Pagi yang cerah di minggu pagi. Sally mengawali
pagi ini ini dengan ucapan terimakasih kepada Tuhan yang senantiasa mengukir
senyuman di bibirnya.
“Sal,
tidak biasanya kamu bangun pagi. Biasanya kalau libur, kamu bangun diatas jam
10.” Ibu menegur Sally yang sedang membersihkan ruang tamu.
“Bu,
aku ini sudah berubah menjadi gadis yang rajin.” Sally tersenyum-senyum
sendiri.
“Pasti
ada alasan dibalik berubahnya anak ibu ini. Hahaha..” Ibu tertawa mendengar
jawaban Sally.
Tentu saja Sally heran dengan dirinya
sendiri, bagaimana bisa ia rajin seperti ini. Mungkin karena efek kejadian
semalam. Hampir semua pekerjaan rumah pagi ini Sally yang mengerjakan, dari
mencuci hingga membersihkan rumah.
Sally
membuka lemari dan memilih pakaian yang cantik untuk dikenakan. Ia merasa selera
fashionnya sangat buruk. Ada beberapa pakaian yang cukup good looking, itupun hanya ia pakai saat acara tertentu saja. “Aish!
Sally, pantas saja tak ada laki-laki yang mau mendekatimu.” Sally memukul
kepalanya.
Ibu sudah curiga dengan tingkah Sally yang
aneh belakangan ini. Sepertinya ia tahu bahwa anaknya sedang kasmaran.
Sally
berpamitan dengan ibunya dan beralasan pergi hang out bersama teman lamanya. Ia membuka pagar rumah dan berjalan
menuju halte bus lalu menaiki bus yang selalu datang tepat waktu. Wajahnya
sangat bersinar hari ini.
Sepanjang
perjalanan Sally tak pernah tidur seperti biasanya, terkadang ia mencubiti
pipinya sambil tersenyum senyum sendiri untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi
belaka.
Lalu lintas pagi ini cukup lancar dan membuat
Sally cepat campai ke tujuan. Sally berjalan menuju taman dan menunggu Revan
yang belum nampak kehadirannya.
Satu
per satu orang-orang yang berlalu lalang ia selalu memperhatikan, apakah Revan
ada diantaranya atau tidak. Ternyata, tidak.
Sally
merasa jenuh menunggu sendirian dan hampir memasuki tingkat kekecewaan.
Beberapa pasang mata yang sedang tertawa ceria, Sally hanya bisa bersabar dan
yakin akan kedatangan Revan.
“Katanya
janjian di sini jam 11, sekarang sudah jam 1 siang dia belum datang juga. Dasar
pemberi harapan palsu.” Sally menendang-nendang angin yang ada di depan
kakinya.
“Bodoh,
aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tertipu lagi olehnya. Apakah aku sang
penikmat harapan palsu yang senantiasa tertipu dengan harapan-harapan palsunya?
Seharusnya aku tak berada di sini dan tidak tersenyum-senyum sendiri seperti
orang gila.” Sally berancang-ancang untuk bangun dari duduknya.
Sally bangun dari bangku taman dan hendak
pulang kerumah dengan segala kekecewaan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekap
wajahnya dari belakang, Sally terkejut dan sontak berbalik badan ke arah orang
misterius itu. Dia Revan, seseorang yang selalu mengejutkan Sally dengan
mendekap wajahnya.
“Kamu...”
Sally menghela napas lega.
“Masih
sama seperti dulu, selalu mudah kaget.” Revan memandang Sally dengan tatapan
menahan tawa.
“Heh!
Siapa orang yang tidak kaget kalau ada orang yang mendekap wajahnya dari
belakang?!” Sally memarahi Revan
“Bagaimana, sudah lama menunggu? Hahaha...”
“Hampir
saja aku tinggal pulang. Bagus sekali kamu menyuruhku menunggu 2 jam. Lain kali,
aku tidak mau dijanjikan kamu lagi.” Sally berusaha memasang wajah ketus di
depan Revan, padahal hatinya merasa lega karena orang yang sangat ia tunggu
sudah datang.
