Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[3]Teka - Teki dari Tuhan: Hari paling membahagiakan

Pagi yang cerah di minggu pagi. Sally mengawali pagi ini ini dengan ucapan terimakasih kepada Tuhan yang senantiasa mengukir senyuman di bibirnya.
“Sal, tidak biasanya kamu bangun pagi. Biasanya kalau libur, kamu bangun diatas jam 10.” Ibu menegur Sally yang sedang membersihkan ruang tamu.
“Bu, aku ini sudah berubah menjadi gadis yang rajin.” Sally tersenyum-senyum sendiri.
“Pasti ada alasan dibalik berubahnya anak ibu ini. Hahaha..” Ibu tertawa mendengar jawaban Sally.
Tentu saja Sally heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia rajin seperti ini. Mungkin karena efek kejadian semalam. Hampir semua pekerjaan rumah pagi ini Sally yang mengerjakan, dari mencuci hingga membersihkan rumah.
Sally membuka lemari dan memilih pakaian yang cantik untuk dikenakan. Ia merasa selera fashionnya sangat buruk. Ada beberapa pakaian yang cukup good looking, itupun hanya ia pakai saat acara tertentu saja. “Aish! Sally, pantas saja tak ada laki-laki yang mau mendekatimu.” Sally memukul kepalanya.
Ibu sudah curiga dengan tingkah Sally yang aneh belakangan ini. Sepertinya ia tahu bahwa anaknya sedang kasmaran.
Sally berpamitan dengan ibunya dan beralasan pergi hang out bersama teman lamanya. Ia membuka pagar rumah dan berjalan menuju halte bus lalu menaiki bus yang selalu datang tepat waktu. Wajahnya sangat bersinar hari ini.
Sepanjang perjalanan Sally tak pernah tidur seperti biasanya, terkadang ia mencubiti pipinya sambil tersenyum senyum sendiri untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi belaka.
Lalu lintas pagi ini cukup lancar dan membuat Sally cepat campai ke tujuan. Sally berjalan menuju taman dan menunggu Revan yang belum nampak kehadirannya.
Satu per satu orang-orang yang berlalu lalang ia selalu memperhatikan, apakah Revan ada diantaranya atau tidak. Ternyata, tidak.
Sally merasa jenuh menunggu sendirian dan hampir memasuki tingkat kekecewaan. Beberapa pasang mata yang sedang tertawa ceria, Sally hanya bisa bersabar dan yakin akan kedatangan Revan.
“Katanya janjian di sini jam 11, sekarang sudah jam 1 siang dia belum datang juga. Dasar pemberi harapan palsu.” Sally menendang-nendang angin yang ada di depan kakinya.
“Bodoh, aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tertipu lagi olehnya. Apakah aku sang penikmat harapan palsu yang senantiasa tertipu dengan harapan-harapan palsunya? Seharusnya aku tak berada di sini dan tidak tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.” Sally berancang-ancang untuk bangun dari duduknya.
Sally bangun dari bangku taman dan hendak pulang kerumah dengan segala kekecewaan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekap wajahnya dari belakang, Sally terkejut dan sontak berbalik badan ke arah orang misterius itu. Dia Revan, seseorang yang selalu mengejutkan Sally dengan mendekap wajahnya.
“Kamu...” Sally menghela napas lega.
“Masih sama seperti dulu, selalu mudah kaget.” Revan memandang Sally dengan tatapan menahan tawa.
“Heh! Siapa orang yang tidak kaget kalau ada orang yang mendekap wajahnya dari belakang?!” Sally memarahi Revan
 “Bagaimana, sudah lama menunggu? Hahaha...”
“Hampir saja aku tinggal pulang. Bagus sekali kamu menyuruhku menunggu 2 jam. Lain kali, aku tidak mau dijanjikan kamu lagi.” Sally berusaha memasang wajah ketus di depan Revan, padahal hatinya merasa lega karena orang yang sangat ia tunggu sudah datang.
“Aku tahu. Ekspresimu lucu sekali kalau sedang bosan. Hahaha...”
Sudah lama sekali Revan tak bercanda dengan Sally seperti ini. Ia selalu menepuk badannya ketika tertawa terbahak bahak., menarik bajunya ketika kesal, dan selalu pasrah kalau Revan sedang menindasnya. Semuanya tak ada yang berubah, kecuali Revan yang selalu mencoba menghindari Sally.
“Bodoh, kenapa kamu tidak datang di setiap acara reuni angkatan kita?”
“Bukankah aku akan diasingkan di sana? Aku lihat di foto yang kalian share. Hanya kalian yang populer saja yang datang. Sepertinya kamu juga senang bertemu dengan teman-teman lamamu.” Sally memberi alasan.
“Hm, aku memang senang sekali. Hahahaha.” Revan mencairkan suasana.
“Lalu, kita hanya di sini saja, begitu?” Sally mengalihkan pembicaraan.
“Ayo, ikut aku!” Revan secepat kilat menarik tangan Sally dan mengajaknya untuk naik ke motornya.
Sepanjang jalan Sally bertanya-tanya kemana ia akan dibawa pergi. Tapi, Revan tak sekalipun menjawab dan hanya tersenyum diam-diam.
“Van, kita mau kemana sih?”
“Kamu cerewet sekali. Nanti kamu akan tahu.” Revan menjawab karena tak tahan dengan celotehan Sally sedari tadi.
Revan menghentikan laju motornya di suatu tempat yang sangat bersejarah untuk mereka.
Revan benar-benar banyak akal, ia melewati arah yang berbeda menuju tempat ini. Tempat pertama kali mereka dipertemukan, di SMA Pelita Bangsa.
Sudah lama Sally ingin ke tempat ini, tapi ia selalu mengurungkan niatnya karena kenangan yang pernah ada pasti muncul lagi.
“Sekolah kita. Ini sekolah kita.” Sally tak menyangka ia bisa berdiri di tempat ini lagi, terlebih bersama Si Pembuat Kenangan.
“Ayo, masuk!” Revan menarik tangan Sally.
Ada banyak kenangan di tempat ini. Sedih, senang, kesal, marah pernah mereka lakukan bersama. Awalnya, Revan tak tahu perasaan yang ia rasakan. Ia mencoba menahannya, tapi, mengapa sangat sesak ketika mengingat Sally pernah berlari mengejarnya untuk bercerita tentang orang yang ia suka. Sally yang selalu mengabaikan Revan.
Revan dan Sally menaiki lantai 3 sekolah dan berjalan menuju kelas mereka dulu, yaitu kelas 10A. Sally tak terlihat seperti biasanya. Revan tak pernah melihat ekspresi wajah Sally seperti yang ia tunjukkan sekarang, raut wajahnya nampak sendu dan sepertinya ia terharu.
“Kelas ini mengapa banyak berubah, warna catnya sudah tidak lagi berwarna hijau seperti dulu.”  Sally memegang tembok yang menjadi saksi kenangan mereka.
“Kamu tidak perlu heran, semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.” Revan menepis komentar Sally.
“aku tidak pernah menyangka, sekarang aku berdiri di depan kelas ini bersama orang yang paling menyebalkan.”
“Memangnya dulu aku sangat menyebalkan, ya?”
“Dulu dan sekarang kamu tetap menyebalkan.”
“Sally, ke sini!” Revan meninggalkan Sally yang berada di balkon dan berlari ke dalam kelas.
“Tidak biasanya kamu memanggil namaku. Hahaha...”
Revan duduk di bangkunya saat kelas 10. “Tepat di bangku ini, aku pernah menjajahmu selama 2 semester.”
“Tepat di bangku ini, di depan bangkumu. aku pernah jadi korban penindasanmu.” Sally mulai memasuki dimensi saat mereka kelas 10.
“Sejujurnya, pernah menjajahmu  adalah hal yang paling membanggakan dalam hidupku.”
Sally hanya tetawa kecil setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Revan. Sally tak mampu berkata-kata apa lagi. Revan tepat duduk di belakang Sally, bangku dimana ia  duduk semasa kelas 10. Begitu terasa atmosfer yang pernah  Sally rasakan dulu. “Maafkan aku Revan, aku pernah mengabaikanmu sehingga membuatmu pergi karena kebodohanku.” Ungkap Sally yang terhanyut dalam arus masa lalunya.
Mereka meninggalkan kelas 10A dan berjalan perlahan sambil merasakan kenangan dulu. Tak ada yang berubah dari Revan, Ia masih seperti dulu, selalu memukul kepala Sally dan tertawa setiap melakukan itu.
“Kamu ingat tempat itu? Kamu pernah sengaja menyiramku dengan air dari tempat itu.” Sally menunjuk balkon di depan kelas 12C.
“Aku merindukan masa-masa itu.” Revan yang tak menyadari ucapannya.
“Apa?”
“Tidak, tidak ada. Aku menyirammu karena saat itu wajahmu seperti orang belum mandi.” Revan beralibi.
“Apa dia bilang, dia merindukannya? Revan, kemunafikanmu selalu terbaca oleh ku. Mengapa kamu selalu menyembunyikan perasaanmu, padahal aku sudah bisa menebak yang sebenarnya. Hanya satu hal yang belum bisa aku tebak, yaitu alasan dibalik kebungkamanmu.” Sally menatap kuat Revan, seolah-olah matanya mengikuti perkataan yang ada di dalam hatinya.
Sally dan Revan melakukan hal yang sama seperti dulu. Bermain, bercanda, dan saling menindas satu sama lain. Kelas 12C adalah kelas mereka saat kelas 12.
Mereka hanya terpisah saat kelas 11, dan dipertemukan kembali di kelas 12C.
Revan menyambangi Sally yang sedang membuka bekal makanannya. Ini menjadi sesuatu yang paling Revan ingat, Sally selalu membawa makanan kemana pun ia pergi. Revan juga tak tahu alasannya, ‘mungkin Sally selalu lapar dan ingin menghemat uang’ Revan selalu menanamkan alibi itu ketika dilanda rasa heran.
Makanan yang Sally bawa selalu terasa enak dan rasanya tak pernah berubah. Revan tak yakin itu adalah buatan Sally, dan yakin itu pasti buatan ibunya.
“Begitu ya, makan tidak nawari aku?”
“Biasanya kamu langsung ambil sendiri tanpa sepengetahuanku.” Balas Sally.
“Hahaha..benar. Kamu tau tidak kenapa aku selalu makan makananmu?”
“Aku tahu. Kamu itu pelit, jadi, kamu tidakk mau keluar uang untuk membeli makanan.” Sally tertawa keras.
“Hahaha...Salah, karena makanan yang kamu bawa selalu enak, apalagi bakwan jagung ini. Masakan mamaku tidak seenak ini. Itu alasanku.”
“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu? Aku bisa bilang ke ibuku kalau ada orang yang menggemari masakannya dan selalu mengambil jatahku.”
Revan tak bisa menjawab pertanyaan Sally dan hanya terdiam menatapnya. Seakan terpaku pada keadaan yang tak bisa teralihkan lagi. “Haruskah aku memberikan jawaban yang sebenarnya? Aku tak tega padanya yang selalu menebak nebak sendiri dengan asumsinya. Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, lalu kenapa Tuhan mendorong aku ke tempat ini bersamanya? Mungkinkah ini jalan yang sudah ditakdirkannya? Jalan yang sebenarnya tak aku inginkan.” Revan bergejolak dengan hatinya.
 “Kamu kenapa diam? Kalau kamu tidak mau makan, itu bagus sekali. Biar aku yang habiskan.” Sally memecah lamunan Revan.
“Pasti aku mau. Jangan harap kamu bisa bebas dari penindasanku kali ini. Hahaha...”
Sally diputar pada kenangan bersama Revan dan ia menyukainya. Semenjak terpisah selama 6 tahun, Sally selalu membawa bekal makanan kemana pun ia pergi. Itu Sally lakukan karena ia ingin mengenang Revan dan berharap bisa makan bersamanya lagi seperti yang mereka lakukan dulu. Dan harapan yang  ia kira hanya harapan yang tak pernah terwujudkan, sekarang Tuhan telah mewujudkannya. Meskipun Sally harus melewati penantian yang sangat membuatnya lelah.
            Sally merasa senang melihat Revan makan dengan lahap. Ekspresinya tak berbeda, begitu jelas terekam di memori otak Sally. “Revan, bisakah kamu kembali seperti dulu, yang selalu membuat perasaanku menjadi nano-nano, membuat aku merasa bangkit ketika aku sedih, dan tertawa denganku setiap saat.” Pinta Sally dalam doanya.
            “Tuhan, lambatkanlah waktu yang kian terasa cepat berlalu. Aku tak ingin ini berakhir. Berikanlah aku kesempatan atas kebodohan yang pernah aku miliki, aku ingin terus begini. Melihatnya tertawa lepas seperti halnya aku dan Revan lakukan.
“Hei, yang terakhir ini untukku!” Revan merebut gagang sendok yang dipegang Sally dengan cepat.
“Iya, ini untukmu. Aku sudah kenyang, kok.” Sally berjalan menuju balkon.
Revan segera menghabiskan makanan dan menghampiri Sally yang nampak aneh.
“Kamu marah karena makanannya aku habiskan?”
Sally menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis dan perlahan air mata membasahi pipinya.
“Sal, kamu nangis? Gara-gara aku?” Revan mulai merasa bersalah.
“Iya, gara-gara kamu. Sorry, aku pergi duluan.”
Revan mengejar Sally yang cukup cepat berlari. Apa yang ada di pikiran Sally ia tak tahu, mengapa Sally tiba-tiba seperti itu.
Sally pergi dari tempat itu, tempat yang tak bisa membuatnya menahan air mata yang kini telah terjatuh. “Maaf Revan, aku belum bisa jujur. Karena tidak mungkin untukku mengatakannya lebih dulu, aku menunggumu.”
Revan masih berasumsi sendiri tentang apa yang tejadi dengan Sally. Ia beranjak dari balkon dan merapikan bekal Sally yang masih tergeletak di atas meja kelas lalu menuruni anak tangga untuk mengejar Sally yang belum berada terlalu jauh dari sekitar sekolah.
Sallly sudah tak kuat lagi berlari dalam suasana hati yang kacau. Ia mencoba menghindari Revan yang ia pikir sedang mencarinya sekarang, bersembunyi dibalik mobil yang sedang parkir di tepi jalan pun menjadi pilihan terbaik Sally saat ini.
Revan kelimpungan sendiri dengan Sally, dilihatnya ke berbagai tempat sambil mengendarai motornya. Tapi, Sally belum terlihat juga. “Kemana perginya anak itu? Buang-buang waktuku saja. Buat apa aku harus mencarinya, lebih baik aku pulang saja.” Revan putus asa mencari Sally.
Tanpa disadari, Revan telah melewatkan Sally yang sedang bersembunyi di balik mobil sedan berwarna hitam itu. Revan tetap melajukan motornya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Sementara Sally, sudah pasrah karena mobil yang berada di sampingnya akan segera pergi. “Aduh, bagaimana ini? Please, van, jangan lihat aku.” Sally panik.
Revan yang kebetulan melihat kaca spionnya, tak sengaja melihat Sally yang sedang berdiri salah tingkah tak jauh dari belakangnya. Ia segera menghentikan motornya dan tertawa terbahak bahak.
Sally yang menyadari bahwa Revan mengetahui dirinya sekarang, dengan cepat ia berjalan ke arah balik karena sepertinya Revan akan segera menangkapnya.
“Ah! Dia semakin dekat, mau ditaruh dimana wajah aku ini?” Sally berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
“Ah! Apa ini?! Sakit sekali.” Sally memegang kepalanya yang dilempar kotak bekalnya  dengan Revan.
“Hahaha..jadi orang jangan terlalu bodoh,” Revan menghentikan motornya di belakang Sally.
“Matilah aku, sekarang dia bisa puas menertawakanku. Apa yang akan ia lakukan terhadapku setelah ini? Tak seharusnya aku bertindak bodoh seperti sekarang, karena Revan jauh lebih pintar daripada aku.” Sally menunduk dan memalingkan wajahnya.
“Kalau kangen sama aku, kamu tidak perlu lari, lalu mengumpat di belakang mobil. Bilang saja langsung.” Revan tertawa sambil memukul kepala Sally. Sally hanya tersenyum malu melihat wajah Revan. Revan selalu bisa membuatnya kalah telak.
Revan mengantarkan Sally pulang sampai di depan rumah. “Dia sangat manis hari ini, rasanya ingin sekali aku menempelkan wajahnya di bantal tidurku, menjadikan suara tawanya sebagai ringtone handphone ku, dan menyimpannya di lemari bajuku. Revan, buatlah aku tersenyum seperti ini setiap hari.” Ucap Sally di dalam benaknya.
“Hati hati ya, Van.  Jangan ngebut naik motornya.”  Sally memberikan nasehat kepada Revan.
“Iya, orang bodoh.” Revan kembali menertawakan Sally.
“Van....” Sally yang berpura pura memasang tampang ganas dan bersiap melemparkan tasnya ke wajah Revan.
“Peace, Girl. Oh ya..kamu harus siap ya, karena mulai hari ini sampai seterusnya, hari-harimu tidak akan bisa tenang. Hahaha.”
Revan pergi setelah Sally masuk ke dalam rumah. Sally berterimakasih pada Revan karena hari ini ia baik sekali. Seumur hidup Sally, baru kali ini ada seseorang yang mengantarnya pulang dan ia tak pernah menyangka, Revan yang melakukan itu. Seseorang yang tak diduga oleh Sally.
***
“Kalau orangnya pernah menyakiti kamu, lebih baik jangan pernah kamu bawa lagi kesini.”  Suara ibu mengejutkan Sally yang baru saja membuka pintu.
“Ibu, buat aku kaget saja.”
“Cuma itu pesan ibu buat kamu.”
Aku tak mengerti apa maksud ibu berkata seperti itu kepadaku. Sepertinya ibu masih trauma karena dikhianati ayah dan tidak ingin itu terjadi kepadaku juga. Sejak dulu, aku memang tak pernah bercerita tentang orang yang aku suka apalagi membawanya ke rumah. Kadang aku merasa kalau ibu tak pernah mengalami masa muda karena tak bisa mengerti perasaanku.
Bukanya mencerna perkataan ibu barusan, aku malah masuk ke kamar dan memikirkan kejadian yang sangat membuat aku bahagia hari ini. Tuhan, semoga hari hari ku selalu seperti ini setiap hari.

***

Ibunya Sally kelihatannya nggak setuju kalau Sally sama Revan? Bagaimana ini??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar