Entri Populer
-
Hey! Aku Silmy! Sebenarnya cita-cita aku itu jadi sutradara tapi, aku rasa itu bukanlah takdirku. Untuk menebus angan yang tidak jadi kenyat...
-
LEE JONG SUK as REVAN Revan adalah cowok cool yang sulit mengakui perasaannya, terutama pada cewek yang stupid seperti Sally. Selepas ...
-
Revan berdiri di depan pagar rumah Sally, berharap Sally masih bersedia untuk menemuinya, sedangkan Sally menangis tersedu-sedu mengingat ...
-
Seperti biasa, pagi ini Sally berangkat bekerja ke Jakarta Hospital. Pasien-pasiennya pasti sudah menunggu. Saly terpikir akan satu hal, “...
-
Pagi yang cerah di minggu pagi. Sally mengawali pagi ini ini dengan ucapan terimakasih kepada Tuhan yang senantiasa mengukir senyuman di b...
-
Matahari kembali menyambut pagi, tentu saja pagi ini sangat cerah. Burung-burung di pohon di depan halaman rumah Revan juga kian berkicau,...
-
Malam telah sirna dihapuskan oleh pagi. Meski begitu, Sally belum bisa merubah kebiasaannya untuk bangun pagi saat dia tidak dapat shift p...
Rabu, 15 Juli 2015
Selasa, 14 Juli 2015
[7]Teka - Teki dari Tuhan: Adakah setitik pencerahan?
Shift
sore telah berakhir,Sally segera melepas jas labnya lalu berlari menuju kamar
Revan. Baru saja sampai di depan pintu lab, Dio memanggil Sally karena ia lupa
membawa tasnya.
“Sal,
tas kamu!” Panggil dio.
Sally
menghela napas, lalu berbalik menuju Dio. “Terimakasih,kak.” Ia mengambil
tasnya dengan cepat dan berlari lagi.
Dio
semakin down melihat orang yang
dicintainya sama sekali tidak melihatnya.
Air mata yang sedari tadi Sally
tahan, akhirnya jatuh juga tepat di hadapan Revan yang tengah tertidur. Ia
merasa bersalah karena kedepannya ia harus menjaga jarak dengan Revan.
“Van,
tadi aku habis dimarahin lho sama bos aku. Dia bilang aku suka mampir ke
ruangan kamu, itu artinya aku akan jarang ketemu kamu karena aku lagi diawasi.
Padahal aku pengen menghabiskan waktu luang aku sama kamu, melihat perkembangan
kamu dan yang lebih lagi aku pengen kamu kasih senyuman pertama kamu buat aku.
Tapi, sepertinya udah nggak mungkin lagi.Mungkin kamu akan lebih sering bersama
keluarga kamu dan Anna.” Sally curhat sambil menangis.
Sally
pergi meninggalkan Revan walaupun itu sangat berat.
“Sally,
kamu sudah selesai? kok cuma sebentar?” Anna mengangetkan Sally yang baru saja
keluar dari kamar Revan, ekspresi wajahnya seakan sedang meledek Sally.
“Ya.”
Sally menjawab dengan singkat, lalu ia berjalan kembali.
Tak
lama, ia merubah keputusannya dan menghentikan langkahnya. “Anna, bisa kita
bicara sebentar?”
Di kantin rumah sakit yang mulai
menyepi, Sally menyampaikan hal yang berhasil membekukan perasaannya. Ia sadar,
peringatan dari Manager personalia untuknya menjadi suatu pertanda bahwa tak
seharusnya ia menghancurkan hubungan Revan dan Anna yang sudah terlanjur mereka
jalani. Sally akan mundur, meski itu bukan kemauannya.
“Kamu
mau bicara apa?” Tanya Anna.
“Bisakah
kamu lebih sering menjaga Revan? Aku nggak bisa datang melihatnya seperti
sebelumnya. Aku mohon sama kamu, Anna.” Sally memegang tangan Anna sebagai
tanda kalau ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Maksudnya,
kamu akan benar-benar pergi dari Revan?” Anna tersenyum tipis.
“Iya.
Buat Revan memberikan respon pertamanya untuk kamu.”
Sally
meninggalkan Anna, ia pulang dan segera melupakan semuanya tentang Revan.
***
Tok
tok tok...
Sally
mengetuk pintu, tidak biasanya ibu mengunci pintu kalau ia pulang malam.
“Ibu,
buka pintunya. Ini Sally.” Sally memanggil-manggil sambil mengetuk pintu dengan
suara yang agak keras.
Berkali-kali
ia memanggil, ibunya tak kunjung membukakan pintu. Sally mulai lelah, ia duduk
di depan pintu sampai akhirnya ia terlelap hingga pagi.
Sinar matahari pagi menyilaukan mata
Sally, membangunkannya dari tidurnya yang tetap lelap meski di depan rumah. Ia
mengumpulkan nyawanya dan baru sadar kalau ibu masih belum membukakan pintu.
‘Hmm,
aku masih diluar? Kayanya ibu marah,tapi karena apa?’ Sally ngedumel sendiri.
Tak
lama ibu membuka pintu, badan yang Sally sandarkan di pintu terdorong ke dalam.
Dan Byurrr......Ibu menyiram Sally
dengan segayung air. Sally terkejut kenapa ibu melakukan itu.
“Ibu,
kenapa ibu menyiram aku? Aku bukan tanaman.” Sally reflek membentak ibunya.
“Jam
berapa kamu selesai shift sore?” Ibu
mengernyitkan dahi.
“J..jam
setengah sepuluh,bu.” Jawab Sally sambil tertunduk.
“Lalu,
jam berapa kamu sampai rumah?”
“Jam
setengah satu,bu.”
“Tapi
aku janji ini yang terakhir kali,bu. Tolong maafkan aku.” Sambung Sally untuk
meyakinkan ibunya.
“Kamu
sudah berkali-kali pulang telat dan waktu yang seharusnya kamu pakai untuk
istirahat dirumah, kamu buang hanya
untuk menjaga orang itu saja.” Ibu bicara panjang lebar, ia sudah tak bisa
menahan emosinya lagi.
Sally
meneteskan air matanya, ia cukup tersinggung dengan ucapan ibunya. Sally
memilih masuk ke kamarnya daripada harus berdebat dengan ibunya yang tak pernah
ada ujungnya.
‘Kenapa
semua meyalahkan aku?! Kenapa mereka nggak pernah mengerti aku?! Aku cuma nggak
mau menyesal lagi karena pernah menyianyiakan Revan. Aku ingin selalu ada buat
dia disaat kami udah sadar dengan perasaan kami. Dan terlebih lagi, sekarang
dia sedang berada di masa yang sulit.’
Sally
meluapkan perasaannya dan menangis sampai air matanya habis.
***
Hari ini adalah hari pertama dimana
Revan tidak didampingi Sally dan mulai sekarang Anna yang akan lebih sering
bersama Revan. Anna mengajak Revan untuk menghirup udara segar di taman rumah
sakit, dengan sabar ia mendorong Revan yang duduk di kursi roda dan tak lelah
untuk mengajak Revan untuk mengobrol.
“Anna!”
Sapa Mama Revan dari kejauhan.
“Tante!”
Anna menoleh dan melambaikan tangannya.
Mama
Revan memberi aba-aba pada Anna untuk tetap disana karena ia yang akan berjalan
ke taman.
“Tante
pasti mencari kami,ya?” ledek Anna
“Hahaha,
Tante kaget ketika masuk ke kamar, Revan nggak ada. Untung ada suster yang
bilang kalau kalian ada disini.”
“Revan
nggak akan diculik seperti di sinetron kok, tante. Tante tenang saja, mulai
sekarang Anna akan lebih sering menjaga Revan.”
“Bagus,
Anna. Ngomong-ngomong, tumben Sally belum muncul.”
“Hmm,
mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tan.”
Sedangkan itu, Sally hanya di rumah
saja mengurus pekerjaan rumah. Ia mencoba untuk menjaga jarak dengan Revan.
Meski begitu, ia sangat gelisah tidak bisa melihat Revan.
“Sal,
ibu bukannya melarang kamu peduli sama orang lain. Ibu cuma merasa kalau orang
itu bukan lelaki yang tepat buat kamu.” Ibu datang menghampiri Sally yang
sedang mengelap meja ruang tamu.
“Ya,
aku mengerti maksud ibu.”Jawab Sally.
“Untuk
hidup bersama pendamping, kamu nggak perlu mencari orang yang kamu cintai, yang
kamu butuhkan hanya orang yang mencintai kamu. Dengan begitu, kamu nggak banyak
sakit hati kalau orang yang kamu cintai membuat kamu kecewa.” Ibu menasihati
Sally.
“Lalu,
apa gunanya aku punya hati?”
“Sally.
Jadi, kamu belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada ibu? Ibu
begini karena ayah kamu yang begitu ibu cintai sudah mengkhianati ibu. Ibu
nggak mau itu terjadi pada kamu juga.”
“Tapi,
Revan nggak seperti ayah, bu. Aku tahu banyak tentang dia.” Sally menekankan
suaranya.
“Ibu
rasa, nasihat ibu nggak ada artinya buat kamu.” Ibu mulai menyerah dan
meninggalkan Sally.
Kring...
Ponsel
Sally berbunyi, Sally menunda pekerjaannya dan menoleh pada layar ponselnya.
“Ya,
kak. Ada apa menelponku?”
“Hari
ini kamu libur, tumben sekali kamu nggak menghabiskan waktu sama Revan.”
“Nggak
ada alasan lagi untuk melihat dia, kak.”
“Memangnya
kenapa?”
“Nggak
apa-apa. Aku cuma titip pesan, kalau Revan udah bisa merespon, kakak bisa
hubungi aku.”
“Baiklah,
aku tahu kamu nggak mau cerita. Aku akan hubungi kamu kalau ada perkembangan
tentang Revan. Kakak tutup telponnya, ya, Sal”
***
“Revan,
ayo semangat!” Anna menyemangati Revan yang mau menjalani terapi, Anna
memberikan sentuhan di pipi Revan dan senyuman hangat.
Perlahan
Revan melakukan terapi untuk berjalan, memang hasilnya belum begitu bagus, ia
berkali-kali gagal untuk bisa melanjutkan langkahnya. Tetapi, Anna tetap setia
menyemangati Revan.
“Permisi...”
Suara
itu membuat Anna terdiam dan menoleh ke arah pintu, wajahnya terlihat bingung
dengan seseorang yang baru saja masuk.
“Permisi,
kamu Anna, kan?” Dio menebak-nebak.
“Iya,
kamu siapa, ya?” tanya Anna.
“Aku
Dio, teman kerja Sally. Bagaimana Revan?”
“Ini
terapi pertamanya, dia masih kesulitan. Untuk kedepannya, pasti ada kemajuan.”
“Kelihatannya,
kamu dekat sama Revan.”
“Aku
pacarnya.” Anna menegaskan.
“Sulit
dipercaya, aku kira Revan masih single. Aku
sering sama Sally, tidak jarang aku lihat dia selalu nunggu Sally tiap pulang
kerja.“
“Apa?!
maksud kamu Revan selingkuh?” Anna terkejut, ia tak percaya dengan apa yang ia
dengar.
“Mungkin
maksudnya bukan selingkuh, tapi, Revan baru saja menemukan lagi cintanya di
masa SMA yang hilang. Sally dan Revan sebenarnya saling cinta, tapi nggak ada
salah satu dari mereka yang berani bilang.”
Raut
wajah Anna berubah menjadi sangat marah, ia tidak terima pacarnya direbut
orang.
“Aku
permisi, ya.” Dio pergi dari ruang terapi, dan Anna tak menanggapi.
‘Tidak,
semua ini tidak benar. Aku tahu persis Revan itu sangat mencintai aku, kami ini
pasangan yang sudah dewasa, tidak seperti Sally, Revan suka dia cuma sebatas
cinta monyet saja.’ Anna meyakinkan hatinya.
Hari terus berganti, Sally tetap
pada rutinitasnya tanpa melihat bagaimana kabar Revan. Ia selalu menghindar
setiap tak sengaja bertemu Revan, ia
tidak mau menambah beban di hatinya.
Hingga
pada akhirnya, Revan ada kemajuan, ia bisa berjalan walaupun belum sempurna.
“Sal,
kamu nggak bisa nolak lagi, shift pagi sudah habis dan kamu harus ikut aku.”
Dio menarik tangan Sally.
“Kakak
mau ajak aku kemana? Aku mau pulang.” Sally menolak meski wajah Dio terlihat
kesal.
Dio
menghela napas, dia langsung menarik tangan Sally tanpa berkata lagi.
Sally
melihat Dio menekan tombol 3 pada lift, firasatnya
sudah tidak baik, ia yakin sekali bahwa Dio akan membawanya pada Revan. Tapi,
Sally tak protes apapun karena ada banyak orang di dalam lift.
‘Kak
Dio menarik tanganku dan memaksa untuk mengikutinya. Tapi, mengapa ia
menghentikan langkahnya di depan ruang terapi. Dan firasatku benar, Kak Dio
ingin aku untuk melihat Revan. Revan ada disana, di ruang terapi. Aku tak bisa
menggerakkan kakiku, aku ingin melarikan diri tetapi sangat sulit, mataku tetap
tertuju pada Revan. Ada perasaan bahagia ketika melihat Revan bisa berjalan,
tapi, aku sedih kenapa bukan aku yang menemaninya. Aku pikir, biarkanlah air
mata ini menjadi saksi dari perasaanku yang sebenarnya.’ Gumam hati Sally, ia
masih berdiri di depan pintu ruang terapi.
Hati Revan tak bisa bohong dan
seakan tetap normal tak ada yang berubah, ia menyadari ada orang yang ia cintai
berdiri mengamatinya. Kaki Revan perlahan melangkah menuju Sally, Sally mencoba
pergi, tetapi, ada tangan Dio yang memegangnya erat.
“Kak,
tolong lepaskan tanganku. Usahaku sia-sia kalau pada akhirnya aku melihatnya.”
pinta Sally.
“Dan
usahaku untuk mempersatukan kalian juga sia-sia kalau pada akhirnya aku
melepaskan tanganmu.” Dio menggenggam tangan Sally lebih erat.
Revan
semakin dekat, pintu yang menjadi batas mereka telah berhasil ia buka dan kini
Sally berada tepat di depannya.
Lagi-lagi
Sally tak bisa menahan air matanya, cukup lama mereka bertatapan membuat Anna
merasa cemburu dan menghampiri Revan. Anna juga menatap Sally dengan tatapan
sinis.
“Re..revan...”
Anna memegang badan Revan yang hampir terjatuh. Sally melepas genggaman Dio dan
pergi.
Dio berlari sampai ngos-ngosan
mengejar Sally, Akhirnya ia menemukan Sally sedang duduk di bangku taman rumah
sakit.
“Kenapa
kamu lari? Tadi, Revan mau jatuh.”
“Dia
nggak butuh aku, udah ada Anna yang selalu stand
by.” jawab Sally dengan ekspresi datar.
“Kata
kamu, kamu nggak mau menyesal lagi karena pernah menyia-nyiakan Revan. Tapi, sekarang
kamu membiarkan dia setelah hatinya sadar kalau pemiliknya datang. Kamu adalah
orang terlabil dari semua yang aku kenal.” Dio sedikit melawak pada nasihatnya.
Sally
terdiam sejenak, menyerap kembali apa yang dikatakan Dio. Ia merasa kalau yang dikatakan
Dio ada benarnya juga.
“Maksudnya
dari ‘hatinya sadar kalau pemiliknya datang’ itu apa?”
“Coba
kamu ingat-ingat, meskipun mulutnya belum bisa bicara, tapi, hatinya bisa
melakukannya. Hatinya menuntun langkahnya untuk menuju kamu. Masih belum mengerti
juga?”
“Wah!
Kakak benar-benar jenius,kata- kata kakak bisa menyihir aku.” Sally menepuk
punggung Dio, kini pikirannya telah terbuka.
“Jadi?”
“Jadi,
aku sebagai pemilik hatinya akan datang untuk menjemputnya. Yeah! Dan aku akan
lebih hati-hati kalau melihat Revan, supaya nggak ada yang ngelaporin aku lagi.
Hahaha..”
Dio
senang melihat Sally menemukan kembali tawanya yang sempat hilang, walaupun
bukan ia alasan Sally tertawa lagi. Sedangkan Sally berlari menuju ruang
terapi, ia tak ragu untuk melihat perkembangan Revan dari dekat.
Sally telah yakin pada keputusannya untuk tak menyerah dengan Revan? Tapi, bagaimana dengan Anna?
[6]Teka- Teki dari Tuhan: Diterpa kegalauan
Malam
telah sirna dihapuskan oleh pagi. Meski begitu, Sally belum bisa merubah
kebiasaannya untuk bangun pagi saat dia tidak dapat shift pagi. Ia masih
tertidur pulas di ranjang mungilnya.
Ibu
masuk ke kamar Sally dengan membawa segayung air. Ini sudah menjadi kebiasaan
ibunya ketika Sally bangun kesiangan.
“Ah!
Gentingnya bocor!” Sally berbicara setengah sadar setelah mendapatkan cipratan
air dari ibunya.
“Diluar
banjir, Sal. Sedikit lagi airnya mau masuk ke rumah!” Ibu berbicara berlaga
histeris.
Sally
segera lompat dari kasurnya dan melihat ke jendela untuk memastikan kalau
ucapan ibunya benar.
“Ah!
Ibu bohong, dimana ada air?langitnya cerah begini.” Sally menekuk wajahnya dan
beranjak ke ranjangnya lagi.
“No
no no, jangan tidur lagi, kecuali kamu dapat shift malam. Mandi dan segera
turun, ibu punya pudding cokelat.”
Sally
pergi ke dapur dan segera menyerbu pudding kesukaannya “Whooaa! Pudding
cokelat!”
“Enak
kan, baru bangun sudah ada yang segar-segar?” sindir ibu sambil senyum-senyum.
“Oh
ya, bu, aku pergi ke rumah sakit sekarang, ya.” Sally mengambil tasnya yang sudah
tergeletak di ruang tamu.
“Ya
baiklah, tidak ada yang bisa mencegah kamu mengenai teman spesial kamu itu.”
Walaupun ia tahu Revan belum sadar,
ia tetap tidak mau melewatkan waktunya bersama Revan, sekalipun hanya bisa
melihat saja. Ia berharap orang pertama yang Revan lihat saat membuka mata
adalah dirinya.
“Revan!”
Sally membuka pintu kamar rawat Revan.Tubuhnya kaku seakan tak bisa digerakan
lagi, matanya berbinar, dan senyum mengembang di bibirnya.
‘Tapi.
siapa perempuan yang sedang duduk sambil memegang tangan Revan itu?
Dan
yang aku lihat, kenapa dia sebahagia aku?’ Kata hati Sally yang berasumsi
sendiri.
“Sal,
Revan belum bisa mendengar suara keras. Jadi, tante mohon, kamu tenang, ya.”
Pinta Mama Revan.
Sally
melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Revan yang masih terbaring.
“Hey,
kok sombong banget sih? nggak menyapa aku.” Canda Sally.
‘Revan menatapku dengan
pandangan yang berbeda, pandangannya kosong seperti tak mengenal aku. Apa yang
terjadi pada Revan? Apa dia hanya lupa pada aku saja?’ Gumam
hati Sally.
“Oh
iya, tante sampai lupa. Sal, ini Anna. Anna, ini Sally.” Mama Revan mengenalkan
keduanya yang masih canggung.
Anna
dan Sally berjabat tangan, menyebutkan nama mereka satu sama lain meskipun di
dalam hati mereka banyak sekali pertanyaan.
Mama
Revan pergi sebentar ke apotek, ini waktu yang tepat untuk Sally bertanya pada
Anna tentang apa yang ada di pikirannya.
“Kamu
sepertinya orang terdekat Revan, ya?” Tanya Sally dengan hati-hati.
Anna
tertunduk dan tersenyum malu “Iya, Revan masih pacarku.”
Sally
tercengang sejenak, mencerna kembali apa yang dikatakan Anna. Lalu, Anna
kembali menyambung perkataannya yang belum tuntas.
“Lebih
tepatnya, aku meminta untuk break karena aku dapat pekerjaan di
Semarang dan aku nggak bisa LDR. Aku terbiasa bersama Revan sewaktu kita masih
satu kampus.”
‘Apa
ini? Ia tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang hubungannya dengan Revan.
Baru mendengar bahwa mereka berpacaran saja, aku sudah muak, apalagi....ah
sudahlah!’ dalam hati Sally.
Sally
melemparkan sedikit senyumnya pada Anna untuk memastikan kalau ia baik-baik
saja. “Ah! Begitu. Kalau begitu kalian bisa bersenang-senang sekarang, karena
kalian sudah nggak terpisah lagi.”
“Hmm,
kamu sahabatnya Revan?”
“Bukan,
aku cuma teman SMAnya yang kebetulan bekerja disini.”
Pembicaraan
mereka terhenti ketika mama Revan masuk, ia tampak senang melihat anaknya sudah
sadar meskipun Revan belum ada reflek apapun.
“Tante
kira banyak yang menebus obat, ternyata sedikit. Jadi, tante bisa cepat kesini.”
“Revan
beruntung,dia punya banyak orang yang khawatir sama dia. Semoga Revan cepat
pulih, ya, tan.” Kata Sally dengan ekspresi datar.
“Iya,
tante juga banyak terimakasih sama kamu, Sal. Setiap hari kamu merelakan waktu
luang kamu di rumah untuk menjaga Revan.”
“Sama-sama
tante” Balas Sally.
“Sal,
tante pulang duluan, ya. Nanti sore tante kesini lagi.”
“Aku
juga, aku ingin pulang sekarang.” susul Anna, wajahnya cemberut menandakan
bahwa ia merasa tidak dibutuhkan lagi untuk Revan.
Sekarang Sally hanya berdua dengan
Revan, ia menatap Revan, menampar pipinya sendiri untuk memastikan kalau yang
dilihatnya itu benar-benar mimpi yang telah menjadi kenyataan.
‘Aku
senang melihat kamu sudah sadar. Tapi, kamu harus berjuang satu kali lagi untuk
memulihkan kondisi kamu. Aku bosan kalau ngomong sendirian kaya gini, kamunya
belum bisa merespon. Kamu cepat pulih, ya, Van.’ Sally mengungkapkan isi
hatinya.
Tiba-tiba dokter dan perawat datang
untuk mengecek seberapa besar perkembangan Revan, Sally bangun dari tempat
duduknya.
“Selamat
siang, dok.” Sally memberi salam.
“Ya,
siang. Lho, pasien ini keluarga kamu?” Tanya dokter.
“Bukan,
dok. Ini teman SMA saya dan saya dipercaya ibunya untuk menjaga Revan.”
“Oh
begitu.” Kemudian dokter memeriksa Revan, Sally hanya melihat saja berharap
Revan bisa cepat pulih.
“Bagaimana,
dok?” tanya Sally tak sabaran.
“Kondisinya
membaik, tapi, respon otaknya butuh waktu yang cukup lama. Kamu sabar saja dan
jangan lelah untuk mengajaknya berkomunikasi.” Kata dokter.
Pembicaraan
singkat itu berakhir, dokter dan perawat itu keluar meninggalkan ruangan. Sally
melihat jam tangannya menunjukkan pukul 13.15, ia panik seketika karena waktu
berjalan begitu cepat. Ia harus meninggalkan Revan untuk dinas sore jam 14.00.
“Van,
aku dinas dulu, ya. Aku janji, kalau ada waktu luang aku bakal liat kamu. Kamu
baik-baik,ya.” Sally membaringkan badan Revan, lalu ia segera pergi dengan
menyisakan senyumnya.
***
Sally masuk ke ruang laboratorium,
ada Dio yang masih mengerjakan sampel. Sally tak menyapanya seperti hari
kemarin, mereka tampak canggung satu sama lain. Hanya sekilas tatapan saja yang
mereka saling berikan.
“Wak
Kak Dio strong ya! Dinas pagi sore
tapi tetep semangat.” Ucap Dina, salah satu partner
“Kita
pulang duluan, ya!” Tambah Fanny.
“Iya,
hati-hati dijalan.” Sahut Dio yang kemudian fokus dengan pekerjaanya.
Sally tambah canggung satu shift
dengan Dio, mereka masih tak saling bicara.
Suasana
makin hening di lab, akhirnya Dio membuka suara lebih dulu.
“Bagaimana
kondisi Revan?” Kata Dio mencairkan suasana.
“Dia
sudah sadar, tapi masih seperti orang mati.” Jawab Sally tanpa melihat wajah
Dio.
“Dia
akan kembali normal, kamu bersabar saja.” Dio menenangkan.
Pasien demi pasien, sampel demi
sampel telah terselesaikan. Hingga akhirnya pasien yang tadinya cukup banyak,
sekarang sudah mulai sedikit.
Cling “Sal,
tante minta maaf, ya. Tante nggak bisa nemenin Revan makan malam, kamu ada
waktu sebentar, kan?” Sally membaca SMS dari mama Revan, kemudian melihat jam
dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.30. Sally segera ke kamar rawat Revan
untuk menyuapi makanan.
Sally membuka pintu kamar rawat
Revan, ternyata makan malam untuk Revan sudah tersedia. Dan Revan...masih
kosong pandangan matanya.
“Hey,
ini waktunya makan malam.” Sally membangunkan badan Revan dan memberikan
senyumannya.
‘Revan,
makan yang banyak, ya. Aku ingin kamu sehat seperti dulu. Dulu kamu cuma nggak
masuk 1x dalam 2 semester, kamu hebat banget.’ Kata hati Sally. Ia menyuapi
Revan dengan sabar.
Tiba-tiba seorang perawat masuk ke
dalam kamar, ia memberi tahu bahwa Sally dipanggil oleh bagian personalia.
Sally yang sedang menyuapi Revan terpaksa meninggalkannya dan menitipkannya
pada perawat itu.
“Revan,
aku pergi sebentar, ya. Perawat ini juga sama baiknya kok dengan aku, kamu
jangan khawatir.” Sally pergi dengan berat hati.
Tok
tok tok..
Sally
mengetuk pintu ruang personalia, lalu ia masuk dengan rasa penasaran mengapa ia
dipanggil.
“Permisi,
pak. Kalau boleh tahu, ada apa bapak memanggil saya?” Tanya Sally.
“Ada
laporan, kalau kamu sering meninggalkan pekerjaan hanya untuk melihat pasien
yang bernama Revan. Apa itu benar?” Manager personalia menginvestigasi dengan
wajahnya yang cukup menyeramkan.
“Maaf,Pak
Andre. Memang benar seperti itu, tapi, saya tidak lama meninggalkan pekerjaan
saya. Itupun ketika pasien di lab sedikit.”
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu,
dan manager mengizinkannya masuk. Sally curiga kepada seorang perawat senior
yang sekarang berada di satu ruangan denganya itu.
“Kamu
tahu beliau adalah perawat senior disini?” Pak Andre melirik ke arah perawat
senior itu.
“Iya,
pak saya tahu.” Jawab Sally singkat.
“Ibu
Sulis, bisa ibu jelaskan sekali lagi apa yang tadi ibu laporkan kepada saya?”
“Bisa,
pak. Saya memperhatikan analis lab ini sering mencuri waktu kerjanya untuk
menemani pasien itu. Ia juga sering mengambil kesempatan ketika mengambil
sampel ke ruangan, ia mampir dulu ke ruangan pasien yang bernama Revan itu.
Meskipun cuma sebentar, tetap saja itu dianggap tidak profesional.” Perawat itu
menjelaskan dengan sinis.
‘Ya
Tuhan, penjelasan apa yang bisa membuat mereka mengerti? Aku melakukan ini
karena aku khawatir dengan orang yang aku sayang. Baiklah, ada baiknya aku tidak
memperpanjang masalah ini’ Gumam Sally.
“Untuk
kamu Sally, kalau kamu mengulangi kesalahan lagi, saya bisa memecat kamu.
Mengerti?” Pak Andre memberi peringatan yang membuat Sally agak shock.
“Saya
minta maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Sally menundukan
kepalanya.
Pak
Andre mempersilakan Sally untuk meninggalkan ruangannya. Sally kembali ke lab
untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Akankah tekanan dari pihak rumah sakit membuat Sally menyerah dengan Revan?
[5]Teka - Teki dari Tuhan: Menjaganya sampai kapanpun
Revan berdiri di
depan pagar rumah Sally, berharap Sally masih bersedia untuk menemuinya,
sedangkan Sally menangis tersedu-sedu mengingat kejadian tadi, seolah tega
melihat Revan yang belum beranjak dari tempat ia berpijak sekarang.
Dua minggu
setelah kejadian pahit itu, Sally tak pernah mau menemui Revan yang setiap hari
menunggunya pulang kerja di rumah sakit, ia lebih memilih pulang bersama Dio
yang beberapa hari yang lalu menyatakan cinta padanya. Revan selalu pulang
dengan sia-sia dan penyesalannya.
Bagaikan menghilang dari peradaban,
Revan absen menunggu Sally seperti apa yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya.
Sally merasa kesepian dan tak tahu harus berbuat apa terhadap orang yang tak
menganggapnya itu.
Baru
saja ingin melepaskan jas labnya, karena jam kerja sudah habis, tiba-tiba
sesuatu yang telah menggemparkan terjadi. Beberapa perawat membawa seorang
pasien gawat darurat dan berlumuran darah.
“Sal, ada pasien gawat darurat.
Saya mohon bantuanmu, perawat lain sedang sibuk menangani pasien kecelakaan
beruntun yang sangat banyak.“ Ucap salah seorang perawat yang sedang panik
menghampiri Sally di ruang laboratorium.
“Baiklah, aku segera ke sana.”
Sally memakai jas labnya kembali dan berlari menuju pasien gawat darurat.
Kakinya kaku tak bisa digerakan,
wajahnya sudah tak bisa didefinisikan, air mata mengalir di pipinya setelah
melihat siapa pasien yang sedang terbaring lemah.
“Revan…” Nama itu keluar dari
mulut Sally.
“Cepat lakukan sesuatu!” Seorang
dokter memerintah dengan suara yang kencang memecahkan pandangan Sally yang tak
kuat melihat Revan.
Dengan bercucuran air mata, Sally
membersihkan darah Revan yang banyak keluar, pasien gawat darurat karena
kecelakaan beruntun yang sangat parah. Tubuhnya bergetar setelah melakukan
tugasnya dan lebih memilih menunggu di luar ruangan karena ia sudah tak tak
sanggup. Rupanya, keluarga Revan sudah menunggu dengan wajah yang sedih sama
sepertinya.
“Bagaimana keadaan Revan, Mbak?” Ucap seorang ibu sambil menangisi keadaan
Revan.
“Dokter sedang menanganinya, bu.
Semoga Revan baik-baik saja.” Sally menjawab lesu seperti kehilangan gairah
hidup.
“Mbak, kenapa menanggis?” Timpal
Mama Revan.
Sally sudah tak kuat menahan
tubuhnya yang lemas, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Ibu Revan sambil
menangis tak berdaya. Ibu Revan tak mengerti apa yang terjadi dengan Sally
mengapa ia bisa menangisi anaknya, ia hanya bisa menenangkan Sally sekarang.
“Benar ini keluarga Revan Aditya?”
Seorang dokter yang menangani Revan dari ruang UGD.
“Benar, Saya ibunya. Bagaimana
keadaan anak saya, dok?”
“Anak ibu selamat, tapi….”
“Revan kenapa, dokter?” Sally menginterupsi pembicaraan dokter.
“Revan mengalami koma.” Dokter
menjawab.
Sally dan keluarga Revan menangis
tersedu-sedu melihat orang tersayang mereka terbaring tak tahu sampai kapan.
“Sal, jangan menangis seperti
itu. Ini sudah waktunya pulang, kamu harus istirahat.” Dio menghampiri Sally.
“Mana mungkin aku bisa pulang
sementara Revan…”
“Biar tante yang menjaga Revan,
ya. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini.”
***
“Permisi, Tante.” Sally mengetuk
pintu kamar inap Revan.
“Iya, silakan masuk.” Mama dan
adik Revan menyambut Sally.
“Maaf, Tante, semalam saya tidak
sempat memperkenalkan diri. Nama saya Sally, saya teman SMA Revan yang
kebetulan bekerja di sini.”
“Ah iya, sepertinya kamu kenal
baik anak saya, ya?”
“I..Iya, Tante.” Sally menjawab
gugup.
“Oh iya, sepertinya dulu Kak
Revan pernah menceritakan Kak Sally ke aku.” Sahut Alya, adik Revan.
“Cerita tentang kakak?” Sally tak
percaya.
“Waktu itu Kak Revan jadi berubah
total, playlist di handphone-nya lagu
korea semua, padahal aku tahu, dia tidak suka itu. Secara tidak sengaja, dia bilang alasannya karena Kak
Sally. Kak Sally juga menyukai lagu korea, kan?”
“Iya, aku suka sekali. Revan juga
sering cerita tentang kamu yang suka menonton konser penyanyi korea. “
“Revan juga bilang, kalau tante
harus buat bakwan jagung yang enak seperti buatan ibumu, Sal.” Mama Revan
menambahkan.
Sally tak kuasa menahan air mata
ketika mendengar cerita dari mama dan adiknya Revan. Sementara Revan, masih
terbaring koma dan mungkin arwahnya melihat betapa sedihnya Sally saat ini.
“Tante, saya melanjutkan
pekerjaan dulu, ya. Van, jangan koma
terlalu lama, kami semua merindukan tawamu. Alya, kakak ke luar duluan,ya.”
Sally berpamitan.
***
Setiap hari
teman-teman Revan menjenguk Revan yang tak kunjung sadar, Sally hanya bisa
melihat diam-diam dari kaca pada pintu kamar, tak ada keberanian di jiwanya
untuk menyapa teman-teman SMA-nya yang meremehkannya semasa sekolah.
Sally berjalan
melewati beberapa lorong untuk sampai ke pintu keluar rumah sakit, berharap tak
ada teman SMA-nya yang melihat keberadaannya.
“Sal, mau pulang?” Mama Revan
memanggil Sally.
“Iya, tante.”
“Kok tidak ikut gabung bersama
teman-teman Revan di dalam? itu kan juga teman-temanmu.”
“Bisa kita bicara di luar saja,
Tan?”
“Baiklah, kebetulan Tante juga
ingin pulang.” Mama Revan mengikuti langkah Sally untuk berbicara di kafe ceria
yang tak jauh dari rumah sakit.
Sally membuka pintu kafe dan
memilih tempat duduk di dekat jendela.
“Tante, saya sakit hati sama
mereka. Saya tidak akan pernah mau menunjukan wajah saya di hadapan mereka.”
Sally berbicara to the point.
“Ceritakan saja semua
keluh kesahmu kepada tante, Sal.”
“Maaf tante, terlalu kekanakan
apabila saya menceritakan bad moment
itu.”
“Baiklah, tante tidak akan
memaksa. Tapi, maukah kamu ke rumah tante sekarang? Tante ingin menunjukan
sesuatu yang penting untukmu.”
“Hm, aku mau,Tan.” Sally
tersenyum tipis.
Mama Revan melajukan mobil sedan
Camry-nya menuju rumah. Selama di perjalanan, tak banyak kata-kata yang keluar
dari mulut Sally. Hanya mendengarkan alunan musik klasik dari flashdisk yang ditancapkan Mama Revan
untuk membunuh kesunyian.
“Sal, kita sudah sampai.” Mama
Revan membuka safety belt dan membuka
pintu mobil yang diikuti dengan Sally.
“Rumah tante bagus sekali.” Sally
berdecak kagum.
“Ahaha, iya, Sal. Rumah ini
warisan dari almarhum papanya Revan.”
“Ma..maaf, Tante. Akun tidak
bermaksud untuk menyinggung tante.”
“Tidak apa-apa, Sal. Ayo, ikut
tante ke ruang rahasia Revan.”
Sally mengikuti langkah Mama
Revan, ruang demi ruang di jelaskan olehnya hingga pada akhirnya Sally berdiri
di depan ruang rahasia milik Revan bersama Mama Revan. Mama Revan membuka pintu
sehingga Sally bisa melihat isi dari ruangan itu.
“Tante baru kemarin mengetahui
ruang ini adalah ruang pribadi Revan. Dia merahasiakan ini dari tante dan Alya,
Sal. Revan memang anak yang sangat tertutup.” Ungkap Mama Revan.
“Kalau boleh aku tahu, mengapa
tante menunjukan ruangan ini kepadaku? Apa ini semua ada kaitannya denganku?”
Ucap Sally.
“Kamu bisa melihat apapun yang
ada di ruangan ini, Sal. Semuanya tentang kamu.”
Sally membuka sebuah surat yang
tergeletak di atas meja yang tampak usang.
Apakabar, Sal? Pasti kamu baik-baik saja seperti yang aku lihat dulu.
Maaf kalau aku pernah membuat kamu bimbang karena perlakuanku
terhadapmu.
Ketika aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, aku cenderung
memberinya banyak perhatian dan berbicara dengan suara yang lembut. Tapi, itu
berbalik fakta ketika aku sadar kalau aku jatuh cinta denganmu.
Aku bingung harus memberi perhatian yang seperti apa untukmu, sementara
kamu seperti orang yang tidak peka.
aku hanya bisa menjahilimu, mengambil makananmu, dan membuatmu tertawa
setelah jam pelajaran matematika yang sangat kau benci itu berakhir. Dengan
cara itu aku bisa mendapatkan perhatianmu.
Sal, kenapa kamu tercipta jadi murid yang bodoh? aku agak risih berada
dekat denganmu. Maaf, saat itu aku lebih memilih orang lain.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa aku sempat menyukaimu, karena
aku akan melenyapkanmu dari memori otakku. Aku anggap kita tak pernah saling
kenal.
Tapi, itu semua sangat sulit. Maka, kusimpan semuanya tentangmu di
ruangan ini.
Sally, keinginan yang tak tersampaikan.
Sally
tercengang membaca surat yang ditulis Revan,
kenapa ia harus merasa risih kalau
ia benar-benar yakin kepada perassannya? Apakah itu tulus? Pikir Sally.
“Sal, di rak itu, ada DVD yang berisikan
video dari Revan untukmu.” Mama Revan memecah haru Sally.
Sally
menyetel DVD dan duduk di sofa yang berada di depan TV, bersiap melihat isi
dari DVD tersebut.
“Di
sana, di dalam video itu, Revan terhanyut dalam pengakuannya. Menyanyikanku
lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ setiap tanggal 11 Januari di setiap tahunnya.
Menyiapkan kue, lalu ia makan sendiri, dan matanya seperti mengeluarkan air
mata.
Kini
aku tahu alasanmu menghindariku ketika aku menyapamu di jejaring sosial, tak menganggapku
ada ketika kamu bersama teman-temanmu yang populer. Alasannya, karena kamu
gengsi pernah mengenal orang bodoh seperti aku.
Di
setiap tahun setelah kita berpisah, aku bangkit, Van. Ketika aku mulai
menyerah, namamu muncul. Dan di situlah letak semangatku. Hingga pada akhirnya
impianku menjadi kenyataan, bertemu kamu dengan sosok Sally yang sekarang,
bukan Sally yang selalu diolok-olok karena tak pernah masuk peringkat 15 besar
selama SMA.
Tapi,
kenapa kamu belum merubah pandanganmu tentangku? kamu masih belum menganggapku
orang berguna.” Kata Sally sambil terisak melihat video dari Revan.
***
Sudah tiga bulan Revan belum melewati masa
komanya, ia seperti mayat hidup yang terbaring di atas kasur rumah sakit.
Kali ini Revan diharuskan untuk mejalankan
serangkaian pemeriksaan laboratorium, Sally segera mengambil jas lab yang
digantung di lemari lalu naik ke kamar inap Revan untuk mengambil sample
darahnya.
Sepanjang
jalan menuju ruangan, ia tak tahan ketika harus melihat Revan terus-terusan
seperti ini.
Tok
tok tok...
Sally
mengetuk pintu kamar inap Revan, ada beberapa teman SMA yang menjenguk Revan.
Dan dalah satunya adalah Rama.
“Bagaimana
ini? Mereka pasti melihat namaku di name tag jas lab ini.” Sally pasrah.
“Permisi,
Revan diambil darahnya dulu, ya..” Kata sally
“Mbak
Fanny, pelan-pelan ya ngambil darahnya. Kasihan Si Revan.”
Sally
kaget ketika Rama tidak menyebut namanya, ia bau sadar kalau ia salah ambil jas
lab, yang ia ambil adalah jas lab rekannya. Sally lega.
***
“Fanny..Fanny,
makasi banyak ya! Berkat jas lab kamu aku selamat.” Sally memeluk Fanny yang
sedang meng-input hasil.
“Tenang,
Sal. Ceritakan pelan-pelan kepadaku.” Balas Fanny.
“Kamu
ingat kan, waktu itu aku pernah cerita kalau aku sebel banget sama temennya
Revan yang bernama Rama itu?”
“Ya,
aku ingat.”
“Tadi
dia ada di kamar Revan. Coba saja kalau dia tahu aku, aku malu banget.”
“Ya
bagus dong kalau dia tahu. Jadi dia tidak meremehkan kamu lagi.”
“Bukan
begitu, Fan. Bagi mereka, aku ini tidak ada apa-apanya, meskipun aku sudah
bekerja.” Tunduk Sally, Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari terasa begitu hambar,
benar-benar membosankan.
Setiap hari hanya bekerja,
pulang, bekerja lagi, dan begitu seterusnya.
Tapi, semenjak hari itu,
entah kenapa aku mendapatkan gairah hidup lagi.
Hari dimana aku bertemu kamu
lagi setelah sekian lama.
Tapi,Tuhan..kenapa aku hanya
boleh mencicipi sedikit kebahagiaan itu?
Sekarang, penyemangat
hidupku sedang terbaring koma.
Bahkan, aku harus mencuri
waktu kerjaku untuk melihatnya.
Aku harap dia cepat sadar
dan bisa kembali tertawa bersamaku. Amin.
Begitulah
curahan hati Sally yang ibunya lihat di secarik kertas yang tergeletak di meja
kamar Sally. Ibu Sally mengerutkan dahinya tanda penasaran tentang apa yang
sedang dialami anaknya.
“Ibu
sedang apa di kamarku?” Sally tiba-tiba masuk ke kamarnya dan mengejutkan
ibunya.
“Apa
maksud dari suratmu ini,Sal? Siapa yang koma?” Ibu bertanya tak
tanggung-tanggung.
“Dia
adalah orang kedua yang berharga setelah ibu. Dia penyemangatku.”
“Baiklah,
ibu mengerti. Tapi, kamu harus mengerti satu hal bahwa mulut lelaki itu tidak
bisa dipercaya.”
“Tapi,
bagaimana bisa ibu...”
Ibu
memotong pembicaraan Sally, lalu pergi meninggalkan kamar Sally. “Fokus saja
pada pekerjaanmu.”
Sally
menghela napas, menenangkan diri sejenak sambil merenungkan kembali masalahnya.
Ia menyadari betul bahwa ibunya masih belum bisa lepas dari rasa trauma yang
disebabkan oleh ayahnya. Tapi, kenapa harus ia yang merasakan dampaknya? ia
juga ingin merasakan manisnya mencintai dan dicintai seseorang. Itulah yang ada
di benak Sally.
Siang berganti malam, Sally tetap
mengurung diri di kamarnya menikmati musik ballad kesukaannya. Tapi, seakan handphone Sally tak bersahabat dengan
hatinya yang sedang galau. Dering tanda SMS masuk berbunyi, Sally tidak
membukanya dan tetap melanjutkan mendengarkan lagu. 1,2,3 SMS diabaikan, karena
ia merasa terganggu, akhirnya SMS yang keempat membuatnya jengkel dan terpaksa
membukanya.
SMS
pertama:
Dari
Dio
Sal,
udah lama aku nggak main ke rumah kamu. Jadi, sekarang aku ada di depan rumah
kamu. Aku masuk, ya?
20.00
SMS
kedua:
Dari
Dio
Kamu
kok balesnya lama? Aku nggak boleh masuk ya? Yaudah deh, aku tunggu kamu di
luar ya.
20.25
SMS
ketiga:
Dari
Dio
Sal,
kamu keluar dong. Aku pengen ngomong sesuatu.
20.50
SMS
keempat:
Dari
Dio
Aku
tunggu sampai kamu keluar,ya. Karena ini penting banget.
21.00
“Astaga!
Kak Dio udah satu jam yang lalu nunggu aku diluar! Bagaimana ini?!”
Sally
bangun dari tempat tidurnya dan segera melihat lewat jendela kamarnya.
“Hujan!
Diluar hujan! Dan kak Dio masih berdiri disana.”
Sally
melihat Dio sedang berdiri di depan pagar rumahnya, ia sangat bersalah kepada
Dio. Ia terus melihat dari jendela, ingin turun tetapi apa yang ingin dia
katakan kalau Dio bertanya serius. Kejadian ini membuat Sally teringat pada
kenangan di masa SMA, betapa menyedihkannya ketika ia menunggu Ray di depan
rumahnya dalam keadaan yang sama seperti ini. Akhirnya hati Sally terketuk
untuk menemui Dio yang sudah basah kuyup.
Dio tertunduk lesu dan wajahnya memucat,
tetapi semua itu sirna ketika ia menyadari bahwa ia berada dibawah satu payung
bersama Sally. Sally menatap Dio dengan tatapan bersalah.
“Sal,
kamu datang juga.” Dio tersenyum
“Kak,
jangan maafkan aku, karena aku udah membiarkan kakak seperti ini. Tolong,
lalukan sesuatu yang membuatku jera dengan perbuatanku ini.” Sally memelas.
“Enggak,
Sal. Aku yang ada perlu dengan kamu. Jadi, aku harus menunggu sampai bertemu
kamu.”
“Kakak
mau ngomong tentang apa?”
Dio
mengeluarkan satu kotak kecil berisi sebuah cincin, ia tersenyum pada Sally dan
berharap Sally akan menerimanya.
“Apa
yang kakak lakukan dengan cincin itu?” Sally tak mengerti.
“Memakaikannya
di jari manis kamu supaya semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya.“ Dio
meraih tangan Sally, kemudian Sally menarik tangannya.
“Aku
mohon kak, jangan bersikap seperti ini terus. Aku nggak pantes dapat perlakuan
kaya ini, karena aku belum bisa terima kakak.” Pinta Sally.
“Aku
cuma ingin kamu belajar menerima aku. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti
bisa.”
Sally
benar-benar belum bisa melakukan apa yang diinginkan Dio, hatinya masih ditawan
oleh Revan. Lalu, Sally berlutut memohon dengan sangat pada Dio, berharap Dio
bisa menghentikan semua ini.
“Aku
mohon kak sekali lagi, hentikan semua ini. Aku nggak mau menyesal untuk kedua
kalinya karena nggak peka sama perasaan Revan dan aku juga mau menghilangkan
rasa gengsiku ini yang sudah membuatku kehilangan orang yang aku sayang.” Air
mata Sally turun membasahi pipinya bersama hujan, ia berharap sekali Dio bisa
mengerti.
“Tapi,
sampai kapan kamu bertahan sama Revan? Kamu lihat sediri dia masih koma,
bahkan, sekalipun ia sudah sadar, ia butuh waktu yang tidak sebentar untuk
memulihkan kondisinya.” Dio meyakinkan hati Sally yang sulit untuk digoyahkan.
“Sudahlah,
aku masuk ke dalam dulu. Besok aku dinas pagi.” Dio pergi meninggalkan Sally
dengan perasaan kecewa.
***
Akankah Dio bisa mencairkan hati Sally? Mungkinkah nantinya Sally akan berpindah ke lain hati?
Langganan:
Komentar (Atom)