“Aku
tahu. Ekspresimu lucu sekali kalau sedang bosan. Hahaha...”
Sudah lama sekali Revan tak bercanda dengan
Sally seperti ini. Ia selalu menepuk badannya ketika tertawa terbahak bahak.,
menarik bajunya ketika kesal, dan selalu pasrah kalau Revan sedang menindasnya.
Semuanya tak ada yang berubah, kecuali Revan yang selalu mencoba menghindari
Sally.
“Bodoh,
kenapa kamu tidak datang di setiap acara reuni angkatan kita?”
“Bukankah
aku akan diasingkan di sana? Aku lihat di foto yang kalian share. Hanya kalian yang populer saja yang datang. Sepertinya kamu
juga senang bertemu dengan teman-teman lamamu.” Sally memberi alasan.
“Hm,
aku memang senang sekali. Hahahaha.” Revan mencairkan suasana.
“Lalu,
kita hanya di sini saja, begitu?” Sally mengalihkan pembicaraan.
“Ayo,
ikut aku!” Revan secepat kilat menarik tangan Sally dan mengajaknya untuk naik
ke motornya.
Sepanjang jalan Sally bertanya-tanya kemana
ia akan dibawa pergi. Tapi, Revan tak sekalipun menjawab dan hanya tersenyum
diam-diam.
“Van,
kita mau kemana sih?”
“Kamu
cerewet sekali. Nanti kamu akan tahu.” Revan menjawab karena tak tahan dengan
celotehan Sally sedari tadi.
Revan
menghentikan laju motornya di suatu tempat yang sangat bersejarah untuk mereka.
Revan benar-benar banyak akal, ia melewati
arah yang berbeda menuju tempat ini. Tempat pertama kali mereka dipertemukan,
di SMA Pelita Bangsa.
Sudah
lama Sally ingin ke tempat ini, tapi ia selalu mengurungkan niatnya karena
kenangan yang pernah ada pasti muncul lagi.
“Sekolah kita. Ini sekolah kita.” Sally tak
menyangka ia bisa berdiri di tempat ini lagi, terlebih bersama Si Pembuat
Kenangan.
“Ayo,
masuk!” Revan menarik tangan Sally.
Ada banyak kenangan di tempat ini. Sedih,
senang, kesal, marah pernah mereka lakukan bersama. Awalnya, Revan tak tahu
perasaan yang ia rasakan. Ia mencoba menahannya, tapi, mengapa sangat sesak
ketika mengingat Sally pernah berlari mengejarnya untuk bercerita tentang orang
yang ia suka. Sally yang selalu mengabaikan Revan.
Revan
dan Sally menaiki lantai 3 sekolah dan berjalan menuju kelas mereka dulu, yaitu
kelas 10A. Sally tak terlihat seperti biasanya. Revan tak pernah melihat
ekspresi wajah Sally seperti yang ia tunjukkan sekarang, raut wajahnya nampak
sendu dan sepertinya ia terharu.
“Kelas ini mengapa banyak berubah, warna
catnya sudah tidak lagi berwarna hijau seperti dulu.” Sally memegang tembok yang menjadi saksi
kenangan mereka.
“Kamu
tidak perlu heran, semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.” Revan
menepis komentar Sally.
“aku
tidak pernah menyangka, sekarang aku berdiri di depan kelas ini bersama orang
yang paling menyebalkan.”
“Memangnya
dulu aku sangat menyebalkan, ya?”
“Dulu
dan sekarang kamu tetap menyebalkan.”
“Sally, ke sini!” Revan meninggalkan Sally
yang berada di balkon dan berlari ke dalam kelas.
“Tidak
biasanya kamu memanggil namaku. Hahaha...”
Revan
duduk di bangkunya saat kelas 10. “Tepat di bangku ini, aku pernah menjajahmu
selama 2 semester.”
“Tepat
di bangku ini, di depan bangkumu. aku pernah jadi korban penindasanmu.” Sally
mulai memasuki dimensi saat mereka kelas 10.
“Sejujurnya,
pernah menjajahmu adalah hal yang paling
membanggakan dalam hidupku.”
Sally hanya tetawa kecil setelah mendengar
kalimat terakhir yang diucapkan Revan. Sally tak mampu berkata-kata apa lagi.
Revan tepat duduk di belakang Sally, bangku dimana ia duduk semasa kelas 10. Begitu terasa atmosfer
yang pernah Sally rasakan dulu. “Maafkan
aku Revan, aku pernah mengabaikanmu sehingga membuatmu pergi karena kebodohanku.”
Ungkap Sally yang terhanyut dalam arus masa lalunya.
Mereka
meninggalkan kelas 10A dan berjalan perlahan sambil merasakan kenangan dulu.
Tak ada yang berubah dari Revan, Ia masih seperti dulu, selalu memukul kepala
Sally dan tertawa setiap melakukan itu.
“Kamu ingat tempat itu? Kamu pernah sengaja menyiramku
dengan air dari tempat itu.” Sally menunjuk balkon di depan kelas 12C.
“Aku
merindukan masa-masa itu.” Revan yang tak menyadari ucapannya.
“Apa?”
“Tidak,
tidak ada. Aku menyirammu karena saat itu wajahmu seperti orang belum mandi.”
Revan beralibi.
“Apa
dia bilang, dia merindukannya? Revan, kemunafikanmu selalu terbaca oleh ku.
Mengapa kamu selalu menyembunyikan perasaanmu, padahal aku sudah bisa menebak
yang sebenarnya. Hanya satu hal yang belum bisa aku tebak, yaitu alasan dibalik
kebungkamanmu.” Sally menatap kuat Revan, seolah-olah matanya mengikuti
perkataan yang ada di dalam hatinya.
Sally dan Revan melakukan hal yang sama
seperti dulu. Bermain, bercanda, dan saling menindas satu sama lain. Kelas 12C
adalah kelas mereka saat kelas 12.
Mereka
hanya terpisah saat kelas 11, dan dipertemukan kembali di kelas 12C.
Revan
menyambangi Sally yang sedang membuka bekal makanannya. Ini menjadi sesuatu
yang paling Revan ingat, Sally selalu membawa makanan kemana pun ia pergi. Revan
juga tak tahu alasannya, ‘mungkin Sally selalu lapar dan ingin menghemat uang’
Revan selalu menanamkan alibi itu ketika dilanda rasa heran.
Makanan
yang Sally bawa selalu terasa enak dan rasanya tak pernah berubah. Revan tak
yakin itu adalah buatan Sally, dan yakin itu pasti buatan ibunya.
“Begitu
ya, makan tidak nawari aku?”
“Biasanya
kamu langsung ambil sendiri tanpa sepengetahuanku.” Balas Sally.
“Hahaha..benar.
Kamu tau tidak kenapa aku selalu makan makananmu?”
“Aku
tahu. Kamu itu pelit, jadi, kamu tidakk mau keluar uang untuk membeli makanan.”
Sally tertawa keras.
“Hahaha...Salah,
karena makanan yang kamu bawa selalu enak, apalagi bakwan jagung ini. Masakan
mamaku tidak seenak ini. Itu alasanku.”
“Kenapa
kamu tidak bilang dari dulu? Aku bisa bilang ke ibuku kalau ada orang yang
menggemari masakannya dan selalu mengambil jatahku.”
Revan tak bisa menjawab pertanyaan Sally dan
hanya terdiam menatapnya. Seakan terpaku pada keadaan yang tak bisa teralihkan
lagi. “Haruskah aku memberikan jawaban yang sebenarnya? Aku tak tega padanya
yang selalu menebak nebak sendiri dengan asumsinya. Kurasa ini bukan waktu yang
tepat untuk mengatakannya, lalu kenapa Tuhan mendorong aku ke tempat ini
bersamanya? Mungkinkah ini jalan yang sudah ditakdirkannya? Jalan yang
sebenarnya tak aku inginkan.” Revan bergejolak dengan hatinya.
“Kamu kenapa diam? Kalau kamu tidak mau makan,
itu bagus sekali. Biar aku yang habiskan.” Sally memecah lamunan Revan.
“Pasti
aku mau. Jangan harap kamu bisa bebas dari penindasanku kali ini. Hahaha...”
Sally diputar pada kenangan bersama Revan dan
ia menyukainya. Semenjak terpisah selama 6 tahun, Sally selalu membawa bekal
makanan kemana pun ia pergi. Itu Sally lakukan karena ia ingin mengenang Revan
dan berharap bisa makan bersamanya lagi seperti yang mereka lakukan dulu. Dan
harapan yang ia kira hanya harapan yang
tak pernah terwujudkan, sekarang Tuhan telah mewujudkannya. Meskipun Sally
harus melewati penantian yang sangat membuatnya lelah.
Sally merasa senang melihat Revan
makan dengan lahap. Ekspresinya tak berbeda, begitu jelas terekam di memori
otak Sally. “Revan, bisakah kamu kembali seperti dulu, yang selalu membuat
perasaanku menjadi nano-nano, membuat aku merasa bangkit ketika aku sedih, dan
tertawa denganku setiap saat.” Pinta Sally dalam doanya.
“Tuhan,
lambatkanlah waktu yang kian terasa cepat berlalu. Aku tak ingin ini berakhir.
Berikanlah aku kesempatan atas kebodohan yang pernah aku miliki, aku ingin
terus begini. Melihatnya tertawa lepas seperti halnya aku dan Revan lakukan.
“Hei,
yang terakhir ini untukku!” Revan merebut gagang sendok yang dipegang Sally dengan
cepat.
“Iya,
ini untukmu. Aku sudah kenyang, kok.” Sally berjalan menuju balkon.
Revan
segera menghabiskan makanan dan menghampiri Sally yang nampak aneh.
“Kamu
marah karena makanannya aku habiskan?”
Sally
menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis dan perlahan air mata membasahi
pipinya.
“Sal,
kamu nangis? Gara-gara aku?” Revan mulai merasa bersalah.
“Iya,
gara-gara kamu. Sorry, aku pergi duluan.”
Revan
mengejar Sally yang cukup cepat berlari. Apa yang ada di pikiran Sally ia tak
tahu, mengapa Sally tiba-tiba seperti itu.
Sally pergi dari tempat itu, tempat yang tak
bisa membuatnya menahan air mata yang kini telah terjatuh. “Maaf Revan, aku
belum bisa jujur. Karena tidak mungkin untukku mengatakannya lebih dulu, aku
menunggumu.”
Revan
masih berasumsi sendiri tentang apa yang tejadi dengan Sally. Ia beranjak dari
balkon dan merapikan bekal Sally yang masih tergeletak di atas meja kelas lalu
menuruni anak tangga untuk mengejar Sally yang belum berada terlalu jauh dari
sekitar sekolah.
Sallly sudah tak kuat lagi berlari dalam
suasana hati yang kacau. Ia mencoba menghindari Revan yang ia pikir sedang mencarinya
sekarang, bersembunyi dibalik mobil yang sedang parkir di tepi jalan pun
menjadi pilihan terbaik Sally saat ini.
Revan
kelimpungan sendiri dengan Sally, dilihatnya ke berbagai tempat sambil
mengendarai motornya. Tapi, Sally belum terlihat juga. “Kemana perginya anak
itu? Buang-buang waktuku saja. Buat apa aku harus mencarinya, lebih baik aku
pulang saja.” Revan putus asa mencari Sally.
Tanpa
disadari, Revan telah melewatkan Sally yang sedang bersembunyi di balik mobil
sedan berwarna hitam itu. Revan tetap melajukan motornya dengan kecepatan yang
tidak terlalu tinggi. Sementara Sally, sudah pasrah karena mobil yang berada di
sampingnya akan segera pergi. “Aduh, bagaimana ini? Please, van, jangan lihat
aku.” Sally panik.
Revan
yang kebetulan melihat kaca spionnya, tak sengaja melihat Sally yang sedang
berdiri salah tingkah tak jauh dari belakangnya. Ia segera menghentikan
motornya dan tertawa terbahak bahak.
Sally
yang menyadari bahwa Revan mengetahui dirinya sekarang, dengan cepat ia
berjalan ke arah balik karena sepertinya Revan akan segera menangkapnya.
“Ah!
Dia semakin dekat, mau ditaruh dimana wajah aku ini?” Sally berjalan cepat
tanpa menoleh ke belakang.
“Ah!
Apa ini?! Sakit sekali.” Sally memegang kepalanya yang dilempar kotak
bekalnya dengan Revan.
“Hahaha..jadi
orang jangan terlalu bodoh,” Revan menghentikan motornya di belakang Sally.
“Matilah aku, sekarang dia bisa puas
menertawakanku. Apa yang akan ia lakukan terhadapku setelah ini? Tak seharusnya
aku bertindak bodoh seperti sekarang, karena Revan jauh lebih pintar daripada
aku.” Sally menunduk dan memalingkan wajahnya.
“Kalau
kangen sama aku, kamu tidak perlu lari, lalu mengumpat di belakang mobil. Bilang
saja langsung.” Revan tertawa sambil memukul kepala Sally. Sally hanya
tersenyum malu melihat wajah Revan. Revan selalu bisa membuatnya kalah telak.
Revan
mengantarkan Sally pulang sampai di depan rumah. “Dia sangat manis hari ini,
rasanya ingin sekali aku menempelkan wajahnya di bantal tidurku, menjadikan
suara tawanya sebagai ringtone handphone ku, dan menyimpannya di lemari bajuku.
Revan, buatlah aku tersenyum seperti ini setiap hari.” Ucap Sally di dalam
benaknya.
“Hati
hati ya, Van. Jangan ngebut naik
motornya.” Sally memberikan nasehat
kepada Revan.
“Iya,
orang bodoh.” Revan kembali menertawakan Sally.
“Van....”
Sally yang berpura pura memasang tampang ganas dan bersiap melemparkan tasnya
ke wajah Revan.
“Peace,
Girl. Oh ya..kamu harus siap ya, karena mulai hari ini sampai seterusnya,
hari-harimu tidak akan bisa tenang. Hahaha.”
Revan pergi setelah Sally masuk ke dalam
rumah. Sally berterimakasih pada Revan karena hari ini ia baik sekali. Seumur
hidup Sally, baru kali ini ada seseorang yang mengantarnya pulang dan ia tak
pernah menyangka, Revan yang melakukan itu. Seseorang yang tak diduga oleh
Sally.
***
“Kalau orangnya pernah menyakiti kamu, lebih
baik jangan pernah kamu bawa lagi kesini.”
Suara ibu mengejutkan Sally yang baru saja membuka pintu.
“Ibu,
buat aku kaget saja.”
“Cuma
itu pesan ibu buat kamu.”
Aku
tak mengerti apa maksud ibu berkata seperti itu kepadaku. Sepertinya ibu masih
trauma karena dikhianati ayah dan tidak ingin itu terjadi kepadaku juga. Sejak
dulu, aku memang tak pernah bercerita tentang orang yang aku suka apalagi
membawanya ke rumah. Kadang aku merasa kalau ibu tak pernah mengalami masa muda
karena tak bisa mengerti perasaanku.
Bukanya
mencerna perkataan ibu barusan, aku malah masuk ke kamar dan memikirkan
kejadian yang sangat membuat aku bahagia hari ini. Tuhan, semoga hari hari ku
selalu seperti ini setiap hari.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar