Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[6]Teka- Teki dari Tuhan: Diterpa kegalauan

Malam telah sirna dihapuskan oleh pagi. Meski begitu, Sally belum bisa merubah kebiasaannya untuk bangun pagi saat dia tidak dapat shift pagi. Ia masih tertidur pulas di ranjang mungilnya.
Ibu masuk ke kamar Sally dengan membawa segayung air. Ini sudah menjadi kebiasaan ibunya ketika Sally bangun kesiangan.
“Ah! Gentingnya bocor!” Sally berbicara setengah sadar setelah mendapatkan cipratan air dari ibunya.
“Diluar banjir, Sal. Sedikit lagi airnya mau masuk ke rumah!” Ibu berbicara berlaga histeris.
Sally segera lompat dari kasurnya dan melihat ke jendela untuk memastikan kalau ucapan ibunya benar.
“Ah! Ibu bohong, dimana ada air?langitnya cerah begini.” Sally menekuk wajahnya dan beranjak ke ranjangnya lagi.
“No no no, jangan tidur lagi, kecuali kamu dapat shift malam. Mandi dan segera turun, ibu punya pudding cokelat.”

Sally pergi ke dapur dan segera menyerbu pudding kesukaannya “Whooaa! Pudding cokelat!”
“Enak kan, baru bangun sudah ada yang segar-segar?” sindir ibu sambil senyum-senyum.

“Oh ya, bu, aku pergi ke rumah sakit sekarang, ya.” Sally mengambil tasnya yang sudah tergeletak di ruang tamu.
“Ya baiklah, tidak ada yang bisa mencegah kamu mengenai teman spesial kamu itu.”

            Walaupun ia tahu Revan belum sadar, ia tetap tidak mau melewatkan waktunya bersama Revan, sekalipun hanya bisa melihat saja. Ia berharap orang pertama yang Revan lihat saat membuka mata adalah dirinya.

“Revan!” Sally membuka pintu kamar rawat Revan.Tubuhnya kaku seakan tak bisa digerakan lagi, matanya berbinar, dan senyum mengembang di bibirnya.
‘Tapi. siapa perempuan yang sedang duduk sambil memegang tangan Revan itu?
Dan yang aku lihat, kenapa dia sebahagia aku?’ Kata hati Sally yang berasumsi sendiri.
“Sal, Revan belum bisa mendengar suara keras. Jadi, tante mohon, kamu tenang, ya.” Pinta Mama Revan.
Sally melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Revan yang masih terbaring.
“Hey, kok sombong banget sih? nggak menyapa aku.” Canda Sally.
‘Revan menatapku dengan pandangan yang berbeda, pandangannya kosong seperti tak mengenal aku. Apa yang terjadi pada Revan? Apa dia hanya lupa pada aku saja?’ Gumam hati Sally.
“Oh iya, tante sampai lupa. Sal, ini Anna. Anna, ini Sally.” Mama Revan mengenalkan keduanya yang masih canggung.
Anna dan Sally berjabat tangan, menyebutkan nama mereka satu sama lain meskipun di dalam hati mereka banyak sekali pertanyaan.
Mama Revan pergi sebentar ke apotek, ini waktu yang tepat untuk Sally bertanya pada Anna tentang apa yang ada di pikirannya.
“Kamu sepertinya orang terdekat Revan, ya?” Tanya Sally dengan hati-hati.
Anna tertunduk dan tersenyum malu “Iya, Revan masih pacarku.”
Sally tercengang sejenak, mencerna kembali apa yang dikatakan Anna. Lalu, Anna kembali menyambung perkataannya yang belum tuntas.
“Lebih tepatnya, aku meminta untuk  break karena aku dapat pekerjaan di Semarang dan aku nggak bisa LDR. Aku terbiasa bersama Revan sewaktu kita masih satu kampus.”
‘Apa ini? Ia tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang hubungannya dengan Revan. Baru mendengar bahwa mereka berpacaran saja, aku sudah muak, apalagi....ah sudahlah!’ dalam hati Sally.
Sally melemparkan sedikit senyumnya pada Anna untuk memastikan kalau ia baik-baik saja. “Ah! Begitu. Kalau begitu kalian bisa bersenang-senang sekarang, karena kalian sudah nggak terpisah lagi.”
“Hmm, kamu sahabatnya Revan?”
“Bukan, aku cuma teman SMAnya yang kebetulan bekerja disini.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika mama Revan masuk, ia tampak senang melihat anaknya sudah sadar meskipun Revan belum ada reflek apapun.
“Tante kira banyak yang menebus obat, ternyata sedikit. Jadi, tante bisa cepat kesini.”
“Revan beruntung,dia punya banyak orang yang khawatir sama dia. Semoga Revan cepat pulih, ya, tan.” Kata Sally dengan ekspresi datar.
“Iya, tante juga banyak terimakasih sama kamu, Sal. Setiap hari kamu merelakan waktu luang  kamu di rumah untuk menjaga Revan.”
“Sama-sama tante” Balas Sally.
“Sal, tante pulang duluan, ya. Nanti sore tante kesini lagi.”
“Aku juga, aku ingin pulang sekarang.” susul Anna, wajahnya cemberut menandakan bahwa ia merasa tidak dibutuhkan lagi untuk Revan.

            Sekarang Sally hanya berdua dengan Revan, ia menatap Revan, menampar pipinya sendiri untuk memastikan kalau yang dilihatnya itu benar-benar mimpi yang telah menjadi kenyataan.
‘Aku senang melihat kamu sudah sadar. Tapi, kamu harus berjuang satu kali lagi untuk memulihkan kondisi kamu. Aku bosan kalau ngomong sendirian kaya gini, kamunya belum bisa merespon. Kamu cepat pulih, ya, Van.’ Sally mengungkapkan isi hatinya. 
            Tiba-tiba dokter dan perawat datang untuk mengecek seberapa besar perkembangan Revan, Sally bangun dari tempat duduknya.
“Selamat siang, dok.” Sally memberi salam.
“Ya, siang. Lho, pasien ini keluarga kamu?” Tanya dokter.
“Bukan, dok. Ini teman SMA saya dan saya dipercaya ibunya untuk menjaga Revan.”
“Oh begitu.” Kemudian dokter memeriksa Revan, Sally hanya melihat saja berharap Revan bisa cepat pulih.
“Bagaimana, dok?” tanya Sally tak sabaran.
“Kondisinya membaik, tapi, respon otaknya butuh waktu yang cukup lama. Kamu sabar saja dan jangan lelah untuk mengajaknya berkomunikasi.” Kata dokter.
Pembicaraan singkat itu berakhir, dokter dan perawat itu keluar meninggalkan ruangan. Sally melihat jam tangannya menunjukkan pukul 13.15, ia panik seketika karena waktu berjalan begitu cepat. Ia harus meninggalkan Revan untuk dinas sore jam 14.00.
“Van, aku dinas dulu, ya. Aku janji, kalau ada waktu luang aku bakal liat kamu. Kamu baik-baik,ya.” Sally membaringkan badan Revan, lalu ia segera pergi dengan menyisakan senyumnya.
***
            Sally masuk ke ruang laboratorium, ada Dio yang masih mengerjakan sampel. Sally tak menyapanya seperti hari kemarin, mereka tampak canggung satu sama lain. Hanya sekilas tatapan saja yang mereka saling berikan.
“Wak Kak Dio strong ya! Dinas pagi sore tapi tetep semangat.” Ucap Dina, salah satu partner
“Kita pulang duluan, ya!” Tambah Fanny.
“Iya, hati-hati dijalan.” Sahut Dio yang kemudian fokus dengan pekerjaanya.

            Sally tambah canggung satu shift dengan Dio, mereka masih tak saling bicara.
Suasana makin hening di lab, akhirnya Dio membuka suara lebih dulu.
“Bagaimana kondisi Revan?” Kata Dio mencairkan suasana.
“Dia sudah sadar, tapi masih seperti orang mati.” Jawab Sally tanpa melihat wajah Dio.
“Dia akan kembali normal, kamu bersabar saja.” Dio menenangkan.
            Pasien demi pasien, sampel demi sampel telah terselesaikan. Hingga akhirnya pasien yang tadinya cukup banyak, sekarang sudah mulai sedikit.
Cling “Sal, tante minta maaf, ya. Tante nggak bisa nemenin Revan makan malam, kamu ada waktu sebentar, kan?” Sally membaca SMS dari mama Revan, kemudian melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.30. Sally segera ke kamar rawat Revan untuk menyuapi makanan.

            Sally membuka pintu kamar rawat Revan, ternyata makan malam untuk Revan sudah tersedia. Dan Revan...masih kosong pandangan matanya.
“Hey, ini waktunya makan malam.” Sally membangunkan badan Revan dan memberikan senyumannya.
‘Revan, makan yang banyak, ya. Aku ingin kamu sehat seperti dulu. Dulu kamu cuma nggak masuk 1x dalam 2 semester, kamu hebat banget.’ Kata hati Sally. Ia menyuapi Revan dengan sabar.

            Tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam kamar, ia memberi tahu bahwa Sally dipanggil oleh bagian personalia. Sally yang sedang menyuapi Revan terpaksa meninggalkannya dan menitipkannya pada perawat itu.
“Revan, aku pergi sebentar, ya. Perawat ini juga sama baiknya kok dengan aku, kamu jangan khawatir.” Sally pergi dengan berat hati.
           
Tok tok tok..
Sally mengetuk pintu ruang personalia, lalu ia masuk dengan rasa penasaran mengapa ia dipanggil.
“Permisi, pak. Kalau boleh tahu, ada apa bapak memanggil saya?” Tanya Sally.
“Ada laporan, kalau kamu sering meninggalkan pekerjaan hanya untuk melihat pasien yang bernama Revan. Apa itu benar?” Manager personalia menginvestigasi dengan wajahnya yang cukup menyeramkan.
“Maaf,Pak Andre. Memang benar seperti itu, tapi, saya tidak lama meninggalkan pekerjaan saya. Itupun ketika pasien di lab sedikit.”

            Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, dan manager mengizinkannya masuk. Sally curiga kepada seorang perawat senior yang sekarang berada di satu ruangan denganya itu.
“Kamu tahu beliau adalah perawat senior disini?” Pak Andre melirik ke arah perawat senior itu.
“Iya, pak saya tahu.” Jawab Sally singkat.
“Ibu Sulis, bisa ibu jelaskan sekali lagi apa yang tadi ibu laporkan kepada saya?”
“Bisa, pak. Saya memperhatikan analis lab ini sering mencuri waktu kerjanya untuk menemani pasien itu. Ia juga sering mengambil kesempatan ketika mengambil sampel ke ruangan, ia mampir dulu ke ruangan pasien yang bernama Revan itu. Meskipun cuma sebentar, tetap saja itu dianggap tidak profesional.” Perawat itu menjelaskan dengan sinis.
‘Ya Tuhan, penjelasan apa yang bisa membuat mereka mengerti? Aku melakukan ini karena aku khawatir dengan orang yang aku sayang. Baiklah, ada baiknya aku tidak memperpanjang masalah ini’ Gumam Sally.
“Untuk kamu Sally, kalau kamu mengulangi kesalahan lagi, saya bisa memecat kamu. Mengerti?” Pak Andre memberi peringatan yang membuat Sally agak shock.
“Saya minta maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Sally menundukan kepalanya.
Pak Andre mempersilakan Sally untuk meninggalkan ruangannya. Sally kembali ke lab untuk melanjutkan pekerjaannya.

***

Akankah tekanan dari pihak rumah sakit membuat Sally menyerah dengan Revan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar