Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[1]Teka-Teki dari Tuhan: Kenangan yang datang tiba-tiba

LEE JONG SUK as REVAN
Revan adalah cowok cool yang sulit mengakui perasaannya, terutama pada cewek yang stupid seperti Sally. Selepas SMA ia sudah bertekad untuk melupakan Sally dan menganggap tak pernah kenal gadis itu, tetapi, Tuhan berkehendak lain, Revan dipertemukan kembali dan menjalani lika-liku kehidupannya.

KRYSTAL as SALLY
Sally adalah gadis periang. Karena suatu insiden, ia kembali teringat pada seseorang yang ia cintai sejak dulu tetapi ia tak pernah menyadarinya. Orang itu adalah Revan, Teman SMAnya yang ia rindukan setelah ia tahu bahwa Revan menyukainya tetapi ia terlambat, karena Revan telah pergi dari kehidupannya setelah beberapa tahun, dan tiba-tiba ia bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda.

KANG HA NEUL as DIO
Dio adalah senior Sally semasa kuliah, tidak ada yang menyangka bahwa ia akan satu tempat kerja dengan Sally. Ia begitu mencintai Sally, Tapi, tidak untuk Sally. Perasaan sayang Sally untuk Dio tak lebih hanya sebagai adik ke kakaknya.

LEE SI YOUNG as ANNA
Setelah memutuskan untuk break dengan Revan, Anna datang kembali karena suatu kejadian. Anna yang merasa masih sebagai pacar Revan, merasa tidak terima kalau Sally menjadi orang yang dicintai Revan





Hidupku mungkin tak begitu indah
Tapi aku rasa kisahku sangat menarik
Karena Tuhan selalu memberikan teka-tekinya
Agar hidupku terasa berwarna

Hari ini tak seperti biasanya, awan gelap mulai berarak dan sepertinya akan turun hujan. Gadis berseragam rapi yang siap berangkat bekerja ini mulai panik dengan pagi yang cukup membuatnya rumit.
“Hei! Ku mohon jangan turun hujan. Aku baru saja satu bulan bekerja, sangat tidak lucu kalau aku datang dengan baju yang basah.” Keluh gadis yang ingin tampil perfect setiap harinya. Dia, Sally.
Tenyata keluhan Sally membuat hujan turun lebat dan petir saling menyambar. Hal ini tak  membuat Sally berniat untuk tidak masuk bekerja, gadis ini memang terkenal dengan kegigihannya di kalangan teman-temannya. Sally tak kehabisan akal, dikenakannya jubah hujan transparan lalu berjalan menuju halte bus sambil membawa payung kuningnya.
“Hahaha..bukankah ini terasa mengasyikan? Berjalan di tengah hujan dengan membawa payung. Bukankah aku seperti berada dalam pembuatan drama? Wohooo!” Sally memang selalu menikmati keadaan.
Keceriaan membuat perjalanan terasa cepat. Sesampainya di halte, Sally segera membuka  jubah hujannya dan berdiri menanti bus bersama kerumunan  orang.
 Dengan kesetiaannya, bus datang  dengan suara khasnya. Sally menaiki bus dan reflek mencari bangku yang kosong.
Bus memang tempat terbaik untuk tidur dikala ketidakpuasan tidur malam dan terpaksa harus beraktivitas di pagi hari, setelah bertahun-tahun Sally tak bisa melanjutkan tidurnya karena harus mengendarai sepeda semasa sekolah.
Bus berhenti sejenak di halte selanjutnya setelah beberapa kilometer dilewatinya. Naiklah seorang laki-laki bertubuh atletis yang segera mencari bangku yang kosong. Ia fokus kepada tujuannya, tetapi pandangannya terhenti ketika melihat seorang gadis manis yang sedang terlelap. Pandangannya berubah menjadi tak karuan seakan kehilangan kefokusannya, perasaannya pun menjadi nano-nano. Ia duduk di bangku yang kebetulan kosong untuk menetralkan perasaannya yang canggung.
“Kenapa dia ada disana? Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Seharusnya Sally sudah lenyap dari pandangan dan pikiranku.” Gumam Revan yang sedang bergejolak hatinya.
Sally selalu bangun tepat waktu dari tidurnya sebelum halte tujuannya terlewati. Ia terbangun dan bergegas turun halte sudah tak jauh lagi.
“Huh! Sampai juga. Selamat pagi Jakarta Hospital! Sekarang langit sudah kembali cerah. Aku siap melayani pasien hari ini.” Sapa Sally kepada rumah sakit tempat ia bekerja yang berada di seberang halte tempat ia bekerja.
***
            Revan yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke Sally, menyadari bahwa Sally sudah turun di halte sebelumnya. Ia cukup lega karena ia tak harus bersembunyi dari gadis yang membuatnya menjadi tak karuan.
Dilihatnya handphone Sally yang masih tergeletak di bangku bus, lalu Revan segera mengambilnya sebelum ada orang jahat yang berniat untuk mencuri handphone itu.
“Orang ini memang tidak pernah pintar, bodohnya masih dipelihara bertahun-tahun. Bisa-bisanya dia lupa dengan handphone-nya sendiri.” Ketus Revan yang masih bimbang harus segera mengembalikan handphone Sally atau menundanya sampai kapan ia tak tahu.
Revan membuka handphone Sally yang tak berpassword itu. “Sejak dulu rasa percaya dirinya memang sangat tinggi, buktinya ia menjadikan foto dirinya sendiri sebagai wallpaper handphone-nya. “ Gumam Revan yang hanya sedikit tertawa melihatnya handphone Sally
Revan mencari apapun mengenai Sally, ternyata Revan menemukan sebuah tulisan di memo handphone Sally, yaitu alamat  tempat Sally bekerja.

My Office : Jakarta Hospital, Jakarta Barat.
“Bukankah itu nama rumah sakit yang cukup besar dan terkenal? Si bodoh itu bekerja di rumah sakit sebesar itu? Apakah dia seorang perawat disana? Ah! Tidak mungkin, pasti dia hanya menjadi cleaning service.” Revan yang selalu berpikiran negatif tentang Sally.
Akhirnya Revan memutuskan untuk mengembalikan handphone Sally sekarang, karena ia sudah tak mau berurusan lagi dengan apapun tentang Sally.
Revan segera turun dari bus dan memilih untuk berjalan saja karena tidak begitu jauh dari rumah sakit. Ia memasuki rumah sakit dengan memegang handphone Sally yang berwarna biru dan masih ragu dengan tindakannya sejauh ini.
Rupanya Revan masih tak mau berhadapan langsung dengan Sally dan memilih untuk menitipkannya pada resepsionis di rumah sakit tersebut. Revan segera pergi menuju tempat tujuan utamanya, yaitu kantor TOP Tv.
***
Waktu menunjukan pukul 7 malam, Sally telah menyelesaikan tugas-tugasnya hari ini dan bersiap-siap untuk pulang. Ruang demi ruang, lantai demi lantai ia lewati untuk keluar dari rumah sakit dan kembali pulang.
“Hei, Sally! Ini handphone-mu bukan?” Tegur Vivi, seorang resepsionis yang sudah menjadi teman akrab Sally.
“Ya Tuhan! Benar, itu handphone-ku yang tertinggal di bus tadi pagi. Lho, bagaimana bisa ada di Mbak Vivi, ya? Hahaha...” Sally terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Tadi pagi ada seorang laki-laki tampan yang menitipkan handphone kamu ini.”
“Oh begitu, ya, Mbak. Baik sekali orang itu. Hmm..aku pulang duluan ya! Terimakasih, Mbak Vivi.” Sally yang tampak bersemangat setelah mendapatkan handphone nya kembali.

Hari ini Sally pulang larut malam, ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang diberikan ibunya. Ruang tamu tampak gelap, sepertinya ibu Sally  sudah terlelap di kamarnya.
“Akhirnya sampai juga dirumah, ingin rasanya aku merelaksasikan tubuhku dengan air hangat dan merebahkan diri di kasur sempitku, lalu terlelap dalam mimpi indah. Tapi aku rasa semua itu tak mungkin terjadi, semua itu terkalahkan oleh rasa takutku.” Ungkap Sally.
Dari kecil Sally memang pengecut, ditambah harus merebus air untuk mandi di malam hari sendirian di dapur. Akhirnya Sally mandi dengan air yang membuatnya menggigil.
“Brrr! Dingin sekali!” Sally menggigil kedinginan dan segera membaringkan badannya di kasur.
Rasa kantuk seakan belum menjamahi matanya, tiba-tiba Sally terpikirkan sesuatu. “Siapa ya orang baik hati yang mengembalikan handphone-ku? Kata Mbak Vivi, orangnya laki-laki. Tapi, siapa ya?”
...........
 “Apa jangan-jangan Revan? Ah! Tidak mungkin. Aku dan dia sudah berbeda dunia.” Tanda tanya di otak Sally menjadi semakin besar.
“Revan. Nama itu tiba-tiba muncul di pikiranku. Entah, aku pun tak mengerti. Dia yang dulu adalah teman yang paling tak beraturan sifatnya. Dia pelit, menyebalkan, hobinya marah-marah, dan kasar. Tapi, aku yakin sampai sekarang ia pasti masih seperti itu dan takkan pernah berubah. Itulah yang paling kurindukan sejak kelulusan SMA hingga sekarang.”
Kata hati Sally.
Seperti biasa, setiap malam bintang selalu menemani sang rembulan seakan membuat Sally iri dengan kebersamaannya. Sally yang selalu sendiri tanpa ada yang menghiburnya, selalu tenggelam dalam masa lalu yang diharapkannya dapat kembali dirasakannya. Seolah menciptakan senyuman penetral kesedihan yang Sally lakukan untuk menjalani hari-harinya supaya lebih berwarna.
“Dibawah langit yang bertabur bintang ini aku kembali memutar kenangan kita. Kenangan yang seharusnya tak pernah ku ingat lagi. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba datang menghantui pikiranku. Dan kenangan inilah yang membuatku menyayangi mu dengan segala perbedaan diantara kita.
Katanya, perbedaan itu indah. Katanya, perbedaan itu dapat disatukan dengan rasa saling melengkapi. Aku rasa semua itu salah. Perbedaan itu menjadi jurang pemisah, perbedaan benar-benar terasa nyata diantara kita.
Lalu, biarkanlah aku beristirahat. Karena aku lelah harus dihantui rasa bersalahku yang tak kunjung usai.” Ucap Sally sambil menatap langit malam.

Akankah Tuhan akan mempertemukan mereka kembali? Kalau iya, seperti apa cara Tuhan mempertemukannya?
So, stay tune saja yaa hanya di silmyhwang.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar