Entri Populer

Selasa, 14 Juli 2015

[3]Teka - Teki dari Tuhan: Hari paling membahagiakan

Pagi yang cerah di minggu pagi. Sally mengawali pagi ini ini dengan ucapan terimakasih kepada Tuhan yang senantiasa mengukir senyuman di bibirnya.
“Sal, tidak biasanya kamu bangun pagi. Biasanya kalau libur, kamu bangun diatas jam 10.” Ibu menegur Sally yang sedang membersihkan ruang tamu.
“Bu, aku ini sudah berubah menjadi gadis yang rajin.” Sally tersenyum-senyum sendiri.
“Pasti ada alasan dibalik berubahnya anak ibu ini. Hahaha..” Ibu tertawa mendengar jawaban Sally.
Tentu saja Sally heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia rajin seperti ini. Mungkin karena efek kejadian semalam. Hampir semua pekerjaan rumah pagi ini Sally yang mengerjakan, dari mencuci hingga membersihkan rumah.
Sally membuka lemari dan memilih pakaian yang cantik untuk dikenakan. Ia merasa selera fashionnya sangat buruk. Ada beberapa pakaian yang cukup good looking, itupun hanya ia pakai saat acara tertentu saja. “Aish! Sally, pantas saja tak ada laki-laki yang mau mendekatimu.” Sally memukul kepalanya.
Ibu sudah curiga dengan tingkah Sally yang aneh belakangan ini. Sepertinya ia tahu bahwa anaknya sedang kasmaran.
Sally berpamitan dengan ibunya dan beralasan pergi hang out bersama teman lamanya. Ia membuka pagar rumah dan berjalan menuju halte bus lalu menaiki bus yang selalu datang tepat waktu. Wajahnya sangat bersinar hari ini.
Sepanjang perjalanan Sally tak pernah tidur seperti biasanya, terkadang ia mencubiti pipinya sambil tersenyum senyum sendiri untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi belaka.
Lalu lintas pagi ini cukup lancar dan membuat Sally cepat campai ke tujuan. Sally berjalan menuju taman dan menunggu Revan yang belum nampak kehadirannya.
Satu per satu orang-orang yang berlalu lalang ia selalu memperhatikan, apakah Revan ada diantaranya atau tidak. Ternyata, tidak.
Sally merasa jenuh menunggu sendirian dan hampir memasuki tingkat kekecewaan. Beberapa pasang mata yang sedang tertawa ceria, Sally hanya bisa bersabar dan yakin akan kedatangan Revan.
“Katanya janjian di sini jam 11, sekarang sudah jam 1 siang dia belum datang juga. Dasar pemberi harapan palsu.” Sally menendang-nendang angin yang ada di depan kakinya.
“Bodoh, aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tertipu lagi olehnya. Apakah aku sang penikmat harapan palsu yang senantiasa tertipu dengan harapan-harapan palsunya? Seharusnya aku tak berada di sini dan tidak tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.” Sally berancang-ancang untuk bangun dari duduknya.
Sally bangun dari bangku taman dan hendak pulang kerumah dengan segala kekecewaan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekap wajahnya dari belakang, Sally terkejut dan sontak berbalik badan ke arah orang misterius itu. Dia Revan, seseorang yang selalu mengejutkan Sally dengan mendekap wajahnya.
“Kamu...” Sally menghela napas lega.
“Masih sama seperti dulu, selalu mudah kaget.” Revan memandang Sally dengan tatapan menahan tawa.
“Heh! Siapa orang yang tidak kaget kalau ada orang yang mendekap wajahnya dari belakang?!” Sally memarahi Revan
 “Bagaimana, sudah lama menunggu? Hahaha...”
“Hampir saja aku tinggal pulang. Bagus sekali kamu menyuruhku menunggu 2 jam. Lain kali, aku tidak mau dijanjikan kamu lagi.” Sally berusaha memasang wajah ketus di depan Revan, padahal hatinya merasa lega karena orang yang sangat ia tunggu sudah datang.
“Aku tahu. Ekspresimu lucu sekali kalau sedang bosan. Hahaha...”
Sudah lama sekali Revan tak bercanda dengan Sally seperti ini. Ia selalu menepuk badannya ketika tertawa terbahak bahak., menarik bajunya ketika kesal, dan selalu pasrah kalau Revan sedang menindasnya. Semuanya tak ada yang berubah, kecuali Revan yang selalu mencoba menghindari Sally.
“Bodoh, kenapa kamu tidak datang di setiap acara reuni angkatan kita?”
“Bukankah aku akan diasingkan di sana? Aku lihat di foto yang kalian share. Hanya kalian yang populer saja yang datang. Sepertinya kamu juga senang bertemu dengan teman-teman lamamu.” Sally memberi alasan.
“Hm, aku memang senang sekali. Hahahaha.” Revan mencairkan suasana.
“Lalu, kita hanya di sini saja, begitu?” Sally mengalihkan pembicaraan.
“Ayo, ikut aku!” Revan secepat kilat menarik tangan Sally dan mengajaknya untuk naik ke motornya.
Sepanjang jalan Sally bertanya-tanya kemana ia akan dibawa pergi. Tapi, Revan tak sekalipun menjawab dan hanya tersenyum diam-diam.
“Van, kita mau kemana sih?”
“Kamu cerewet sekali. Nanti kamu akan tahu.” Revan menjawab karena tak tahan dengan celotehan Sally sedari tadi.
Revan menghentikan laju motornya di suatu tempat yang sangat bersejarah untuk mereka.
Revan benar-benar banyak akal, ia melewati arah yang berbeda menuju tempat ini. Tempat pertama kali mereka dipertemukan, di SMA Pelita Bangsa.
Sudah lama Sally ingin ke tempat ini, tapi ia selalu mengurungkan niatnya karena kenangan yang pernah ada pasti muncul lagi.
“Sekolah kita. Ini sekolah kita.” Sally tak menyangka ia bisa berdiri di tempat ini lagi, terlebih bersama Si Pembuat Kenangan.
“Ayo, masuk!” Revan menarik tangan Sally.
Ada banyak kenangan di tempat ini. Sedih, senang, kesal, marah pernah mereka lakukan bersama. Awalnya, Revan tak tahu perasaan yang ia rasakan. Ia mencoba menahannya, tapi, mengapa sangat sesak ketika mengingat Sally pernah berlari mengejarnya untuk bercerita tentang orang yang ia suka. Sally yang selalu mengabaikan Revan.
Revan dan Sally menaiki lantai 3 sekolah dan berjalan menuju kelas mereka dulu, yaitu kelas 10A. Sally tak terlihat seperti biasanya. Revan tak pernah melihat ekspresi wajah Sally seperti yang ia tunjukkan sekarang, raut wajahnya nampak sendu dan sepertinya ia terharu.
“Kelas ini mengapa banyak berubah, warna catnya sudah tidak lagi berwarna hijau seperti dulu.”  Sally memegang tembok yang menjadi saksi kenangan mereka.
“Kamu tidak perlu heran, semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.” Revan menepis komentar Sally.
“aku tidak pernah menyangka, sekarang aku berdiri di depan kelas ini bersama orang yang paling menyebalkan.”
“Memangnya dulu aku sangat menyebalkan, ya?”
“Dulu dan sekarang kamu tetap menyebalkan.”
“Sally, ke sini!” Revan meninggalkan Sally yang berada di balkon dan berlari ke dalam kelas.
“Tidak biasanya kamu memanggil namaku. Hahaha...”
Revan duduk di bangkunya saat kelas 10. “Tepat di bangku ini, aku pernah menjajahmu selama 2 semester.”
“Tepat di bangku ini, di depan bangkumu. aku pernah jadi korban penindasanmu.” Sally mulai memasuki dimensi saat mereka kelas 10.
“Sejujurnya, pernah menjajahmu  adalah hal yang paling membanggakan dalam hidupku.”
Sally hanya tetawa kecil setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Revan. Sally tak mampu berkata-kata apa lagi. Revan tepat duduk di belakang Sally, bangku dimana ia  duduk semasa kelas 10. Begitu terasa atmosfer yang pernah  Sally rasakan dulu. “Maafkan aku Revan, aku pernah mengabaikanmu sehingga membuatmu pergi karena kebodohanku.” Ungkap Sally yang terhanyut dalam arus masa lalunya.
Mereka meninggalkan kelas 10A dan berjalan perlahan sambil merasakan kenangan dulu. Tak ada yang berubah dari Revan, Ia masih seperti dulu, selalu memukul kepala Sally dan tertawa setiap melakukan itu.
“Kamu ingat tempat itu? Kamu pernah sengaja menyiramku dengan air dari tempat itu.” Sally menunjuk balkon di depan kelas 12C.
“Aku merindukan masa-masa itu.” Revan yang tak menyadari ucapannya.
“Apa?”
“Tidak, tidak ada. Aku menyirammu karena saat itu wajahmu seperti orang belum mandi.” Revan beralibi.
“Apa dia bilang, dia merindukannya? Revan, kemunafikanmu selalu terbaca oleh ku. Mengapa kamu selalu menyembunyikan perasaanmu, padahal aku sudah bisa menebak yang sebenarnya. Hanya satu hal yang belum bisa aku tebak, yaitu alasan dibalik kebungkamanmu.” Sally menatap kuat Revan, seolah-olah matanya mengikuti perkataan yang ada di dalam hatinya.
Sally dan Revan melakukan hal yang sama seperti dulu. Bermain, bercanda, dan saling menindas satu sama lain. Kelas 12C adalah kelas mereka saat kelas 12.
Mereka hanya terpisah saat kelas 11, dan dipertemukan kembali di kelas 12C.
Revan menyambangi Sally yang sedang membuka bekal makanannya. Ini menjadi sesuatu yang paling Revan ingat, Sally selalu membawa makanan kemana pun ia pergi. Revan juga tak tahu alasannya, ‘mungkin Sally selalu lapar dan ingin menghemat uang’ Revan selalu menanamkan alibi itu ketika dilanda rasa heran.
Makanan yang Sally bawa selalu terasa enak dan rasanya tak pernah berubah. Revan tak yakin itu adalah buatan Sally, dan yakin itu pasti buatan ibunya.
“Begitu ya, makan tidak nawari aku?”
“Biasanya kamu langsung ambil sendiri tanpa sepengetahuanku.” Balas Sally.
“Hahaha..benar. Kamu tau tidak kenapa aku selalu makan makananmu?”
“Aku tahu. Kamu itu pelit, jadi, kamu tidakk mau keluar uang untuk membeli makanan.” Sally tertawa keras.
“Hahaha...Salah, karena makanan yang kamu bawa selalu enak, apalagi bakwan jagung ini. Masakan mamaku tidak seenak ini. Itu alasanku.”
“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu? Aku bisa bilang ke ibuku kalau ada orang yang menggemari masakannya dan selalu mengambil jatahku.”
Revan tak bisa menjawab pertanyaan Sally dan hanya terdiam menatapnya. Seakan terpaku pada keadaan yang tak bisa teralihkan lagi. “Haruskah aku memberikan jawaban yang sebenarnya? Aku tak tega padanya yang selalu menebak nebak sendiri dengan asumsinya. Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, lalu kenapa Tuhan mendorong aku ke tempat ini bersamanya? Mungkinkah ini jalan yang sudah ditakdirkannya? Jalan yang sebenarnya tak aku inginkan.” Revan bergejolak dengan hatinya.
 “Kamu kenapa diam? Kalau kamu tidak mau makan, itu bagus sekali. Biar aku yang habiskan.” Sally memecah lamunan Revan.
“Pasti aku mau. Jangan harap kamu bisa bebas dari penindasanku kali ini. Hahaha...”
Sally diputar pada kenangan bersama Revan dan ia menyukainya. Semenjak terpisah selama 6 tahun, Sally selalu membawa bekal makanan kemana pun ia pergi. Itu Sally lakukan karena ia ingin mengenang Revan dan berharap bisa makan bersamanya lagi seperti yang mereka lakukan dulu. Dan harapan yang  ia kira hanya harapan yang tak pernah terwujudkan, sekarang Tuhan telah mewujudkannya. Meskipun Sally harus melewati penantian yang sangat membuatnya lelah.
            Sally merasa senang melihat Revan makan dengan lahap. Ekspresinya tak berbeda, begitu jelas terekam di memori otak Sally. “Revan, bisakah kamu kembali seperti dulu, yang selalu membuat perasaanku menjadi nano-nano, membuat aku merasa bangkit ketika aku sedih, dan tertawa denganku setiap saat.” Pinta Sally dalam doanya.
            “Tuhan, lambatkanlah waktu yang kian terasa cepat berlalu. Aku tak ingin ini berakhir. Berikanlah aku kesempatan atas kebodohan yang pernah aku miliki, aku ingin terus begini. Melihatnya tertawa lepas seperti halnya aku dan Revan lakukan.
“Hei, yang terakhir ini untukku!” Revan merebut gagang sendok yang dipegang Sally dengan cepat.
“Iya, ini untukmu. Aku sudah kenyang, kok.” Sally berjalan menuju balkon.
Revan segera menghabiskan makanan dan menghampiri Sally yang nampak aneh.
“Kamu marah karena makanannya aku habiskan?”
Sally menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis dan perlahan air mata membasahi pipinya.
“Sal, kamu nangis? Gara-gara aku?” Revan mulai merasa bersalah.
“Iya, gara-gara kamu. Sorry, aku pergi duluan.”
Revan mengejar Sally yang cukup cepat berlari. Apa yang ada di pikiran Sally ia tak tahu, mengapa Sally tiba-tiba seperti itu.
Sally pergi dari tempat itu, tempat yang tak bisa membuatnya menahan air mata yang kini telah terjatuh. “Maaf Revan, aku belum bisa jujur. Karena tidak mungkin untukku mengatakannya lebih dulu, aku menunggumu.”
Revan masih berasumsi sendiri tentang apa yang tejadi dengan Sally. Ia beranjak dari balkon dan merapikan bekal Sally yang masih tergeletak di atas meja kelas lalu menuruni anak tangga untuk mengejar Sally yang belum berada terlalu jauh dari sekitar sekolah.
Sallly sudah tak kuat lagi berlari dalam suasana hati yang kacau. Ia mencoba menghindari Revan yang ia pikir sedang mencarinya sekarang, bersembunyi dibalik mobil yang sedang parkir di tepi jalan pun menjadi pilihan terbaik Sally saat ini.
Revan kelimpungan sendiri dengan Sally, dilihatnya ke berbagai tempat sambil mengendarai motornya. Tapi, Sally belum terlihat juga. “Kemana perginya anak itu? Buang-buang waktuku saja. Buat apa aku harus mencarinya, lebih baik aku pulang saja.” Revan putus asa mencari Sally.
Tanpa disadari, Revan telah melewatkan Sally yang sedang bersembunyi di balik mobil sedan berwarna hitam itu. Revan tetap melajukan motornya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Sementara Sally, sudah pasrah karena mobil yang berada di sampingnya akan segera pergi. “Aduh, bagaimana ini? Please, van, jangan lihat aku.” Sally panik.
Revan yang kebetulan melihat kaca spionnya, tak sengaja melihat Sally yang sedang berdiri salah tingkah tak jauh dari belakangnya. Ia segera menghentikan motornya dan tertawa terbahak bahak.
Sally yang menyadari bahwa Revan mengetahui dirinya sekarang, dengan cepat ia berjalan ke arah balik karena sepertinya Revan akan segera menangkapnya.
“Ah! Dia semakin dekat, mau ditaruh dimana wajah aku ini?” Sally berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
“Ah! Apa ini?! Sakit sekali.” Sally memegang kepalanya yang dilempar kotak bekalnya  dengan Revan.
“Hahaha..jadi orang jangan terlalu bodoh,” Revan menghentikan motornya di belakang Sally.
“Matilah aku, sekarang dia bisa puas menertawakanku. Apa yang akan ia lakukan terhadapku setelah ini? Tak seharusnya aku bertindak bodoh seperti sekarang, karena Revan jauh lebih pintar daripada aku.” Sally menunduk dan memalingkan wajahnya.
“Kalau kangen sama aku, kamu tidak perlu lari, lalu mengumpat di belakang mobil. Bilang saja langsung.” Revan tertawa sambil memukul kepala Sally. Sally hanya tersenyum malu melihat wajah Revan. Revan selalu bisa membuatnya kalah telak.
Revan mengantarkan Sally pulang sampai di depan rumah. “Dia sangat manis hari ini, rasanya ingin sekali aku menempelkan wajahnya di bantal tidurku, menjadikan suara tawanya sebagai ringtone handphone ku, dan menyimpannya di lemari bajuku. Revan, buatlah aku tersenyum seperti ini setiap hari.” Ucap Sally di dalam benaknya.
“Hati hati ya, Van.  Jangan ngebut naik motornya.”  Sally memberikan nasehat kepada Revan.
“Iya, orang bodoh.” Revan kembali menertawakan Sally.
“Van....” Sally yang berpura pura memasang tampang ganas dan bersiap melemparkan tasnya ke wajah Revan.
“Peace, Girl. Oh ya..kamu harus siap ya, karena mulai hari ini sampai seterusnya, hari-harimu tidak akan bisa tenang. Hahaha.”
Revan pergi setelah Sally masuk ke dalam rumah. Sally berterimakasih pada Revan karena hari ini ia baik sekali. Seumur hidup Sally, baru kali ini ada seseorang yang mengantarnya pulang dan ia tak pernah menyangka, Revan yang melakukan itu. Seseorang yang tak diduga oleh Sally.
***
“Kalau orangnya pernah menyakiti kamu, lebih baik jangan pernah kamu bawa lagi kesini.”  Suara ibu mengejutkan Sally yang baru saja membuka pintu.
“Ibu, buat aku kaget saja.”
“Cuma itu pesan ibu buat kamu.”
Aku tak mengerti apa maksud ibu berkata seperti itu kepadaku. Sepertinya ibu masih trauma karena dikhianati ayah dan tidak ingin itu terjadi kepadaku juga. Sejak dulu, aku memang tak pernah bercerita tentang orang yang aku suka apalagi membawanya ke rumah. Kadang aku merasa kalau ibu tak pernah mengalami masa muda karena tak bisa mengerti perasaanku.
Bukanya mencerna perkataan ibu barusan, aku malah masuk ke kamar dan memikirkan kejadian yang sangat membuat aku bahagia hari ini. Tuhan, semoga hari hari ku selalu seperti ini setiap hari.

***

Ibunya Sally kelihatannya nggak setuju kalau Sally sama Revan? Bagaimana ini??

[2]Teka - Teki dari Tuhan: Kejutan dari Tuhan

Matahari kembali menyambut pagi, tentu saja pagi ini sangat cerah. Burung-burung di pohon di depan halaman rumah Revan juga kian berkicau, sama seperti mama Revan yang selalu berkicau untuk membangunkannya. Sejak dulu hingga sekarang Revan memang sulit sekali untuk bangun pagi meskipun alarm handphone-nya terus berdering.
“Revan, ayo bangun! Sudah besar masih saja bangun siang.” Mama Revan membuka pintu dan jendela kamar Revan.
“Hmmm..masih ngantuk.” Revan memberi jawaban dengan suara yang terdengar masih mengantuk.
 “Ma, justru aku sudah besar, biarkan aku bebas sedikit. Please...” Revan terbangun karena ia rasa sudah tak seharusnya mama bersikap seperti ini kepadanya yang bukan anak kecil lagi.
Rencana Revan di hari ini adalah pergi ke rumah sakit untuk medical check up. Revan selalu melakukannya setiap 6 bulan sekali. Sebenarnya, ia takut dengan jarum suntik. Tapi apa daya, Revan adalah seorang laki-laki, mustahil umtuknya menunjukkan ketakutannya pada orang lain.
Sementara Sally, merasa hari berjalan begitu cepat. Serasa baru saja sekejab memejamkan mata di malam hari, tiba-tiba harus membuka mata kembali karena pagi pasti datang dan Sally terus berkutat dengan aktivitas yang kini rutin dijalaninya.
“Selamat pagi, semuanya! Apakah kalian merasa senang hari ini?” Sally yang mencoba meniadakan sisa kesedihannya semalam dengan menyapa rekan-rekan kerjanya di laboratorium.
“Tentu, kami sangat senang hari ini. Memangnya kamu..” Canda salah seorang rekan kerja Sally.
“Hei, aku selalu bahagia setiap hari.” Bela Sally.
“Aku tidak yakin, karena mata kamu besar sekali hari ini, kamu pasti habis menangis galau semalam. Hahaha...”
“Semalam paket internetku habis. Jadi, aku galau karena tidak bisa download lagu.” Sally beralasan tak akurat, membuat rekan-rekan Sally tertawa dengan tingkah lucu yang dilakukan seorang gadis yang baru satu bulan menjadi laboran di Jakarta Hospital ini.
Sally bersiap memakai jas lab yang merupakan bagian dari pekerjaannya, lalu menanti pasien untuk dilakukannya sampling pengambilan darah.
Pagi ini pasien sudah sangat banyak, belum lagi nanti siang, ditambah lagi Sally harus bekerja lembur sampai nanti malam. Rutinitas ini kadang terasa membosankan, dan ia harus membuat hari-harinya terasa menyenangkan.
            14 pasien telah dilakukan sampling pengambilan darah oleh Sally. Namun, ada yang berbeda dengan pasien yang ke-15 ini.
“Revan Aditya...” Sally memanggil nama pasien dengan refleks.
 Sally terpaku seketika, wajahnya memucat, tubuhnya agak gemetar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Semua rasa menjadi satu dalam hatinya, bahagia sekaligus takut. Bahagia karena orang yang tak ia jumpai selama 6 tahun kini sudah ada di depan matanya. Tapi, ia takut karena tak yakin orang itu masih mengingatnya atau bahkan melupakannya.
Hal itu tak menjadikan Sally untuk berlari untuk menghindari orang itu, ia harus bekerja secara profesional meskipun pasiennya justru membuatnya menjadi tak tenang.
“Aku sungguh tak menyangka, dia berada disini. Tak pernah terlintas di pikiranku, Sally menjadi seorang laboran di rumah sakit ini. Ternyata, anggapanku selama ini salah. Sally yang aku kenal sebagai orang terbodoh sehingga membuatku merasa jijik untuk berteman dengannya. Sekarang ia sudah berubah pesat, bahkan pekerjaannya sebagai laboran sudah terdengar sangat mewah untuk seorang Sally Si Gadis Bodoh.” Gumam Revan menghampiri Sally yang sedang berputar di kepalanya.
Sally memberikan salam kepada Revan sebagaimana ia lakukan kepada pasien-pasien lain sebagai tanda formalitas dan memberikan pelayanan yang baik. Revan hanya menjawab dengan singkat dan wajahnya datar-datar saja. Sally merasa bahwa Revan juga menyadari kecanggungannya yang tak dapat ia sembunyikan lagi.
“Revan, apakah kamu benar-benar sengaja tak mengenalku?” Gumamnya di dalam hati sambil menusukkan jarum suntik setelah  Sally menemukan dimana letak vena Revan.
Sally melihat wajah Revan yang menunjukan rasa sakitnya akibat sensasi dari tusukan jarum suntik. Sebenarnya, Sally tak tega, karena ia tahu bahwa Revan sangat takut dengan jarum suntik.
Tidak ada kata lain selain “Terimakasih” yang Sally ucapkan setelah proses sampling dilakukan dan Revan pergi tanpa kata-kata. Keduanya seakan menunjukkan rasa rindu yang tak tersampaikan.
“Dia telah pergi tanpa sesuatu yang membuatku yakin kalau aku tak terlupakan, dan aku merasa bahwa ia benar-benar tak mengenalku lagi. Dimana candamu? Dimana tawamu? Dimana tingkah lakumu yang dulu? Aku merindukannya,Van.” Sally terdiam lesu dan hanya hatinya yang berkata-kata.
Meskipun begitu, sekarang Sally merasa lebih baik karena bisa melihat Revan dengan jelas walau ia kehilangan siapa Revan yang dulu ia kenal. Revan, cinta yang tak tersadari.
***
Pasien demi pasien telah tertangani, kini waktunya Sally pulang dari pekerjaannya yang berakhir sampai larut malam. Sepertinya keadaan Sally sedang tak begitu baik, tentu saja karena Revan. Revan yang kembali berkutat di pikirannya.
Langkah kaki Sally tak tertuju langsung ke rumah. Seperti biasa, ketika hatinya terasa buruk, ia menikmati udara malam di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja.
Ia duduk termenung di taman sendirian, merelaksasikan pikirannya yang rumit. Berharap akan merasa lebih baik setelah dari tempat itu. Merelaksasikan pikiran sambil mendengarkan musik di tengah kesunyian mampu membuat Sally tertidur. Tertidur pulas tanpa ada seorang pun yang berada di dekatnya.
Sementara Revan yang masih sulit memejamkan mata dan otaknya, belum bisa beristirahat karena pikirannya masih tertuju pada kejadian mengejutkan tadi pagi. Masa lalunya bersama Sally mulai hadir di dalam alam sadarnya. Selama ini Revan dapat mengalihkan perasaannya kepada gadis lain. Tapi, saat ini ia tak bisa melakukannya lagi. Sally, keinginannya yang tak tersampaikan.
Terbesit di pikiran Revan untuk melangkahkan kaki ke sebuah tempat yang tentu saja mengingatkannya pada Sally. Sebenarnya, ia malas untuk beranjak, tapi hatinya yang menuntunnya pergi ke tempat itu. Tempat dimana Sally sedang terlelap malam ini. Mungkinkah Tuhan mulai memberikan petunjuk dari teka-tekinya?
Revan memakai jaket Chelsea FC dan segera mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja kamarnya. Seperti biasa, ia selalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tanpa ada rasa takut.
Revan tiba di taman dengan memasukan kedua tangannya di kantung jaket karena dinginnya malam yang begitu menusuk. Selintas, taman terlihat sangat sepi dan tak berpenghuni. Ternyata, ada seorang gadis yang duduk tertunduk di bangku taman dengan wajah yang tertutupi oleh rambut panjangnya. Revan mulai merasa tidak nyaman, rasanya ia ingin segera kembali pulang. Tapi, kali ini ia sangat penasaran dengan makhluk yang dilihatnya sekarang.
Revan meyakinkan langkahnya untuk mulai mendekat pada gadis itu, tangannya menyentuh rambut si gadis untuk melihat wajahnya. Ia menjadi semakin penasaran.
“Haaaa...!” Sontak Revan terkejut dan memundurkan kakinya karena si gadis terbangun sehingga wajahnya pun kini terlihat.
Revan  merasakan shock therapy malam ini. “Sally...”
“Kamu mirip Revan. Wajahnya, tubuhnya, gaya berpakaiannya, dan suaranya.” Sally yang masih setengah sadar dari tidurnya.
“Si bodoh ini lagi? Baru kali ini aku merasakan kalau dunia itu sempit.” Gumam Revan dengan tampang sinisnya.
“Bodoh, bisakah kamu tidur di rumahmu? Apa sekarang kamu dipecat, lalu menjadi gelandangan?” Revan membalas dengan kata-kata pedas karena kepanikannya.
Sally yang telah sadar dari tidurnya, mulai menyadari bahwa laki-laki di hadapannya itu  adalah Si Hulk Revan. Awalnya ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengan Revan , Salli merasa Tuhan telah merencanakan sesuatu.
“Revan, bagaimana bisa kamu berada di sini?” Kata Sally dengan wajah tak percayanya.
“Aku tidak mengenalmu.” Revan berpura-pura tak mengenal Sally dan membalikkan badannya, lalu melangkah pergi.
“Revan, apakabar?” Sally berbicara dengan penuh rasa rindu. Tapi, Revan tetap tak menghentikan langkahnya.
.............
“Tapi, aku sangat mengenalmu, van. Mungkin kamu menganggapku sebagai mantan teman, tapi, aku tidak pernah sekali pun menganggapmu seperti itu.”
“Revan...!”
Kalimat terakhir yang diucapkan Sally berhasil membuat Revan berbalik badan dan menghampiri Sally.
“Memangnya siapa aku?” Revan mulai tercairkan hatinya.
“Kamu itu Revan. Orang paling jahil, pelit, hobinya marah-marah, dan suka merampas makananku.” Sally membalas sambil tertawa kecil.
“Apa kamu punya beberapa makanan untuk aku rampas?” Revan meledek Sally dan menariknya untuk duduk di bangku taman.
Lalu Sally mengeluarkan satu bungkus kue coklat yang selalu ia makan setiap hari. Kue kenangan mereka.
Revan cukup terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh Sally. Untuk kesekian kalinya Sally membuatnya menyesal karena terus-menerus bungkam dengan perasaannya.
Mereka yang tak pernah sadar dengan perasaannya di masa lalu, sehingga Tuhan menguji mereka dengan perpisahan, lalu Tuhan mempertemukan mereka kembali untuk meyakinkan bahwa cinta telah hadir sejak dulu hingga sekarang.
“Kamu sedang apa malam-malam tidur sendirian disini?” Revan menepuk lengan kiri Sally seperti halnya ia lakukan di masa lalu.
“Tidak mungkin aku memberitahu alasanku bisa berada disini, karena alasannya adalah dia. Dia yang membuatku terasa rumit hari ini.” Sally bergumam dengan hatinya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya amnesia dengan rumahku sendiri.” Sally salah tingkah dan menggaruk rambutnya.
“Amnesia? Bahkan untuk beralasan saja kamu masih terlihat bodoh. Hahaha...”
“Apa kamu penasaran? Nah! Kamu juga sedang apa di sini? Kamu sedang berburu hantu? Hahaha...” Sally tertawa ternahak-bahak.
“Iya, kamu hantunya. Aku sering kesini kalau sedang bosan di rumah.” Revan memukul kepala Sally.
“Kok aku tak pernah lihatmu?”
“Mungkin itu masalah waktu.” Revan mengakhiri candaan Sally.
Pertemuan singkat dan tak terduga ini pun diakhiri karena dinginnya malam yang begitu mencekam. Sebenarnya, tak ada satu pun diantara mereka yang ingin mengakhiri perbincangan. Revan yang selalu menunda untuk berbicara serius dengan Sally. Kali ini ia tak bisa terus-menerus mengurungkan niatnya.
“Bodoh, kamu terlihat seram malam ini. Ayo, aku antar pulang!”
“Antar aku? Hahaha..” Sally yang sebenarnya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Aku hanya khawatir, nanti orang-orang akan lari ketakutan karena melihat makhluk astral sepertimu berjalan sendirian.” Revan menjawab dengan alibinya.
“Malam ini sungguh indah, kejadian yang ku alami saat ini sangat menakjubkan. Bukankah Tuhan telah menjawab doaku? Sekarang aku berada di motor Revan dan diantarnya pulang. Sebelumnya, ia tak pernah melakukan hal ini kepada ku. Apakah dia tidak sedang menipuku seperti harapan palsu yang dulu ia berikan? Aku harap ini adalah ketulusanya.” Sally bergeming dalam hatinya.
“Bodoh, jangan tidur! Jangan sampai kamu jatuh dan aku menjadi tersangka atas kematianmu!”
“Lalu, aku harus bagaimana?” Jawab Sally tak mengerti kode yang diberikan Revan.
“Oke, kali ini aku memberimu kesempatan untuk memegangku selama di motor.” Untuk kesekian kalinya Revan beralibi.
Sally memegang baju Revan dengan erat, tenyata Revan belum berubah, ia tetap munafik. Tapi, Sally tidak peduli, karena ia  mengerti maksudnya.
“Hei bodoh!” Revan memanggil Sally. Ia merebahkan kepalanya di punggung Revan. Revan merasakan sensasi Sally yang sedang tertidur sekarang. Kadang Revan merasa kasihan dengan Sally, karena ia selalu memanggil Sally dengan sebutan “bodoh”, tapi, Sally tak pernah marah ia panggil seperti itu.
Si bodoh Sally berhasil menciptakan indahnya kembang api di hati Revan, dan dia pintar dalam aspek mencuri hati orang, karena Revan adalah korbannya.
Sally terbangun ketika hampir sampai di rumahnya. Ia meminta Revan untuk menghentikan laju  motornya dan turun di tempat itu. Karena ia tahu, ibunya selalu berpikiran negatif  bila ia diantar pulang oleh teman laki-laki.
“Aku turun disini, ya. Tak enak kalau ibu tahu. Makasih, ya.” Sally membuka helm yang dikenakannya.
“Baiklah, itu bagus kalau kamu cepat turun.”
Baru saja 5 langkah Sally melangkahkan kakinya menuju pagar rumah, Revan  berteriak memanggilnya. “Bodoh! Besok jam 11 pagi, ya, di taman.” Revan  memberikan kodenya.
“Mau apa, Van?” Sally bertanya tak mengerti.
“Lihat aja nanti. Jangan telat!” Revan  segera melajukan  motornya.
“Akhirnya aku  sampai di rumah dengan bahagia. Percaya tidak percaya, malam ini adalah malam paling menyenangkan. Aku kira ini adalah  mimpi, tenyata ini benar-benar kenyataan. Tentu saja tidurku  malam ini sangat nyenyak.” Sally berceloteh sendiri seperti orang gila di kamarnya.

***

Kejutan apalagi yang akan Tuhan berikan kepada Sally?
Tetap setia pada silmyhwang.blogspot.com

[1]Teka-Teki dari Tuhan: Kenangan yang datang tiba-tiba

LEE JONG SUK as REVAN
Revan adalah cowok cool yang sulit mengakui perasaannya, terutama pada cewek yang stupid seperti Sally. Selepas SMA ia sudah bertekad untuk melupakan Sally dan menganggap tak pernah kenal gadis itu, tetapi, Tuhan berkehendak lain, Revan dipertemukan kembali dan menjalani lika-liku kehidupannya.

KRYSTAL as SALLY
Sally adalah gadis periang. Karena suatu insiden, ia kembali teringat pada seseorang yang ia cintai sejak dulu tetapi ia tak pernah menyadarinya. Orang itu adalah Revan, Teman SMAnya yang ia rindukan setelah ia tahu bahwa Revan menyukainya tetapi ia terlambat, karena Revan telah pergi dari kehidupannya setelah beberapa tahun, dan tiba-tiba ia bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda.

KANG HA NEUL as DIO
Dio adalah senior Sally semasa kuliah, tidak ada yang menyangka bahwa ia akan satu tempat kerja dengan Sally. Ia begitu mencintai Sally, Tapi, tidak untuk Sally. Perasaan sayang Sally untuk Dio tak lebih hanya sebagai adik ke kakaknya.

LEE SI YOUNG as ANNA
Setelah memutuskan untuk break dengan Revan, Anna datang kembali karena suatu kejadian. Anna yang merasa masih sebagai pacar Revan, merasa tidak terima kalau Sally menjadi orang yang dicintai Revan





Hidupku mungkin tak begitu indah
Tapi aku rasa kisahku sangat menarik
Karena Tuhan selalu memberikan teka-tekinya
Agar hidupku terasa berwarna

Hari ini tak seperti biasanya, awan gelap mulai berarak dan sepertinya akan turun hujan. Gadis berseragam rapi yang siap berangkat bekerja ini mulai panik dengan pagi yang cukup membuatnya rumit.
“Hei! Ku mohon jangan turun hujan. Aku baru saja satu bulan bekerja, sangat tidak lucu kalau aku datang dengan baju yang basah.” Keluh gadis yang ingin tampil perfect setiap harinya. Dia, Sally.
Tenyata keluhan Sally membuat hujan turun lebat dan petir saling menyambar. Hal ini tak  membuat Sally berniat untuk tidak masuk bekerja, gadis ini memang terkenal dengan kegigihannya di kalangan teman-temannya. Sally tak kehabisan akal, dikenakannya jubah hujan transparan lalu berjalan menuju halte bus sambil membawa payung kuningnya.
“Hahaha..bukankah ini terasa mengasyikan? Berjalan di tengah hujan dengan membawa payung. Bukankah aku seperti berada dalam pembuatan drama? Wohooo!” Sally memang selalu menikmati keadaan.
Keceriaan membuat perjalanan terasa cepat. Sesampainya di halte, Sally segera membuka  jubah hujannya dan berdiri menanti bus bersama kerumunan  orang.
 Dengan kesetiaannya, bus datang  dengan suara khasnya. Sally menaiki bus dan reflek mencari bangku yang kosong.
Bus memang tempat terbaik untuk tidur dikala ketidakpuasan tidur malam dan terpaksa harus beraktivitas di pagi hari, setelah bertahun-tahun Sally tak bisa melanjutkan tidurnya karena harus mengendarai sepeda semasa sekolah.
Bus berhenti sejenak di halte selanjutnya setelah beberapa kilometer dilewatinya. Naiklah seorang laki-laki bertubuh atletis yang segera mencari bangku yang kosong. Ia fokus kepada tujuannya, tetapi pandangannya terhenti ketika melihat seorang gadis manis yang sedang terlelap. Pandangannya berubah menjadi tak karuan seakan kehilangan kefokusannya, perasaannya pun menjadi nano-nano. Ia duduk di bangku yang kebetulan kosong untuk menetralkan perasaannya yang canggung.
“Kenapa dia ada disana? Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Seharusnya Sally sudah lenyap dari pandangan dan pikiranku.” Gumam Revan yang sedang bergejolak hatinya.
Sally selalu bangun tepat waktu dari tidurnya sebelum halte tujuannya terlewati. Ia terbangun dan bergegas turun halte sudah tak jauh lagi.
“Huh! Sampai juga. Selamat pagi Jakarta Hospital! Sekarang langit sudah kembali cerah. Aku siap melayani pasien hari ini.” Sapa Sally kepada rumah sakit tempat ia bekerja yang berada di seberang halte tempat ia bekerja.
***
            Revan yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke Sally, menyadari bahwa Sally sudah turun di halte sebelumnya. Ia cukup lega karena ia tak harus bersembunyi dari gadis yang membuatnya menjadi tak karuan.
Dilihatnya handphone Sally yang masih tergeletak di bangku bus, lalu Revan segera mengambilnya sebelum ada orang jahat yang berniat untuk mencuri handphone itu.
“Orang ini memang tidak pernah pintar, bodohnya masih dipelihara bertahun-tahun. Bisa-bisanya dia lupa dengan handphone-nya sendiri.” Ketus Revan yang masih bimbang harus segera mengembalikan handphone Sally atau menundanya sampai kapan ia tak tahu.
Revan membuka handphone Sally yang tak berpassword itu. “Sejak dulu rasa percaya dirinya memang sangat tinggi, buktinya ia menjadikan foto dirinya sendiri sebagai wallpaper handphone-nya. “ Gumam Revan yang hanya sedikit tertawa melihatnya handphone Sally
Revan mencari apapun mengenai Sally, ternyata Revan menemukan sebuah tulisan di memo handphone Sally, yaitu alamat  tempat Sally bekerja.

My Office : Jakarta Hospital, Jakarta Barat.
“Bukankah itu nama rumah sakit yang cukup besar dan terkenal? Si bodoh itu bekerja di rumah sakit sebesar itu? Apakah dia seorang perawat disana? Ah! Tidak mungkin, pasti dia hanya menjadi cleaning service.” Revan yang selalu berpikiran negatif tentang Sally.
Akhirnya Revan memutuskan untuk mengembalikan handphone Sally sekarang, karena ia sudah tak mau berurusan lagi dengan apapun tentang Sally.
Revan segera turun dari bus dan memilih untuk berjalan saja karena tidak begitu jauh dari rumah sakit. Ia memasuki rumah sakit dengan memegang handphone Sally yang berwarna biru dan masih ragu dengan tindakannya sejauh ini.
Rupanya Revan masih tak mau berhadapan langsung dengan Sally dan memilih untuk menitipkannya pada resepsionis di rumah sakit tersebut. Revan segera pergi menuju tempat tujuan utamanya, yaitu kantor TOP Tv.
***
Waktu menunjukan pukul 7 malam, Sally telah menyelesaikan tugas-tugasnya hari ini dan bersiap-siap untuk pulang. Ruang demi ruang, lantai demi lantai ia lewati untuk keluar dari rumah sakit dan kembali pulang.
“Hei, Sally! Ini handphone-mu bukan?” Tegur Vivi, seorang resepsionis yang sudah menjadi teman akrab Sally.
“Ya Tuhan! Benar, itu handphone-ku yang tertinggal di bus tadi pagi. Lho, bagaimana bisa ada di Mbak Vivi, ya? Hahaha...” Sally terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Tadi pagi ada seorang laki-laki tampan yang menitipkan handphone kamu ini.”
“Oh begitu, ya, Mbak. Baik sekali orang itu. Hmm..aku pulang duluan ya! Terimakasih, Mbak Vivi.” Sally yang tampak bersemangat setelah mendapatkan handphone nya kembali.

Hari ini Sally pulang larut malam, ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang diberikan ibunya. Ruang tamu tampak gelap, sepertinya ibu Sally  sudah terlelap di kamarnya.
“Akhirnya sampai juga dirumah, ingin rasanya aku merelaksasikan tubuhku dengan air hangat dan merebahkan diri di kasur sempitku, lalu terlelap dalam mimpi indah. Tapi aku rasa semua itu tak mungkin terjadi, semua itu terkalahkan oleh rasa takutku.” Ungkap Sally.
Dari kecil Sally memang pengecut, ditambah harus merebus air untuk mandi di malam hari sendirian di dapur. Akhirnya Sally mandi dengan air yang membuatnya menggigil.
“Brrr! Dingin sekali!” Sally menggigil kedinginan dan segera membaringkan badannya di kasur.
Rasa kantuk seakan belum menjamahi matanya, tiba-tiba Sally terpikirkan sesuatu. “Siapa ya orang baik hati yang mengembalikan handphone-ku? Kata Mbak Vivi, orangnya laki-laki. Tapi, siapa ya?”
...........
 “Apa jangan-jangan Revan? Ah! Tidak mungkin. Aku dan dia sudah berbeda dunia.” Tanda tanya di otak Sally menjadi semakin besar.
“Revan. Nama itu tiba-tiba muncul di pikiranku. Entah, aku pun tak mengerti. Dia yang dulu adalah teman yang paling tak beraturan sifatnya. Dia pelit, menyebalkan, hobinya marah-marah, dan kasar. Tapi, aku yakin sampai sekarang ia pasti masih seperti itu dan takkan pernah berubah. Itulah yang paling kurindukan sejak kelulusan SMA hingga sekarang.”
Kata hati Sally.
Seperti biasa, setiap malam bintang selalu menemani sang rembulan seakan membuat Sally iri dengan kebersamaannya. Sally yang selalu sendiri tanpa ada yang menghiburnya, selalu tenggelam dalam masa lalu yang diharapkannya dapat kembali dirasakannya. Seolah menciptakan senyuman penetral kesedihan yang Sally lakukan untuk menjalani hari-harinya supaya lebih berwarna.
“Dibawah langit yang bertabur bintang ini aku kembali memutar kenangan kita. Kenangan yang seharusnya tak pernah ku ingat lagi. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba datang menghantui pikiranku. Dan kenangan inilah yang membuatku menyayangi mu dengan segala perbedaan diantara kita.
Katanya, perbedaan itu indah. Katanya, perbedaan itu dapat disatukan dengan rasa saling melengkapi. Aku rasa semua itu salah. Perbedaan itu menjadi jurang pemisah, perbedaan benar-benar terasa nyata diantara kita.
Lalu, biarkanlah aku beristirahat. Karena aku lelah harus dihantui rasa bersalahku yang tak kunjung usai.” Ucap Sally sambil menatap langit malam.

Akankah Tuhan akan mempertemukan mereka kembali? Kalau iya, seperti apa cara Tuhan mempertemukannya?
So, stay tune saja yaa hanya di silmyhwang.blogspot.com