LEE JONG SUK as REVAN
Revan adalah cowok cool yang sulit mengakui perasaannya, terutama pada cewek yang stupid seperti Sally. Selepas SMA ia sudah bertekad untuk melupakan Sally dan menganggap tak pernah kenal gadis itu, tetapi, Tuhan berkehendak lain, Revan dipertemukan kembali dan menjalani lika-liku kehidupannya.
KRYSTAL as SALLY
Sally adalah gadis periang. Karena suatu insiden, ia kembali teringat pada seseorang yang ia cintai sejak dulu tetapi ia tak pernah menyadarinya. Orang itu adalah Revan, Teman SMAnya yang ia rindukan setelah ia tahu bahwa Revan menyukainya tetapi ia terlambat, karena Revan telah pergi dari kehidupannya setelah beberapa tahun, dan tiba-tiba ia bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda.
KANG HA NEUL as DIO
Dio adalah senior Sally semasa kuliah, tidak ada yang menyangka bahwa ia akan satu tempat kerja dengan Sally. Ia begitu mencintai Sally, Tapi, tidak untuk Sally. Perasaan sayang Sally untuk Dio tak lebih hanya sebagai adik ke kakaknya.
LEE SI YOUNG as ANNA
Setelah memutuskan untuk break dengan Revan, Anna datang kembali karena suatu kejadian. Anna yang merasa masih sebagai pacar Revan, merasa tidak terima kalau Sally menjadi orang yang dicintai Revan
Hidupku mungkin tak begitu indah
Tapi
aku rasa kisahku sangat menarik
Karena
Tuhan selalu memberikan teka-tekinya
Agar
hidupku terasa berwarna
Hari ini tak seperti biasanya, awan gelap
mulai berarak dan sepertinya akan turun hujan. Gadis berseragam rapi yang siap
berangkat bekerja ini mulai panik dengan pagi yang cukup membuatnya rumit.
“Hei!
Ku mohon jangan turun hujan. Aku baru saja satu bulan bekerja, sangat tidak
lucu kalau aku datang dengan baju yang basah.” Keluh gadis yang ingin tampil
perfect setiap harinya. Dia, Sally.
Tenyata keluhan Sally membuat hujan turun
lebat dan petir saling menyambar. Hal ini tak
membuat Sally berniat untuk tidak masuk bekerja, gadis ini memang
terkenal dengan kegigihannya di kalangan teman-temannya. Sally tak kehabisan
akal, dikenakannya jubah hujan transparan lalu berjalan menuju halte bus sambil
membawa payung kuningnya.
“Hahaha..bukankah ini terasa mengasyikan?
Berjalan di tengah hujan dengan membawa payung. Bukankah aku seperti berada
dalam pembuatan drama? Wohooo!” Sally memang selalu menikmati keadaan.
Keceriaan membuat perjalanan terasa cepat.
Sesampainya di halte, Sally segera membuka
jubah hujannya dan berdiri menanti bus bersama kerumunan orang.
Dengan kesetiaannya, bus datang dengan suara khasnya. Sally menaiki bus dan
reflek mencari bangku yang kosong.
Bus
memang tempat terbaik untuk tidur dikala ketidakpuasan tidur malam dan terpaksa
harus beraktivitas di pagi hari, setelah bertahun-tahun Sally tak bisa
melanjutkan tidurnya karena harus mengendarai sepeda semasa sekolah.
Bus berhenti sejenak di halte selanjutnya
setelah beberapa kilometer dilewatinya. Naiklah seorang laki-laki bertubuh
atletis yang segera mencari bangku yang kosong. Ia fokus kepada tujuannya,
tetapi pandangannya terhenti ketika melihat seorang gadis manis yang sedang
terlelap. Pandangannya berubah menjadi tak karuan seakan kehilangan
kefokusannya, perasaannya pun menjadi nano-nano. Ia duduk di bangku yang
kebetulan kosong untuk menetralkan perasaannya yang canggung.
“Kenapa dia ada disana? Kenapa aku harus
bertemu lagi dengannya? Seharusnya Sally sudah lenyap dari pandangan dan
pikiranku.” Gumam Revan yang sedang bergejolak hatinya.
Sally selalu bangun tepat waktu dari tidurnya
sebelum halte tujuannya terlewati. Ia terbangun dan bergegas turun halte sudah
tak jauh lagi.
“Huh!
Sampai juga. Selamat pagi Jakarta Hospital! Sekarang langit sudah kembali
cerah. Aku siap melayani pasien hari ini.” Sapa Sally kepada rumah sakit tempat
ia bekerja yang berada di seberang halte tempat ia bekerja.
***
Revan yang sedari tadi mencuri-curi
pandang ke Sally, menyadari bahwa Sally sudah turun di halte sebelumnya. Ia
cukup lega karena ia tak harus bersembunyi dari gadis yang membuatnya menjadi
tak karuan.
Dilihatnya
handphone Sally yang masih tergeletak
di bangku bus, lalu Revan segera mengambilnya sebelum ada orang jahat yang
berniat untuk mencuri handphone itu.
“Orang
ini memang tidak pernah pintar, bodohnya masih dipelihara bertahun-tahun. Bisa-bisanya
dia lupa dengan handphone-nya
sendiri.” Ketus Revan yang masih bimbang harus segera mengembalikan handphone Sally atau menundanya sampai
kapan ia tak tahu.
Revan membuka handphone Sally yang tak berpassword itu. “Sejak dulu rasa percaya
dirinya memang sangat tinggi, buktinya ia menjadikan foto dirinya sendiri
sebagai wallpaper handphone-nya. “
Gumam Revan yang hanya sedikit tertawa melihatnya handphone Sally
Revan
mencari apapun mengenai Sally, ternyata Revan menemukan sebuah tulisan di memo
handphone Sally, yaitu alamat tempat Sally
bekerja.
My
Office : Jakarta Hospital, Jakarta Barat.
“Bukankah
itu nama rumah sakit yang cukup besar dan terkenal? Si bodoh itu bekerja di
rumah sakit sebesar itu? Apakah dia seorang perawat disana? Ah! Tidak mungkin,
pasti dia hanya menjadi cleaning service.”
Revan yang selalu berpikiran negatif tentang Sally.
Akhirnya Revan memutuskan untuk mengembalikan
handphone Sally sekarang, karena ia
sudah tak mau berurusan lagi dengan apapun tentang Sally.
Revan
segera turun dari bus dan memilih untuk berjalan saja karena tidak begitu jauh
dari rumah sakit. Ia memasuki rumah sakit dengan memegang handphone Sally yang berwarna biru dan masih ragu dengan
tindakannya sejauh ini.
Rupanya
Revan masih tak mau berhadapan langsung dengan Sally dan memilih untuk
menitipkannya pada resepsionis di rumah sakit tersebut. Revan segera pergi
menuju tempat tujuan utamanya, yaitu kantor TOP Tv.
***
Waktu menunjukan pukul 7 malam, Sally telah
menyelesaikan tugas-tugasnya hari ini dan bersiap-siap untuk pulang. Ruang demi
ruang, lantai demi lantai ia lewati untuk keluar dari rumah sakit dan kembali
pulang.
“Hei,
Sally! Ini handphone-mu bukan?” Tegur
Vivi, seorang resepsionis yang sudah menjadi teman akrab Sally.
“Ya
Tuhan! Benar, itu handphone-ku yang tertinggal
di bus tadi pagi. Lho, bagaimana bisa ada di Mbak Vivi, ya? Hahaha...” Sally
terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Tadi
pagi ada seorang laki-laki tampan yang menitipkan handphone kamu ini.”
“Oh
begitu, ya, Mbak. Baik sekali orang itu. Hmm..aku pulang duluan ya!
Terimakasih, Mbak Vivi.” Sally yang tampak bersemangat setelah mendapatkan
handphone nya kembali.
Hari ini Sally pulang larut malam, ia membuka
pintu rumah dengan kunci cadangan yang diberikan ibunya. Ruang tamu tampak
gelap, sepertinya ibu Sally sudah
terlelap di kamarnya.
“Akhirnya
sampai juga dirumah, ingin rasanya aku merelaksasikan tubuhku dengan air hangat
dan merebahkan diri di kasur sempitku, lalu terlelap dalam mimpi indah. Tapi
aku rasa semua itu tak mungkin terjadi, semua itu terkalahkan oleh rasa
takutku.” Ungkap Sally.
Dari
kecil Sally memang pengecut, ditambah harus merebus air untuk mandi di malam
hari sendirian di dapur. Akhirnya Sally mandi dengan air yang membuatnya
menggigil.
“Brrr!
Dingin sekali!” Sally menggigil kedinginan dan segera membaringkan badannya di
kasur.
Rasa
kantuk seakan belum menjamahi matanya, tiba-tiba Sally terpikirkan sesuatu.
“Siapa ya orang baik hati yang mengembalikan handphone-ku? Kata Mbak Vivi, orangnya laki-laki. Tapi, siapa ya?”
...........
“Apa jangan-jangan Revan? Ah! Tidak mungkin.
Aku dan dia sudah berbeda dunia.” Tanda tanya di otak Sally menjadi semakin besar.
“Revan. Nama itu tiba-tiba muncul di pikiranku.
Entah, aku pun tak mengerti. Dia yang dulu adalah teman yang paling tak
beraturan sifatnya. Dia pelit, menyebalkan, hobinya marah-marah, dan kasar.
Tapi, aku yakin sampai sekarang ia pasti masih seperti itu dan takkan pernah
berubah. Itulah yang paling kurindukan sejak kelulusan SMA hingga sekarang.”
Kata
hati Sally.
Seperti biasa, setiap malam bintang selalu
menemani sang rembulan seakan membuat Sally iri dengan kebersamaannya. Sally
yang selalu sendiri tanpa ada yang menghiburnya, selalu tenggelam dalam masa
lalu yang diharapkannya dapat kembali dirasakannya. Seolah menciptakan senyuman
penetral kesedihan yang Sally lakukan untuk menjalani hari-harinya supaya lebih
berwarna.
“Dibawah langit yang bertabur bintang ini aku
kembali memutar kenangan kita. Kenangan yang seharusnya tak pernah ku ingat
lagi. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba datang menghantui pikiranku. Dan kenangan
inilah yang membuatku menyayangi mu dengan segala perbedaan diantara kita.
Katanya,
perbedaan itu indah. Katanya, perbedaan itu dapat disatukan dengan rasa saling
melengkapi. Aku rasa semua itu salah. Perbedaan itu menjadi jurang pemisah,
perbedaan benar-benar terasa nyata diantara kita.
Lalu,
biarkanlah aku beristirahat. Karena aku lelah harus dihantui rasa bersalahku yang
tak kunjung usai.” Ucap Sally sambil
menatap langit malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar