ya.”
Sally menjawab dengan singkat, lalu ia berjalan kembali.
Tak
lama, ia merubah keputusannya dan menghentikan langkahnya. “Anna, bisa kita
bicara sebentar?”
Di kantin rumah sakit yang mulai
menyepi, Sally menyampaikan hal yang berhasil membekukan perasaannya. Ia sadar,
peringatan dari Manager personalia untuknya menjadi suatu pertanda bahwa tak
seharusnya ia menghancurkan hubungan Revan dan Anna yang sudah terlanjur mereka
jalani. Sally akan mundur, meski itu bukan kemauannya.
“Kamu
mau bicara apa?” Tanya Anna.
“Bisakah
kamu lebih sering menjaga Revan? Aku nggak bisa datang melihatnya seperti
sebelumnya. Aku mohon sama kamu, Anna.” Sally memegang tangan Anna sebagai
tanda kalau ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Maksudnya,
kamu akan benar-benar pergi dari Revan?” Anna tersenyum tipis.
“Iya.
Buat Revan memberikan respon pertamanya untuk kamu.”
Sally
meninggalkan Anna, ia pulang dan segera melupakan semuanya tentang Revan.
***
Tok
tok tok...
Sally
mengetuk pintu, tidak biasanya ibu mengunci pintu kalau ia pulang malam.
“Ibu,
buka pintunya. Ini Sally.” Sally memanggil-manggil sambil mengetuk pintu dengan
suara yang agak keras.
Berkali-kali
ia memanggil, ibunya tak kunjung membukakan pintu. Sally mulai lelah, ia duduk
di depan pintu sampai akhirnya ia terlelap hingga pagi.
Sinar matahari pagi menyilaukan mata
Sally, membangunkannya dari tidurnya yang tetap lelap meski di depan rumah. Ia
mengumpulkan nyawanya dan baru sadar kalau ibu masih belum membukakan pintu.
‘Hmm,
aku masih diluar? Kayanya ibu marah,tapi karena apa?’ Sally ngedumel sendiri.
Tak
lama ibu membuka pintu, badan yang Sally sandarkan di pintu terdorong ke dalam.
Dan Byurrr......Ibu menyiram Sally
dengan segayung air. Sally terkejut kenapa ibu melakukan itu.
“Ibu,
kenapa ibu menyiram aku? Aku bukan tanaman.” Sally reflek membentak ibunya.
“Jam
berapa kamu selesai shift sore?” Ibu
mengernyitkan dahi.
“J..jam
setengah sepuluh,bu.” Jawab Sally sambil tertunduk.
“Lalu,
jam berapa kamu sampai rumah?”
“Jam
setengah satu,bu.”
“Tapi
aku janji ini yang terakhir kali,bu. Tolong maafkan aku.” Sambung Sally untuk
meyakinkan ibunya.
“Kamu
sudah berkali-kali pulang telat dan waktu yang seharusnya kamu pakai untuk
istirahat dirumah, kamu buang hanya
untuk menjaga orang itu saja.” Ibu bicara panjang lebar, ia sudah tak bisa
menahan emosinya lagi.
Sally
meneteskan air matanya, ia cukup tersinggung dengan ucapan ibunya. Sally
memilih masuk ke kamarnya daripada harus berdebat dengan ibunya yang tak pernah
ada ujungnya.
‘Kenapa
semua meyalahkan aku?! Kenapa mereka nggak pernah mengerti aku?! Aku cuma nggak
mau menyesal lagi karena pernah menyianyiakan Revan. Aku ingin selalu ada buat
dia disaat kami udah sadar dengan perasaan kami. Dan terlebih lagi, sekarang
dia sedang berada di masa yang sulit.’
Sally
meluapkan perasaannya dan menangis sampai air matanya habis.
***
Hari ini adalah hari pertama dimana
Revan tidak didampingi Sally dan mulai sekarang Anna yang akan lebih sering
bersama Revan. Anna mengajak Revan untuk menghirup udara segar di taman rumah
sakit, dengan sabar ia mendorong Revan yang duduk di kursi roda dan tak lelah
untuk mengajak Revan untuk mengobrol.
“Anna!”
Sapa Mama Revan dari kejauhan.
“Tante!”
Anna menoleh dan melambaikan tangannya.
Mama
Revan memberi aba-aba pada Anna untuk tetap disana karena ia yang akan berjalan
ke taman.
“Tante
pasti mencari kami,ya?” ledek Anna
“Hahaha,
Tante kaget ketika masuk ke kamar, Revan nggak ada. Untung ada suster yang
bilang kalau kalian ada disini.”
“Revan
nggak akan diculik seperti di sinetron kok, tante. Tante tenang saja, mulai
sekarang Anna akan lebih sering menjaga Revan.”
“Bagus,
Anna. Ngomong-ngomong, tumben Sally belum muncul.”
“Hmm,
mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tan.”
Sedangkan itu, Sally hanya di rumah
saja mengurus pekerjaan rumah. Ia mencoba untuk menjaga jarak dengan Revan.
Meski begitu, ia sangat gelisah tidak bisa melihat Revan.
“Sal,
ibu bukannya melarang kamu peduli sama orang lain. Ibu cuma merasa kalau orang
itu bukan lelaki yang tepat buat kamu.” Ibu datang menghampiri Sally yang
sedang mengelap meja ruang tamu.
“Ya,
aku mengerti maksud ibu.”Jawab Sally.
“Untuk
hidup bersama pendamping, kamu nggak perlu mencari orang yang kamu cintai, yang
kamu butuhkan hanya orang yang mencintai kamu. Dengan begitu, kamu nggak banyak
sakit hati kalau orang yang kamu cintai membuat kamu kecewa.” Ibu menasihati
Sally.
“Lalu,
apa gunanya aku punya hati?”
“Sally.
Jadi, kamu belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada ibu? Ibu
begini karena ayah kamu yang begitu ibu cintai sudah mengkhianati ibu. Ibu
nggak mau itu terjadi pada kamu juga.”
“Tapi,
Revan nggak seperti ayah, bu. Aku tahu banyak tentang dia.” Sally menekankan
suaranya.
“Ibu
rasa, nasihat ibu nggak ada artinya buat kamu.” Ibu mulai menyerah dan
meninggalkan Sally.
Kring...
Ponsel
Sally berbunyi, Sally menunda pekerjaannya dan menoleh pada layar ponselnya.
“Ya,
kak. Ada apa menelponku?”
“Hari
ini kamu libur, tumben sekali kamu nggak menghabiskan waktu sama Revan.”
“Nggak
ada alasan lagi untuk melihat dia, kak.”
“Memangnya
kenapa?”
“Nggak
apa-apa. Aku cuma titip pesan, kalau Revan udah bisa merespon, kakak bisa
hubungi aku.”
“Baiklah,
aku tahu kamu nggak mau cerita. Aku akan hubungi kamu kalau ada perkembangan
tentang Revan. Kakak tutup telponnya, ya, Sal”
***
“Revan,
ayo semangat!” Anna menyemangati Revan yang mau menjalani terapi, Anna
memberikan sentuhan di pipi Revan dan senyuman hangat.
Perlahan
Revan melakukan terapi untuk berjalan, memang hasilnya belum begitu bagus, ia
berkali-kali gagal untuk bisa melanjutkan langkahnya. Tetapi, Anna tetap setia
menyemangati Revan.
“Permisi...”
Suara
itu membuat Anna terdiam dan menoleh ke arah pintu, wajahnya terlihat bingung
dengan seseorang yang baru saja masuk.
“Permisi,
kamu Anna, kan?” Dio menebak-nebak.
“Iya,
kamu siapa, ya?” tanya Anna.
“Aku
Dio, teman kerja Sally. Bagaimana Revan?”
“Ini
terapi pertamanya, dia masih kesulitan. Untuk kedepannya, pasti ada kemajuan.”
“Kelihatannya,
kamu dekat sama Revan.”
“Aku
pacarnya.” Anna menegaskan.
“Sulit
dipercaya, aku kira Revan masih single. Aku
sering sama Sally, tidak jarang aku lihat dia selalu nunggu Sally tiap pulang
kerja.“
“Apa?!
maksud kamu Revan selingkuh?” Anna terkejut, ia tak percaya dengan apa yang ia
dengar.
“Mungkin
maksudnya bukan selingkuh, tapi, Revan baru saja menemukan lagi cintanya di
masa SMA yang hilang. Sally dan Revan sebenarnya saling cinta, tapi nggak ada
salah satu dari mereka yang berani bilang.”
Raut
wajah Anna berubah menjadi sangat marah, ia tidak terima pacarnya direbut
orang.
“Aku
permisi, ya.” Dio pergi dari ruang terapi, dan Anna tak menanggapi.
‘Tidak,
semua ini tidak benar. Aku tahu persis Revan itu sangat mencintai aku, kami ini
pasangan yang sudah dewasa, tidak seperti Sally, Revan suka dia cuma sebatas
cinta monyet saja.’ Anna meyakinkan hatinya.
Hari terus berganti, Sally tetap
pada rutinitasnya tanpa melihat bagaimana kabar Revan. Ia selalu menghindar
setiap tak sengaja bertemu Revan, ia
tidak mau menambah beban di hatinya.
Hingga
pada akhirnya, Revan ada kemajuan, ia bisa berjalan walaupun belum sempurna.
“Sal,
kamu nggak bisa nolak lagi, shift pagi sudah habis dan kamu harus ikut aku.”
Dio menarik tangan Sally.
“Kakak
mau ajak aku kemana? Aku mau pulang.” Sally menolak meski wajah Dio terlihat
kesal.
Dio
menghela napas, dia langsung menarik tangan Sally tanpa berkata lagi.
Sally
melihat Dio menekan tombol 3 pada lift, firasatnya
sudah tidak baik, ia yakin sekali bahwa Dio akan membawanya pada Revan. Tapi,
Sally tak protes apapun karena ada banyak orang di dalam lift.
‘Kak
Dio menarik tanganku dan memaksa untuk mengikutinya. Tapi, mengapa ia
menghentikan langkahnya di depan ruang terapi. Dan firasatku benar, Kak Dio
ingin aku untuk melihat Revan. Revan ada disana, di ruang terapi. Aku tak bisa
menggerakkan kakiku, aku ingin melarikan diri tetapi sangat sulit, mataku tetap
tertuju pada Revan. Ada perasaan bahagia ketika melihat Revan bisa berjalan,
tapi, aku sedih kenapa bukan aku yang menemaninya. Aku pikir, biarkanlah air
mata ini menjadi saksi dari perasaanku yang sebenarnya.’ Gumam hati Sally, ia
masih berdiri di depan pintu ruang terapi.
Hati Revan tak bisa bohong dan
seakan tetap normal tak ada yang berubah, ia menyadari ada orang yang ia cintai
berdiri mengamatinya. Kaki Revan perlahan melangkah menuju Sally, Sally mencoba
pergi, tetapi, ada tangan Dio yang memegangnya erat.
“Kak,
tolong lepaskan tanganku. Usahaku sia-sia kalau pada akhirnya aku melihatnya.”
pinta Sally.
“Dan
usahaku untuk mempersatukan kalian juga sia-sia kalau pada akhirnya aku
melepaskan tanganmu.” Dio menggenggam tangan Sally lebih erat.
Revan
semakin dekat, pintu yang menjadi batas mereka telah berhasil ia buka dan kini
Sally berada tepat di depannya.
Lagi-lagi
Sally tak bisa menahan air matanya, cukup lama mereka bertatapan membuat Anna
merasa cemburu dan menghampiri Revan. Anna juga menatap Sally dengan tatapan
sinis.
“Re..revan...”
Anna memegang badan Revan yang hampir terjatuh. Sally melepas genggaman Dio dan
pergi.
Dio berlari sampai ngos-ngosan
mengejar Sally, Akhirnya ia menemukan Sally sedang duduk di bangku taman rumah
sakit.
“Kenapa
kamu lari? Tadi, Revan mau jatuh.”
“Dia
nggak butuh aku, udah ada Anna yang selalu stand
by.” jawab Sally dengan ekspresi datar.
“Kata
kamu, kamu nggak mau menyesal lagi karena pernah menyia-nyiakan Revan. Tapi, sekarang
kamu membiarkan dia setelah hatinya sadar kalau pemiliknya datang. Kamu adalah
orang terlabil dari semua yang aku kenal.” Dio sedikit melawak pada nasihatnya.
Sally
terdiam sejenak, menyerap kembali apa yang dikatakan Dio. Ia merasa kalau yang dikatakan
Dio ada benarnya juga.
“Maksudnya
dari ‘hatinya sadar kalau pemiliknya datang’ itu apa?”
“Coba
kamu ingat-ingat, meskipun mulutnya belum bisa bicara, tapi, hatinya bisa
melakukannya. Hatinya menuntun langkahnya untuk menuju kamu. Masih belum mengerti
juga?”
“Wah!
Kakak benar-benar jenius,kata- kata kakak bisa menyihir aku.” Sally menepuk
punggung Dio, kini pikirannya telah terbuka.
“Jadi?”
“Jadi,
aku sebagai pemilik hatinya akan datang untuk menjemputnya. Yeah! Dan aku akan
lebih hati-hati kalau melihat Revan, supaya nggak ada yang ngelaporin aku lagi.
Hahaha..”
Dio
senang melihat Sally menemukan kembali tawanya yang sempat hilang, walaupun
bukan ia alasan Sally tertawa lagi. Sedangkan Sally berlari menuju ruang
terapi, ia tak ragu untuk melihat perkembangan Revan dari dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar