Malam
telah sirna dihapuskan oleh pagi. Meski begitu, Sally belum bisa merubah
kebiasaannya untuk bangun pagi saat dia tidak dapat shift pagi. Ia masih
tertidur pulas di ranjang mungilnya.
Ibu
masuk ke kamar Sally dengan membawa segayung air. Ini sudah menjadi kebiasaan
ibunya ketika Sally bangun kesiangan.
“Ah!
Gentingnya bocor!” Sally berbicara setengah sadar setelah mendapatkan cipratan
air dari ibunya.
“Diluar
banjir, Sal. Sedikit lagi airnya mau masuk ke rumah!” Ibu berbicara berlaga
histeris.
Sally
segera lompat dari kasurnya dan melihat ke jendela untuk memastikan kalau
ucapan ibunya benar.
“Ah!
Ibu bohong, dimana ada air?langitnya cerah begini.” Sally menekuk wajahnya dan
beranjak ke ranjangnya lagi.
“No
no no, jangan tidur lagi, kecuali kamu dapat shift malam. Mandi dan segera
turun, ibu punya pudding cokelat.”
Sally
pergi ke dapur dan segera menyerbu pudding kesukaannya “Whooaa! Pudding
cokelat!”
“Enak
kan, baru bangun sudah ada yang segar-segar?” sindir ibu sambil senyum-senyum.
“Oh
ya, bu, aku pergi ke rumah sakit sekarang, ya.” Sally mengambil tasnya yang sudah
tergeletak di ruang tamu.
“Ya
baiklah, tidak ada yang bisa mencegah kamu mengenai teman spesial kamu itu.”
Walaupun ia tahu Revan belum sadar,
ia tetap tidak mau melewatkan waktunya bersama Revan, sekalipun hanya bisa
melihat saja. Ia berharap orang pertama yang Revan lihat saat membuka mata
adalah dirinya.
“Revan!”
Sally membuka pintu kamar rawat Revan.Tubuhnya kaku seakan tak bisa digerakan
lagi, matanya berbinar, dan senyum mengembang di bibirnya.
‘Tapi.
siapa perempuan yang sedang duduk sambil memegang tangan Revan itu?
Dan
yang aku lihat, kenapa dia sebahagia aku?’ Kata hati Sally yang berasumsi
sendiri.
“Sal,
Revan belum bisa mendengar suara keras. Jadi, tante mohon, kamu tenang, ya.”
Pinta Mama Revan.
Sally
melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Revan yang masih terbaring.
“Hey,
kok sombong banget sih? nggak menyapa aku.” Canda Sally.
‘Revan menatapku dengan
pandangan yang berbeda, pandangannya kosong seperti tak mengenal aku. Apa yang
terjadi pada Revan? Apa dia hanya lupa pada aku saja?’ Gumam
hati Sally.
“Oh
iya, tante sampai lupa. Sal, ini Anna. Anna, ini Sally.” Mama Revan mengenalkan
keduanya yang masih canggung.
Anna
dan Sally berjabat tangan, menyebutkan nama mereka satu sama lain meskipun di
dalam hati mereka banyak sekali pertanyaan.
Mama
Revan pergi sebentar ke apotek, ini waktu yang tepat untuk Sally bertanya pada
Anna tentang apa yang ada di pikirannya.
“Kamu
sepertinya orang terdekat Revan, ya?” Tanya Sally dengan hati-hati.
Anna
tertunduk dan tersenyum malu “Iya, Revan masih pacarku.”
Sally
tercengang sejenak, mencerna kembali apa yang dikatakan Anna. Lalu, Anna
kembali menyambung perkataannya yang belum tuntas.
“Lebih
tepatnya, aku meminta untuk break karena aku dapat pekerjaan di
Semarang dan aku nggak bisa LDR. Aku terbiasa bersama Revan sewaktu kita masih
satu kampus.”
‘Apa
ini? Ia tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang hubungannya dengan Revan.
Baru mendengar bahwa mereka berpacaran saja, aku sudah muak, apalagi....ah
sudahlah!’ dalam hati Sally.
Sally
melemparkan sedikit senyumnya pada Anna untuk memastikan kalau ia baik-baik
saja. “Ah! Begitu. Kalau begitu kalian bisa bersenang-senang sekarang, karena
kalian sudah nggak terpisah lagi.”
“Hmm,
kamu sahabatnya Revan?”
“Bukan,
aku cuma teman SMAnya yang kebetulan bekerja disini.”
Pembicaraan
mereka terhenti ketika mama Revan masuk, ia tampak senang melihat anaknya sudah
sadar meskipun Revan belum ada reflek apapun.
“Tante
kira banyak yang menebus obat, ternyata sedikit. Jadi, tante bisa cepat kesini.”
“Revan
beruntung,dia punya banyak orang yang khawatir sama dia. Semoga Revan cepat
pulih, ya, tan.” Kata Sally dengan ekspresi datar.
“Iya,
tante juga banyak terimakasih sama kamu, Sal. Setiap hari kamu merelakan waktu
luang kamu di rumah untuk menjaga Revan.”
“Sama-sama
tante” Balas Sally.
“Sal,
tante pulang duluan, ya. Nanti sore tante kesini lagi.”
“Aku
juga, aku ingin pulang sekarang.” susul Anna, wajahnya cemberut menandakan
bahwa ia merasa tidak dibutuhkan lagi untuk Revan.
Sekarang Sally hanya berdua dengan
Revan, ia menatap Revan, menampar pipinya sendiri untuk memastikan kalau yang
dilihatnya itu benar-benar mimpi yang telah menjadi kenyataan.
‘Aku
senang melihat kamu sudah sadar. Tapi, kamu harus berjuang satu kali lagi untuk
memulihkan kondisi kamu. Aku bosan kalau ngomong sendirian kaya gini, kamunya
belum bisa merespon. Kamu cepat pulih, ya, Van.’ Sally mengungkapkan isi
hatinya.
Tiba-tiba dokter dan perawat datang
untuk mengecek seberapa besar perkembangan Revan, Sally bangun dari tempat
duduknya.
“Selamat
siang, dok.” Sally memberi salam.
“Ya,
siang. Lho, pasien ini keluarga kamu?” Tanya dokter.
“Bukan,
dok. Ini teman SMA saya dan saya dipercaya ibunya untuk menjaga Revan.”
“Oh
begitu.” Kemudian dokter memeriksa Revan, Sally hanya melihat saja berharap
Revan bisa cepat pulih.
“Bagaimana,
dok?” tanya Sally tak sabaran.
“Kondisinya
membaik, tapi, respon otaknya butuh waktu yang cukup lama. Kamu sabar saja dan
jangan lelah untuk mengajaknya berkomunikasi.” Kata dokter.
Pembicaraan
singkat itu berakhir, dokter dan perawat itu keluar meninggalkan ruangan. Sally
melihat jam tangannya menunjukkan pukul 13.15, ia panik seketika karena waktu
berjalan begitu cepat. Ia harus meninggalkan Revan untuk dinas sore jam 14.00.
“Van,
aku dinas dulu, ya. Aku janji, kalau ada waktu luang aku bakal liat kamu. Kamu
baik-baik,ya.” Sally membaringkan badan Revan, lalu ia segera pergi dengan
menyisakan senyumnya.
***
Sally masuk ke ruang laboratorium,
ada Dio yang masih mengerjakan sampel. Sally tak menyapanya seperti hari
kemarin, mereka tampak canggung satu sama lain. Hanya sekilas tatapan saja yang
mereka saling berikan.
“Wak
Kak Dio strong ya! Dinas pagi sore
tapi tetep semangat.” Ucap Dina, salah satu partner
“Kita
pulang duluan, ya!” Tambah Fanny.
“Iya,
hati-hati dijalan.” Sahut Dio yang kemudian fokus dengan pekerjaanya.
Sally tambah canggung satu shift
dengan Dio, mereka masih tak saling bicara.
Suasana
makin hening di lab, akhirnya Dio membuka suara lebih dulu.
“Bagaimana
kondisi Revan?” Kata Dio mencairkan suasana.
“Dia
sudah sadar, tapi masih seperti orang mati.” Jawab Sally tanpa melihat wajah
Dio.
“Dia
akan kembali normal, kamu bersabar saja.” Dio menenangkan.
Pasien demi pasien, sampel demi
sampel telah terselesaikan. Hingga akhirnya pasien yang tadinya cukup banyak,
sekarang sudah mulai sedikit.
Cling “Sal,
tante minta maaf, ya. Tante nggak bisa nemenin Revan makan malam, kamu ada
waktu sebentar, kan?” Sally membaca SMS dari mama Revan, kemudian melihat jam
dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.30. Sally segera ke kamar rawat Revan
untuk menyuapi makanan.
Sally membuka pintu kamar rawat
Revan, ternyata makan malam untuk Revan sudah tersedia. Dan Revan...masih
kosong pandangan matanya.
“Hey,
ini waktunya makan malam.” Sally membangunkan badan Revan dan memberikan
senyumannya.
‘Revan,
makan yang banyak, ya. Aku ingin kamu sehat seperti dulu. Dulu kamu cuma nggak
masuk 1x dalam 2 semester, kamu hebat banget.’ Kata hati Sally. Ia menyuapi
Revan dengan sabar.
Tiba-tiba seorang perawat masuk ke
dalam kamar, ia memberi tahu bahwa Sally dipanggil oleh bagian personalia.
Sally yang sedang menyuapi Revan terpaksa meninggalkannya dan menitipkannya
pada perawat itu.
“Revan,
aku pergi sebentar, ya. Perawat ini juga sama baiknya kok dengan aku, kamu
jangan khawatir.” Sally pergi dengan berat hati.
Tok
tok tok..
Sally
mengetuk pintu ruang personalia, lalu ia masuk dengan rasa penasaran mengapa ia
dipanggil.
“Permisi,
pak. Kalau boleh tahu, ada apa bapak memanggil saya?” Tanya Sally.
“Ada
laporan, kalau kamu sering meninggalkan pekerjaan hanya untuk melihat pasien
yang bernama Revan. Apa itu benar?” Manager personalia menginvestigasi dengan
wajahnya yang cukup menyeramkan.
“Maaf,Pak
Andre. Memang benar seperti itu, tapi, saya tidak lama meninggalkan pekerjaan
saya. Itupun ketika pasien di lab sedikit.”
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu,
dan manager mengizinkannya masuk. Sally curiga kepada seorang perawat senior
yang sekarang berada di satu ruangan denganya itu.
“Kamu
tahu beliau adalah perawat senior disini?” Pak Andre melirik ke arah perawat
senior itu.
“Iya,
pak saya tahu.” Jawab Sally singkat.
“Ibu
Sulis, bisa ibu jelaskan sekali lagi apa yang tadi ibu laporkan kepada saya?”
“Bisa,
pak. Saya memperhatikan analis lab ini sering mencuri waktu kerjanya untuk
menemani pasien itu. Ia juga sering mengambil kesempatan ketika mengambil
sampel ke ruangan, ia mampir dulu ke ruangan pasien yang bernama Revan itu.
Meskipun cuma sebentar, tetap saja itu dianggap tidak profesional.” Perawat itu
menjelaskan dengan sinis.
‘Ya
Tuhan, penjelasan apa yang bisa membuat mereka mengerti? Aku melakukan ini
karena aku khawatir dengan orang yang aku sayang. Baiklah, ada baiknya aku tidak
memperpanjang masalah ini’ Gumam Sally.
“Untuk
kamu Sally, kalau kamu mengulangi kesalahan lagi, saya bisa memecat kamu.
Mengerti?” Pak Andre memberi peringatan yang membuat Sally agak shock.
“Saya
minta maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Sally menundukan
kepalanya.
Pak
Andre mempersilakan Sally untuk meninggalkan ruangannya. Sally kembali ke lab
untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar